Suara.com - Paradoks yang signifikan terungkap dari hasil survei terbaru Indonesian Social Survey (ISS) mengenai kualitas hidup masyarakat Indonesia.
Pasalnya, di tengah kondisi kesejahteraan ekonomi rumah tangga yang dinilai paling rapuh, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah justru tercatat sangat tinggi.
Lembaga survei tersebut merilis temuan bahwa secara umum, kualitas hidup masyarakat Indonesia berada pada level 'cukup baik', namun dengan ketimpangan mencolok pada aspek ekonomi personal.
"Hasilnya, indeks kualitas hidup Indonesia berada di angka 65 dari 100—kategori “cukup baik," kata Direktur Eksekutif ISS, Whinda Yustisia, dalam paparan resminya di Jakarta, Kamis (20/8/2025).
Survei ini dilaksanakan secara nasional pada Juli 2025, menjangkau 2.200 responden di 38 provinsi.
Metodologi yang digunakan adalah multistage random sampling dengan confidence interval 95 persen dan margin of error (MoE) sebesar 2,5 persen.
Ekonomi Rumah Tangga Titik Terlemah
Analisis mendalam terhadap tujuh aspek kualitas hidup menunjukkan bahwa sektor ekonomi menjadi tantangan terbesar bagi masyarakat.
Berikut rincian skor dari setiap aspek yang diukur:
Baca Juga: Riset Ungkap Konten Paling Disukai Orang Indonesia 2025, Tak Lagi Gosip dan Politik
- Keamanan: 72,3
- Rasa Percaya Sosial-Institusi: 70,2
- Kesehatan: 70,1
- Partisipasi Politik: 69,7
- Kesejahteraan Psikologis: 67,3
- Kualitas Lingkungan: 62,9
- Kesejahteraan Ekonomi: 42,6
Skor kesejahteraan ekonomi yang hanya mencapai 42,6 menjadi yang terendah secara absolut, menandakan kerapuhan finansial di tingkat rumah tangga.
"Hasil ini menegaskan, orang Indonesia merasa cukup bahagia, aman, sehat, dan punya kepercayaan terhadap sesama maupun institusi negara. Tapi di balik itu, ekonomi rumah tangga tampak paling rapuh, skornya 42,6 terendah dari semua aspek," kata Whinda.
Ironisnya, di tengah kerapuhan ekonomi tersebut, survei ISS juga menemukan tingkat kepuasan terhadap kinerja pemerintah yang mencapai 78 persen.
Angka yang tinggi ini memunculkan pertanyaan tentang apa yang sebenarnya menjadi pendorong utama persepsi positif publik.
Whinda menjelaskan bahwa kepuasan tersebut tidak berkorelasi langsung dengan kondisi dompet masyarakat.
Dari 39 indikator kualitas hidup yang diuji, hanya 8 indikator yang secara signifikan menjelaskan tingginya kepuasan publik, dan sebagian besar bersifat non-ekonomi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- 5 HP Infinix Kamera Bagus dan RAM Besar, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- 5 HP Samsung Kamera Bagus dan RAM Besar, Pas buat Multitasking
Pilihan
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
Terkini
-
Rentetan OTT Kepala Daerah, Tito Sebut Ada Masalah Mendasar dalam Rekrutmen Pilkada
-
Mendagri Sentil Daerah yang Ragu Soal WFH ASN: Ini Bukan Opsional!
-
Ibu dan Anak Tewas Terlindas Bus AKAP di Depan Terminal Kampung Rambutan
-
Jubir Buka Peluang JK Dialog soal Laporan Dugaan Penistaan Agama
-
Tak Semua Penghijauan Berdampak Positif, Studi Ungkap Ancaman di Balik Penanaman Pohon Massal
-
Jejak Gelap Aep Saepudin: Sosok Pendiam di Rancaekek yang Jadi Broker Senpi Ilegal Ki Bedil
-
Esra Erkomay: Deteksi Dini Harus Jadi Budaya Agar Kanker di Indonesia Bukan Lagi Vonis Mati
-
Pramono Sebut Parpol Bisa Beli Nama Halte, NasDem Langsung Incar Naming Rights Gondangdia
-
Nekat Foto di Jalur Maut Sitinjau Lauik, Rombongan Arteria Dahlan Bikin Polisi Kena Getahnya!
-
Operasi Imigrasi Sapu Bersih, 346 WNA Diciduk dalam 5 Hari