Suara.com - Aktivis dari Perempuan Mahardhika, Jihan Faatihah, mengecam kriminalisasi terhadap sejumlah aktivis, termasuk Direktur Lokataru Delpedro Marhaen. Menurutnya, penangkapan ini merupakan siasat rezim untuk mengaburkan persoalan sesungguhnya, seperti kekerasan negara dan kemiskinan, serta upaya sistematis untuk memukul mundur budaya protes.
Dalam konferensi pers Gerakan Muda Lawan Kriminalisasi di Kantor YLBHI, Jakarta, Kamis (11/9/2025), Jihan menuduh tindakan rezim dan kepolisian ini sebagai upaya pengalihan isu.
"Tindakan... menjadikan kawan-kawan kami sebagai tersangka adalah upaya untuk mengaburkan persoalan sesungguhnya: persoalan kekerasan negara, persoalan kemiskinan yang menjerat rakyat, terutama angkatan muda," tegas Jihan.
Ia membantah adanya provokator dalam aksi unjuk rasa pada 25-31 Agustus lalu. Sebaliknya, ia melihat adanya upaya sistematis untuk menekan protes.
"Yang ada hanyalah upaya sistematis untuk memukul mundur budaya protes dari rezim militeristik Prabowo-Subianto," ujarnya.
Ancaman Terhadap Budaya Protes dan Demokrasi
Jihan menegaskan bahwa penangkapan Delpedro Marhaen, Muzaffar Salim, Syahdan Husein, dan aktivis lainnya bukan sekadar persoalan individu, melainkan serangan yang lebih luas terhadap demokrasi.
Menurutnya, tindakan ini mengancam perlindungan bagi para pembela HAM, menggerus hak sipil dan politik anak muda, serta meruntuhkan budaya protes yang menjadi bagian dari demokrasi.
Ia kemudian menyoroti kontras antara penangkapan aktivis dengan kasus kekerasan yang belum tuntas.
Baca Juga: Dijenguk Yusril di Penjara, Delpedro Marhaen Merasa Jadi Korban Kriminalisasi
"Ketika budaya protes dijadikan sebagai tindak kriminal, lihatlah kenyataannya: Affan tewas dilindas oleh aparat. Aktivis muda yang menolak geothermal saat ini mati terbunuh. Dan banyak ribuan pelajar yang luka-luka dan saat ini masih di dalam tahanan," pungkas Jihan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Kasus Bupati Kuansing
- Polisi Telusuri Jejak Hotman Paris di Balik Kematian Tak Wajar Pengacara Rocky Martin
Pilihan
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Terkini
-
Piala Presiden 2026: Gol Bunuh Diri Konyol Nodai Debut Shin Tae-yong
-
ICCS 2026: Dorong Konten Kreator Tak Hanya Berdiskusi, tapi Langsung Berkarya
-
Notarace 2026: Gaya Hidup Sehat Menjadi Momen Silaturahmi Ribuan Notaris
-
Rehabilitasi Mangrove Berkelanjutan, 21.060 Bibit Ditanam di Pesisir Jakarta
-
Pembalut Kain Makin Dilirik, WCC Palembang Kenalkan Cindo-Pads untuk Menstruasi Sehat
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Dari Parenting hingga Drone, Dua Kreator Ungkap Pesona Pesisir Jakarta
-
Merawat Nyala Wayang Palembang, Warisan Kesultanan yang Menjadi Ruang Belajar Generasi Muda
-
Promo Spesial BRI, Makan Enak di Ramen Girl Dapat Potongan Harga!
-
Usut Bentrokan Menteng, Polisi Dalami Peran 15 Orang yang Diamankan