- Kericuhan terjadi dalam kuliah terbuka bertajuk “Demokrasi, Agonisme, dan Oposisi Permanen” ketika seorang peserta menyatakan dukungan untuk Jokowi dan Gibran.
- Pernyataan tersebut memancing reaksi keras dari peserta lain yang menuduh Jokowi merusak demokrasi.
- Dosen filsafat Augustinus Setyo Wibowo berusaha menengahi, menutup pembahasan, dan mengembalikan fokus diskusi pada tema demokrasi.
Suara.com - Kericuhan terjadi di tengah kuliah terbuka bertajuk “Demokrasi, Agonisme, dan Oposisi Permanen” saat salah satu peserta secara terbuka mengaku sebagai pendukung berat mantan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Saya sebenarnya agak ketar-ketir ya, karena saya pendukung berat dari Jokowi dan Wapres Gibran,” ujar peserta bernama Will di sela-sela sesi tanya jawab, Senin (6/10/2025).
Ia menjelaskan, dukungannya didasari pada pandangannya bahwa Jokowi adalah sosok yang meneruskan visi Soekarno.
“Artinya pendukung berat dalam arti, saya melihat Jokowi itu sebagai pengusung visi Soekarno, Trisakti. Inilah yang saya tangkap dari perjuangan Jokowi ketika naik pada tahun 2014,” jelasnya di acara yang digelar di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat.
Will menambahkan, pandangannya mungkin tidak mudah diterima, namun ia meyakini bahwa Jokowi adalah tokoh yang berusaha melanjutkan semangat revolusi.
Namun, pernyataan itu justru memicu reaksi keras dari sejumlah peserta. Beberapa di antaranya langsung menyoraki Will dan melontarkan kritik tajam terhadap pandangannya.
“Jokowi itu perusak demokrasi!” teriak salah satu peserta, disambut serangkaian sanggahan dari peserta lainnya.
Suasana pun sempat memanas dan riuh di ruang acara yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Alumni Driyarkara, Perpustakaan Nasional, dan Suara Ibu Indonesia tersebut.
Melihat situasi tersebut, dosen filsafat sekaligus pembicara acara, Augustinus Setyo Wibowo, ikut menanggapi. Pria yang akrab disapa Romo Setyo ini mengaku sempat menjadi pendukung Jokowi di masa lalu.
Baca Juga: Dari Reformasi Sampai Gen Z: Kisah FODIM, Komunitas Kritis yang Tak Lekang Waktu di Atma Jaya
“Dulu saya mendukung Jokowi, sejak 2010, waktu dia masih di Solo,” ujar dosen Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara itu.
Namun, ia melanjutkan dengan kritik tajam, terutama terhadap isu nepotisme dan dugaan pelemahan konstitusi yang menurutnya terjadi di akhir masa jabatan Jokowi.
“Nah, ternyata 2023, ujungnya adalah nepotisme dengan menghancurkan konstitusi, yaitu Mahkamah Konstitusi. Kalau Soekarno meninggalkan Rima (Revolusi Indonesia), Jokowi meninggalkan Gibran dan merusak konstitusi,” kritiknya. Ia pun mengaku merasa tertipu oleh mantan presiden tersebut.
Pernyataan itu disambut tepuk tangan dari sebagian besar peserta, sementara Will kembali menjadi sorotan. Romo Setyo kemudian berusaha meredakan suasana dengan menutup pembahasan topik tersebut.
“Terima kasih, Pak, sudah berbagi pandangannya sebagai generasi Baby Boomers. Tidak perlu, saya tanggapi yang lain dulu. Nanti kita lanjutkan secara pribadi di luar, ya,” ujarnya.
Acara kemudian berlanjut dengan sesi tanya jawab mengenai kondisi demokrasi, oligarki, dan tantangan politik di Indonesia.
Meski diskusi kembali berjalan, suasana hangat perdebatan masih terasa. Beberapa peserta masih sempat melontarkan komentar dan sindiran, meski dengan nada yang lebih tenang dibanding sebelumnya.
Reporter : Nur Saylil Inayah
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Siasat Busuk Eks Anggota Ombudsman Yeka Hendra Bela Mafia CPO Terbongkar, Kini Resmi Masuk Bui!
-
Mendagri Pastikan Pascabencana Sumatera Masuk Tahap Pemulihan, Anggaran Rp100,1 Triliun Disiapkan
-
Renduk Pemulihan Pascabencana Himpun 11.512 Kegiatan, Ini Skala Prioritasnya
-
Standardisasi Kemasan Rokok, Kebijakan Kesehatan atau Ancaman Ekonomi Rakyat?
-
Tak Pandang Bulu! Bareskrim Akui Anggota Polisi Berinisial AFH Terseret Kasus Narkoba B Fashion
-
Sambil Terisak, Megawati Tegaskan Indonesia Haramkan Hubungan Diplomatik dengan Israel
-
Uang Negara Menguap Triliunan! Kejagung Didesak Bongkar Mafia di Balik Investasi Telkomsel ke GoTo
-
Geger! Kafe AfterHour di Poins Square Hangus Dilalap Sijago Merah, Satu Karyawan Jadi Korban
-
Teka-teki 9 Kotak Jam Mewah Fadia Arafiq, KPK Buru Sisa Rolex yang 'Hilang' dari Wadahnya
-
Waspada Lewat S. Parman! Begal Modus Polisi Gadungan Gentayangan, Tuduh Korban Bawa Narkoba