Suara.com - Nama Gustika Jusuf Hatta menjadi perhatian publik setelah aksinya di Istana Negara pada perayaan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2025. Cucu Proklamator Bung Hatta ini secara simbolis mengenakan kebaya hitam yang dipadukan dengan kain batik slobog, sebuah busana yang identik dengan suasana berkabung, sebagai bentuk kritik tajam terhadap kondisi pemerintahan saat ini.
Namun, keberanian Gustika bukanlah hal baru. Jauh sebelum aksinya di Istana, ia telah menorehkan jejak sebagai salah satu figur muda yang paling vokal dan berani menantang kebijakan pemerintah, bahkan sampai ke meja hijau.
Pada 2022, Gustika menjadi salah satu motor penggerak koalisi masyarakat sipil yang menggugat Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.
Gugatan yang dilayangkan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta itu bukan perkara sepele. Bersama Yayasan Perludem dan beberapa individu lain, Gustika mempersoalkan proses pengangkatan 88 Penjabat (Pj) Kepala Daerah yang dinilai cacat prosedur dan berpotensi disalahgunakan.
Dalam petitum gugatan bernomor 422/G/TF/2022/PTUN.JKT, mereka menyoroti tidak adanya peraturan pelaksana yang jelas sebagai landasan hukum pengangkatan para Pj tersebut. Mereka menuding tindakan pemerintah berpotensi mengandung unsur penyalahgunaan kekuasaan.
"Menyatakan tindakan pemerintahan yang dilakukan Tergugat I dan Tergugat II berupa melakukan serangkaian tindakan mengangkat dan melantik 88 Pj (Penjabat) Kepala Daerah: Pj Gubernur Provinsi sebanyak 7 orang, Pj Walikota sebanyak 16 orang, dan Pj Bupati sebanyak 65 orang selama kurun waktu sejak 12 Mei 2022 sampai dengan 25 November 2022 yang berpotensi mengandung unsur penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power)," demikian bunyi salah satu poin dalam petitum gugatan tersebut.
Lebih jauh, Gustika dan para penggugat lainnya menuntut agar pelantikan puluhan Pj Kepala Daerah itu dinyatakan batal demi hukum karena dilakukan tanpa payung hukum yang memadai.
"Menyatakan batal atau tidak sahnya tindakan Tergugat I dan Tergugat II dalam pengangkatan dan pelantikan 88 Pj (Penjabat) Kepala Daerah... yang mengandung unsur penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) dan konflik kepentingan," tulis gugatan itu.
Sikap kritis Gustika bukanlah tanpa dasar. Lahir pada 19 Januari 1994, ia tumbuh dalam keluarga yang kental dengan nilai-nilai kebangsaan. Namun, ia membangun reputasinya sendiri melalui jalur akademis dan aktivisme yang mentereng.
Baca Juga: Pendidikan Gustika Hatta, Pantas Berani Sebut Indonesia Dipimpin Penculik dan Anak Haram Konstitusi
Ia adalah lulusan Bachelor of Arts (Hons) bidang War Studies dari King’s College London dan saat ini tengah menempuh pendidikan Master di Geneva Academy of International Humanitarian Law and Human Rights.
Rekam jejaknya di kancah internasional pun tak bisa dipandang sebelah mata. Sejak remaja, ia sudah aktif sebagai delegasi muda di forum PBB seperti UNFCCC di Doha dan UNESCO Youth Forum.
Pengalamannya sebagai peneliti di Imparsial, sebuah lembaga pemantau HAM, semakin mengasah ketajamannya dalam menganalisis isu-isu reformasi sektor keamanan, kekerasan politik, hingga isu Papua.
Dengan latar belakang sebagai peneliti HAM dan akademisi hukum internasional, Gustika Fardani Jusuf telah membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar cucu seorang proklamator. Ia adalah intelektual muda yang tak ragu menggunakan pengetahuannya untuk mengawasi jalannya kekuasaan dan menyuarakan kegelisahan publik, baik melalui gugatan hukum maupun lewat pilihan busana yang sarat akan makna.
Berita Terkait
-
Pendidikan Gustika Hatta, Pantas Berani Sebut Indonesia Dipimpin Penculik dan Anak Haram Konstitusi
-
Siapa Gustika Hatta? Sindir Anak Haram Konstitusi di HUT RI: Berjoget di Atas Penderitaan Rakyat!
-
Gustika Hatta: Indonesia Kini Dipimpin Presiden Penculik dan Wakil "Anak Haram Konstitusi"
-
Kebaya Hitam dan Batik Slobog, Makna Mendalam di Balik Pilihan Cucu Bung Hatta di HUT ke-80 RI
-
Profil Gustika Jusuf Hatta, Cucu Bung Hatta Kritik Pemerintah Saat Hadiri Upacara 17 Agustus
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 2 Juli 2026, Ada Kuda hingga Anjing
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Korban Penyekapan 3 Tahun Bakal Jalani Operasi Bertahap, Begini Kondisinya Kini
-
Bayar Rp200 Ribu Sebulan Bisa Naik Transjakarta Setiap Hari? Begini Skemanya
-
PBNU Masih Survei Lokasi Muktamar ke-35 NU, Persiapan Teknis Terus Dikebut
-
'Daripada Liburan Mending Melawan', Ibu-ibu di Jogja Geruduk Bundaran UGM Gugat Kebijakan Korup
-
Dalami Amplop dari Bupati Kuansing, KPK Buka Peluang Periksa Menhut Raja Juli
-
PLN Klaim Pemadaman Listrik di Kalbar Bukan karena Krisis Batu Bara, Ini Penyebabnya
-
Said Iqbal Beri Deadline Disnakertransgi DKI, Senin Harus Ada Keputusan Soal Kasus Mau Print
-
Pengusaha Kalbar Rugi Akibat Listrik Padam, DPRD Desak PLN Lebih Terbuka
-
PLN Sebut Bukan Karena Batu Bara, DPRD Minta Penyebab Pemadaman Listrik di Kalbar Dibuka ke Publik
-
PAN Tegaskan Kasus Syah Afandin Bukan 'Dosa' Partai: Itu Tanggung Jawab Pribadi!