-
Dosen filsafat Augustinus Setyo Wibowo menyebut struktur politik dan sosial Indonesia masih terjebak dalam budaya feodal yang anti-kritik.
-
Ia menyoroti pentingnya demokrasi agonistik, di mana konflik dan perbedaan justru dilembagakan untuk menjaga dinamika demokrasi.
-
Hilangnya oposisi dan semangat reflektif disebut membuat masyarakat kehilangan otonomi berpikir dan melemahkan demokrasi itu sendiri.
Suara.com - Sebuah kritik tajam datang dari dosen Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Augustinus Setyo Wibowo. Ia menilai bahwa struktur politik Indonesia hingga kini masih terjebak dalam logika “feodal”.
Pernyataan itu disampaikan Setyo dalam kuliah terbuka bertajuk “Demokrasi, Agonisme, dan Oposisi Permanen” yang digelar di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat, Senin (6/10/2025).
Menurutnya, hampir seluruh institusi di Indonesia—mulai dari partai politik, kementerian, hingga kampus—masih beroperasi dengan kultur feodal yang berpusat pada patronase dan simbol kekuasaan.
“Kalau mau ngomong demokrasi, semua parpol kita, parpol feodal. Seluruh kementerian kita, mohon maaf, feodal. Lembaga-lembaga kita feodal. Kampus-kampus kita, feodal,” tegasnya.
Setyo kemudian mengutip pemikiran filsuf asal Belgia, Chantal Mouffe, tentang konsep “agonisme” sebagai kerangka untuk memahami demokrasi yang sehat. Dalam demokrasi agonistik, konflik dan perbedaan pendapat bukanlah sesuatu yang harus dihilangkan, melainkan dilembagakan agar tidak menjadi destruktif.
“Demokrasi yang sejati bukanlah tanpa konflik, tapi konflik yang dilembaga dan diatur agar tidak menjadi kekerasan,” jelasnya.
Ia menambahkan, dalam sistem demokrasi agonistik, lawan politik tidak dianggap sebagai musuh yang harus dimusnahkan (antagonisme), melainkan sebagai lawan tanding (adversary) yang legitimasinya diakui.
“Agonisme itu ketika musuh diubah menjadi lawan, sekadar adversary—saling menentang, tapi tetap mengakui legitimasi satu sama lain dalam tantangan demokrasi,” ujar Setyo.
Lebih lanjut, ia menyebut sistem politik dan sosial yang masih feodal melahirkan apa yang disebutnya sebagai “subjek kosong”—individu yang tidak memiliki otonomi dan keberanian untuk berpikir atau berpendapat berbeda.
Baca Juga: Janji Kapolri Sigit Serap Suara Sipil Soal Kerusuhan, Siap Jaga Ruang Demokrasi
“Maka lahirlah subjek yang kosong dalam kegiatan refleksi; dia ada, tapi tidak sadar akan dirinya sebagai berbeda. Dia hidup, tapi tanpa pusat keputusan yang kokoh,” ungkapnya.
Kondisi inilah yang, menurut Setyo, membuat demokrasi agonistik sulit tumbuh di Indonesia. Alih-alih melembagakan perbedaan, sistem politik justru cenderung meniadakan konflik dengan merangkul semua pihak di bawah nama harmoni.
“Dalam situasi Indonesia, di mana konflik diredam atas nama ‘harmoni kosmis’, di mana oposisi tidak ada, bagaimana demokrasi agonistik bisa terjadi? Lawan politik jadi kawan semua, dirangkul semua, selesai,” tutupnya.
Reporter : Nur Saylil Inayah
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Menteri Keuangan Khawatir Kena Gratifikasi Gegara Saweran TikTok? Ini Respons KPK!
-
Motor Dicuri di Depan Rumah, Pemilik Syok Dapat Kabar Baik dari Polsek Tambora Keesokan Harinya
-
DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
-
Sopir Calya Ugal-ugalan Disebut Bersih Zat Adiktif, Polisi Temukan Senpi Mainan, Golok, hingga Badik
-
Respon Keras Menteri PPPA soal Orang Tua Jual Bayi di Medsos: Anak Bukan Komoditas!
-
Kaitan BoP dan Kebijakan Tarif AS: Strategi Pragmatis Presiden Prabowo di Tengah Tekanan Ekonomi
-
Palu dan Amarah Terpendam: Remaja 16 Tahun di Kelapa Gading Habisi Kakak Kandung Gegara Hal Sepele
-
Mahasiswa Serang Mahasisiwi di Pekanbaru Diduga Karena Obsesi, Ini Sosok Terduga Pelaku
-
Gus Ipul: Guru Sekolah Rakyat Harus Profesional, SKP Jadi Kompas Perubahan Siswa
-
KPK Periksa 14 Saksi Terkait Kasus Pemerasan Jabatan Perangkat Desa di Pati