- Jessica mengetahui G30S/PKI sebagai gerakan tahun 1965 yang diwarnai upaya kudeta.
- Para siswa merasa pembelajaran G30S/PKI di sekolah masih terbilang kurang mendalam.
- Ryanira menuturkan, bahwa dari pelajaran yang didapat di sekolah hanya menceritakan kronologi dari kejadian G30S/PKI.
Menariknya, ia menyadari adanya peran propaganda yang dimainkan pemerintah Orde Baru di masa lalu, sebuah kesadaran yang juga diungkapkan oleh gurunya.
“Guruku juga sempat bilang kalau dulu peristiwa ini dipakai sebagai propaganda pemerintah Orde Baru lewat film yang diputar tiap tahun,” katanya.
Film Pengkhianatan G30S/PKI besutan Arifin C. Noer memang menjadi sumber informasi kedua terbanyak bagi anak muda setelah buku pelajaran.
Pada masa Orde Baru, film ini menjadi tontonan wajib tahunan yang efektif menanamkan narasi tunggal versi pemerintah.
Namun, bagi Gen Z, film tersebut kini ditonton dengan kacamata yang lebih kritis, bahkan menjadi objek diskusi dan candaan di media sosial.
Kesadaran akan adanya versi sejarah lain membuat peristiwa ini semakin menarik bagi mereka.
Rahmadani Al-qowiyyu Nabilah, siswi lainnya, bahkan menyinggung adanya teori konspirasi yang melibatkan Soeharto, yang tidak pernah ia dapatkan dari buku teks resmi.
“Beberapa sumber menyebutkan bahwa ada versi sejarah G30S/PKI yang berbeda dari yang diajarkan di sekolah. Beberapa teori konspirasi menyebutkan bahwa Soeharto mungkin terlibat dalam perencanaan peristiwa tersebut untuk merebut kekuasaan dari Soekarno,” ungkap Rahmadani.
Hal ini sejalan dengan pandangan generasi muda lainnya yang merasa perlu ada pembahasan dari sudut pandang lain, termasuk dari sisi komunisme itu sendiri, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif.
Baca Juga: Futsal dan Leadership Skills Gen Z
Daya Tarik Misteri
Bagi Gen Z, G30S/PKI bukan hanya tentang masa lalu. Ryanira melihat daya tariknya pada misteri yang belum terpecahkan.
"Ceritanya masih banyak versi, masih misteri siapa dalang dibalik semua ini, dan pengaruhnya ke politik sekarang tuh masih kerasa banget, kayak misalnya kalo ada perbedaan pendapat pasti dituduh jadi komunis dan lain-lain," jelasnya.
Stigma komunis yang masih kerap digunakan sebagai senjata politik hingga hari ini menjadi bukti nyata bahwa dampak peristiwa 1965 belum sepenuhnya usai.
Sementara di lain sisi, Nha Ryanti lebih tertarik pada aspek media dan pembentukan opini publik.
“Sebagai Generasi muda atau Gen Z, aku tertarik bagaimana media waktu itu dipakai untuk mengatur cara orang melihat sejarah, soalnya beda banget sama sekarang yang infonya bisa lebih terbuka lewat internet,” ujarnya.
Sementara itu, Rahmadani mencoba berempati dengan kaum muda di era tersebut.
“Sebagai Gen Z, aku lebih tertarik ke gimana sih anak muda zaman dulu ngalamin situasi politik yang segenting itu, soalnya pasti hidup mereka berubah total kan."
Pandangan para siswi ini menunjukkan sebuah pergeseran fundamental. Gen Z tidak lagi pasif menerima sejarah.
Dengan akses informasi yang tak terbatas, mereka aktif mempertanyakan, membandingkan, dan membentuk pemahaman mereka sendiri, mengubah catatan kelam sejarah bangsa menjadi sebuah diskursus yang hidup dan relevan hingga kini.
Berita Terkait
-
Download Film G30S/PKI Asli Tanpa Revisi Dimana? Ini Link dan Maknanya di Era Sekarang
-
Dari Curhat Keluarga Sampai Isu Mental Health: Kenapa Gen Z Hobi 'Oversharing' di Medsos?
-
Jangan Kaget! Percaya Gak Kalau Siklus Bahasa Gaul Lebih Singkat dari Umur Pacaranmu?
-
Dari Gamifikasi Hingga Live Streaming: Intip Tren Filantropi Digital yang Digandrungi Gen Z
-
Futsal dan Leadership Skills Gen Z
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
Terkini
-
Menolak Bungkam! Rakyat Kecil di Kota Bogor Tuntut Keadilan Hak Tanah yang Diduga Diserobot
-
Tukang Cukur dan Camat Sudah Minta Maaf, Netizen Masih Buru Pelaku Perekam Video Viral
-
Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan
-
Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan
-
Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan
-
BRI Perluas Akses Pembiayaan KUR Petani di Bengkayang Guna Swasembada Pangan
-
Retribusi Melempem, Benyamin Davnie Bentuk Perseroda 'Citra Anggrek Mandiri' Kelola Pasar Tangsel
-
Geledah Jateng-Jatim, KPK Cari Bukti untuk Tetapkan Tersangka Baru dalam Kasus Suap Pajak
-
Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen Polri, Bahas Persoalan Pupuk Subsidi
-
Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Pemkot Bandung Tertibkan Bangunan Liar di Jalan Rajawali