- Sri Mulyani sebelumnya menjadi target kemarahan publik karena kebijakan fiskal yang dianggap memberatkan rakyat,
- Pencopotan Sri Mulyani memunculkan narasi viral bahwa ia ibarat “karyawan terbaik yang dipecat karena bos punya target tak realistis.”
- Fenomena simpati terhadap Sri Mulyani mencerminkan “The Underdog Effect”:
Suara.com - Roda nasib berputar begitu cepat di panggung politik Indonesia. Sri Mulyani Indrawati, sosok yang beberapa waktu lalu menjadi salah satu target utama kemarahan publik, yang puncaknya hingga rumahnya dijarah lalu kini justru mengalami pembalikan nasib yang dramatis.
Setelah resmi dicopot dari kursi Menteri Keuangan oleh Presiden Prabowo Subianto, ia kini dibanjiri gelombang simpati yang luar biasa. Fenomena "dari musuh menjadi pahlawan" ini sontak menjadi perbincangan di media sosial.
Apa sebenarnya yang menyebabkan persepsi publik bisa berbalik 180 derajat dalam waktu yang begitu singkat?
1. Dulu: Dimusuhi
Mari kita putar waktu sejenak. Belum lama ini, nama Sri Mulyani identik dengan kebijakan-kebijakan yang dianggap tidak pro-rakyat. Kenaikan cukai, reformasi pajak, dan persepsi bahwa ia adalah bagian dari elite yang abai terhadap kesulitan rakyat membuatnya menjadi sasaran empuk kemarahan.
Puncak dari kebencian ini adalah saat rumahnya menjadi sasaran aksi penjarahan, sebuah tindakan ekstrem yang menunjukkan betapa dalamnya rasa frustrasi publik terhadapnya. Saat itu, hanya sedikit yang membelanya.
2. Kini: Simbol Profesionalisme yang "Dikorbankan"
Semuanya berubah pada hari ia dicopot. Momen pencopotannya langsung melahirkan sebuah narasi baru yang sangat kuat di benak publik: Sri Mulyani bukanlah penjahat, melainkan korban.
Narasi yang paling viral adalah analogi "karyawan terbaik yang di-layoff karena bosnya punya target yang tidak realistis." Dalam narasi ini:
Baca Juga: Intip Isi Garasi Menkeu Baru Purbaya Yudhi Sadewa dari Toyota Alphard Sampai Mercedes-Benz
Sri Mulyani dilihat sebagai seorang profesional berintegritas yang mencoba menjaga "kesehatan keuangan" negara (APBN).
Pemerintahan baru dilihat sebagai "bos" dengan program-program ambisius (seperti makan siang gratis) yang dianggap tidak "napak tanah" dan berisiko membahayakan anggaran negara.
Pencopotannya dianggap sebagai bukti bahwa ia menolak untuk berkompromi dengan kebijakan yang ia anggap salah, dan karena itu ia "dibuang".
3. Psikologi di Balik Simpati: Efek "The Underdog"
Perubahan sikap publik ini adalah contoh klasik dari Efek Underdog (The Underdog Effect). Ketika seorang figur yang kuat dan berkuasa tiba-tiba jatuh atau "dizalimi" oleh kekuatan yang lebih besar, persepsi publik secara alami akan bergeser dari benci menjadi simpati.
Sri Mulyani, yang tadinya dilihat sebagai bagian dari "penguasa yang menindas", kini dilihat sebagai "korban dari sistem kekuasaan yang baru." Publik kini melihatnya sebagai sosok yang sendirian berjuang mempertahankan prinsip di tengah pragmatisme politik, dan akhirnya kalah.
Berita Terkait
-
Intip Isi Garasi Menkeu Baru Purbaya Yudhi Sadewa dari Toyota Alphard Sampai Mercedes-Benz
-
Adu Aset Properti Menkeu Purbaya vs Sri Mulyani, Keduanya Tersebar di Berbagai Kota
-
Gantikan Sri Mulyani, Menkeu Purbaya Langsung Gebrak: Saya Tak akan Bikin Kebijakan Aneh-aneh
-
Momen Haru Sri Mulyani Pamit dari Kemenkeu, Minta Maaf ke Seluruh Rakyat Indonesia
-
Mahasiswa Soroti Pernyataan 'Kontroversi' Menkeu Purbaya: Baru Satu Hari Jabat Langsung Mengecewakan
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Batas Penghasilan MBR Rp8 Juta Tak Cukup, Pemerintah Harus Tekan Biaya Hidup
-
Ucapan 'Adikku Sayang' Berujung Penganiayaan Caddy Golf, Pelaku Dibekuk di Lampung
-
Open House Sekolah Rakyat Surabaya, Orang Tua Terharu Lihat Perkembangan Siswa
-
1 Tahun Sekolah Rakyat, Wamensos: Alhamdulillah Cukup Berhasil
-
Bukan Sekadar Kunjungan Biasa, Jokowi Ungkap Alasan Hadiri Rakorda PSI di Lampung
-
Penandaan APBD 2027: Langkah Strategis Kemendagri Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
-
Mendagri: Parade Tenun Belu Jaga Warisan Budaya dan Gerakkan Ekonomi Daerah
-
Dampak Mengerikan Gempa Venezuela, Korban Tewas Bertambah Jadi 589 Orang
-
Bocoran Jokowi untuk Pemilu 2029: Ungkap Alasan PSI Layak Lolos ke Parlemen
-
Dittipideksus Bareskrim dan Kortastipidkor Sinkronkan Penyidikan Kasus PT TSL