-
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuai kritik tajam dari kelompok masyarakat, termasuk Suara Ibu Peduli MBG, yang menilai pelaksanaannya justru membahayakan anak-anak.
-
Data JPPI mencatat lebih dari 8.600 anak di 16 provinsi mengalami keracunan akibat konsumsi makanan MBG, sementara aksi protes di Monas menuntut evaluasi total program.
-
Para ibu-ibu mendesak pemerintah agar fokus pada kualitas, keselamatan, serta penyaluran yang transparan dan adil bagi keluarga miskin.
Suara.com - Makan Bergizi Gratis (MBG), menuai kecaman keras dari berbagai elemen masyarakat, yang menilai pelaksanaannya justru membahayakan anak-anak.
Salah satu kelompok yang paling lantang bersuara, Suara Ibu Peduli Makan Bergizi Gratis, menilai program yang seharusnya mulia ini telah bergeser dari tujuan aslinya.
Dalam aksi gerak warga tolak MBG di kawasan IRTI Monas, Jakarta Pusat, Rabu (1/10/2025), perwakilan Srikandi Indonesia, Rusmarni Rusli, menyoroti kasus keracunan massal yang terjadi di sejumlah wilayah.
"Jangan bungkam suara masyarakat bahwa ada kenyataan 8.000 anak lebih keracunan makanan," tegas Rusmarni.
Menurut data yang dikumpulkan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) hingga 27 September 2025, tercatat 8.649 anak di 16 provinsi mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.
Para peserta aksi membentangkan poster-poster bernada protes keras, di antaranya berbunyi: "Korban bukan angka! 1 korban = 1 nyawa," dan "Ayah Ibu, Aku diracun MBG," hingga sebutan pedas "Makan Beracun Gratis."
Kritik utama kelompok ini adalah bahwa pemerintah terlalu terfokus pada angka, persentase, dan formalitas seremonial, tanpa mengutamakan kualitas makanan dan keselamatan anak.
"Makan Bergizi Gratis telah bergeser dari program menjadi sekedar proyek," ungkap Rusmarni Rusli.
Ia juga menanggapi pernyataan pemerintah yang menganggap kasus keracunan sebagai persentase kecil.
Baca Juga: Krisis Keracunan MBG, Ahli Gizi Ungkap 'Cacat Fatal' di Dalam Struktur BGN
"Jangan hanya bilang 0,0017% itu hanya sekadar angka, statistik. Tapi itu adalah manusia. Itulah ada anak Indonesia,” kecamnya.
Rusmarni menekankan bahwa setiap anak sangat berharga.
"Satu anak sangat berharga. Siapa tahu calon dari salah satu anak yang keracunan itu adalah calon presiden,” imbuhnya.
Lima Tuntutan: Penyaluran Tunai dan Prioritas Keluarga Miskin
Dalam aksinya, kelompok masyarakat ini menyampaikan lima tuntutan mendasar kepada pemerintah:
- Evaluasi total program MBG karena pada akhirya, yang paling penting bukan sekadar angka, melainkan kualitas dan tanggung jawab nyata pemerintah.
- Penyaluran MBG dilakukan secara bertahap, dimulai dari keluarga kelas bawah dan menengah.
- Prioritas diberikan kepada keluarga di desa-desa dan kawasan miskin perkotaan yang paling rentan terhadap krisis pangan dan gizi.
- Mekanisme penyaluran tunai kepada orang tua, dilakukan dengan transparan dan akuntabel, dengan melibatkan komunitas, organisasi perempuan, dan masyarakat sipil sebagai pengawas independen.
- Tinjau ulang aspek konstitusi dan HAM Anak bukannya berbasis proyek.
Reporter: Maylaffayza Adinda Hollaoena
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Modal Foto AI Berseragam Polisi, Pria di Bandung Tipu Korban dan Bawa Lari Uang
-
Insentif Guru Ngaji di Bogor Jadi Rp1,2 Juta per Tahun
-
Jaga Gajah Sumatera, Pertamina Kilang Plaju Perkuat Upaya Melestarikan Warisan Alam Sumsel
-
Temukan 1.500 Warga Terjebak Grup LGBT Daring, Pemkab Serang Siapkan Langkah Pembinaan
-
Bank Sumsel Babel dan Unsri Bersinergi Menyiapkan Generasi Pemimpin Masa Depan
-
Havaianas Debut Kitten Heel di Copenhagen Fashion Week
-
Perombakan Buku Sekolah, Solusi Literasi atau Cuma Proyek Bisnis Baru?
-
Filosofi Baru Oscar Bruzon Mulai Menggila, Pemain Bhayangkara FC Dipaksa Beradaptasi
-
Polda DIY Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Pembubaran Ibadah Gereja di Bantul
-
Puji Target Defisit Turun di RAPBN 2027, Habib Idrus Tetap Minta Keberpihakan pada Usaha Kecil