-
Demokrasi Indonesia dinilai defisit nilai sipil (civilian value), sehingga rawan dikuasai politik demagog yang pandai bicara tapi miskin karya.
-
Mahfud MD menekankan pentingnya masyarakat sipil dan prosedur konstitusional dalam mengawal jalannya demokrasi.
-
Rocky Gerung menyoroti perlunya akal sehat dan intelektualitas sebagai fondasi politik, mengingatkan bahwa jabatan presiden tiga periode bertentangan dengan common sense dan konstitusi.
Suara.com - Demokrasi sejatinya dibangun di atas nilai-nilai sipil yang kuat dan akal sehat, bukan sekadar kepentingan politik semata. Namun, saat ini Indonesia tengah menghadapi tantangan serius karena defisit civilian value yang membuat politik rentan dikuasai kaum demagog.
Inilah isi diskusi antara Mahfud MD, Mantan Menteri Politik dan Keamanan Indonesia, bersama dengan Rocky Gerung.
“Dalam demokrasi, orang sipil maupun orang militer harus tunduk pada civilian value. Jadi yang mesti supreme itu bukan orang sipilnya, tapi nilai sipilnya,” terang Mahfud.
Rocky Gerung menambahkan, saat ini Indonesia justru mengalami defisit civilian value dan mulai terjebak dalam budaya politik yang feodal serta militeristik.
“Kita mulai membaca bahwa memang elit kita itu lebih ingin dikendalikan oleh feodalisme daripada demokrasi. Karena mereka menganggap masyarakatnya feodal,” ungkap Rocky dalam Podcast Ruang Sahabat Mahfud MD Official, Selasa (23/9/2025).
Mahfud juga membandingkan gaya kepemimpinan dua presiden yang pernah ia dampingi. Menurutnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) cenderung lebih konstitusional dan demokratis dalam mengambil keputusan.
“Pak SBY itu selalu tampak demokratis, dan apapun tetap koridornya itu konstitusi,” ujar Mahfud.
Sementara itu, Jokowi disebut masih membuka ruang diskusi dalam rapat kabinet, tetapi lingkaran dalamnya cenderung feodal.
“Pak Jokowi memberi pengarahan, lalu tanya satu-satu, tetap ada prosedur mendengar. Tapi selama dia di atas, kendalinya kuat terhadap situasi itu,” jelas Mahfud.
Baca Juga: Rocky Gerung 'Sentil' Prabowo, Sebut Pengangkatan Qodari Blunder Besar: Sinyal Ingin Tiga Periode?
Rocky menilai Jokowi awalnya tidak memahami demokrasi secara mendalam dan lebih banyak belajar dalam proses pemerintahannya.
“SBY menganggap bahwa demokrasi itu memang bising. Tetapi Pak Jokowi mengerti demokrasi karena diterangkan oleh Pak Mahfud. Dari awal dia nggak paham itu,” tutur Rocky.
Filsuf ini juga mengungkapkan pentingnya akal sehat atau common sense dalam kehidupan politik, terutama untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan.
“Common sense itu semacam reaksi intuisi dari seseorang yang melihat bahwa ada potensi penyalahgunaan kekuasaan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa jabatan presiden tiga periode tidak sesuai dengan konstitusi maupun akal sehat.
“Buat tiga periode tidak diatur di konstitusi. Jadi bukan karena tidak diatur maka dia boleh. Tetapi justru itu bertentangan dengan common sense,” jelas Rocky.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
PAM Jaya Siapkan Ribuan Toren Gratis, Warga Jakarta Diminta Tak Tunggu Kemarau Datang
-
Kerry Dibebani Rp13,4 Triliun, Pengacara Sebut Hakim Pakai Analisis LSM yang Tak Berwenang
-
Putusan Banding Dianggap Janggal, Kerry Riza Ajukan Kasasi ke MA
-
Kepercayaan Polri Tembus 82,4 Persen, Habiburokhman: Jangan Puas Diri, Terus Berbenah
-
Prabowo Tanya Akademisi: Kenapa 81 Tahun RI Tidak Bisa Bikin Mobil Buatan Sendiri?
-
Sikat Parkir Liar di Cawang, 250 Personel Gabungan Derek Mobil yang Nekat Bandel!
-
Perempuan Didorong Jadi Aktor Utama Ekonomi Restoratif, Tak Lagi Sekadar Penerima Manfaat
-
Terkuak! Ini Pemicu Longsor Petamburan: Dari Abrasi Kali BKB hingga Bangunan di Sempadan
-
Sekjen Partai Buruh Ferri Nuzarli Mundur! 1,3 Juta Anggota ORI Kompak Tinggalkan Partai
-
Prabowo Singgung Kegaduhan Usai Pemilu, Istana Langsung Klarifikasi