- Henry mengatakan petani mampu berproduksi tanpa pupuk dan racun kimia jika diberi dukungan.
- Dalam momentum Hari Pangan Sedunia, SPI bakal menyuarakan lima tuntutan.
- Henry juga menyinggung pentingnya mengubah sistem pertanian Indonesia dari revolusi hijau ke agroekologi.
Suara.com - Menjelang peringatan Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober 2025, Serikat Petani Indonesia (SPI) menegaskan seruan kepada pemerintah untuk segera melaksanakan reforma agraria sejati dan menghentikan ketergantungan impor pangan.
SPI menilai, kedaulatan pangan Indonesia tidak akan tercapai selama tanah-tanah subur masih dikuasai korporasi besar dan proyek skala masif seperti food estate.
Ketua Henry Saragih menyoroti fakta bahwa angka kelaparan Indonesia masih tergolong tinggi, bahkan berada di peringkat 70 dari lebih 120 negara berdasarkan indeks kelaparan global.
“Indonesia meraih skor 14,6. Yang berarti Indonesia berada pada tingkat kelaparan sedang, walaupun tidak parah sekali. Angka ini membuat Indonesia berada di tarap yang cukup tinggi dibandingkan negara ASEAN. Jadi Vietnam itu angkanya 11,1, Filipina 13,4, Thailand 9,7,” ujar Henry saat konferensi pers di kantor DPP SPI, Jakarta, Rabu (15/10/2025).
Henry menilai, kondisi tersebut merupakan dampak dari ketimpangan penguasaan lahan dan ketergantungan pada impor pangan.
Ia menyebut, sebagian besar petani Indonesia hanya menggarap lahan di bawah 0,5 hektare, sementara jutaan hektare tanah produktif justru dikuasai oleh korporasi untuk komoditas ekspor.
“Karena bagaimana kita bisa memproduksi pangan kalau petaninya petani buram? Kalau tanah-tanahnya masih dikuasai perusahaan-perusahaan perkebunan besar untuk tanaman kepentingan ekspor, bukan untuk kepentingan pangan di Indonesia,” tegas Henry.
SPI menilai, pemerintah gagal menjalankan amanat reforma agraria yang menjadi kunci utama kemandirian pangan.
Mereka juga menuntut agar Undang-Undang Cipta Kerja dicabut, karena dinilai memperparah ketimpangan agraria dan membuka ruang liberalisasi pangan.
Baca Juga: SPI: Tanpa Reforma Agraria, Program Prabowo Bisa Jadi 'Beban Negara'
“Karena selama 5 tahun ini kelahiran Undang-Undang Cipta Kerja telah menggusur tanah petani, memperlancar impor pangan ke Indonesia, dan juga membuat lapangan pekerjaan menjadi sulit dan pendidikan dan kesehatan menjadi lebih mahal lagi di Indonesia,” kata Henry.
Selain itu, SPI mendesak agar revisi Undang-Undang Pangan yang sedang dibahas DPR tidak diarahkan untuk mempermudah impor, tetapi justru memperkuat posisi petani sebagai produsen utama pangan nasional.
“Jadi kita khawatir revisi UU Pangan justru menyesuaikan dengan Undang-Undang Cipta Kerja. Itu akan mempermudah impor dan melemahkan peran petani,” kata dia.
Dalam momentum Hari Pangan Sedunia, SPI bakal menyuarakan lima tuntutan utama:
- Penyelesaian konflik agraria dan penghentian kriminalisasi petani.
- Mengalokasikan tanah yang dikuasai perusahaan perkebunan dan perutanan sebagai tanah objek torak
- Revisi Perpres Reforma Agraria No. 62 Tahun 2023
- Penguatan koperasi petani dan penolakan impor pangan besar-besaran
- Pembentukan Dewan Nasional Reforma Agraria dan Kesejahteraan Petani.
Henry juga menyinggung pentingnya mengubah sistem pertanian Indonesia dari revolusi hijau ke agroekologi. Ia menyebut, petani mampu berproduksi tanpa pupuk dan racun kimia jika diberi dukungan.
“Uang negara jangan dihamburkan untuk membeli pupuk kimia. Kita bisa bertani dengan pupuk organik, dan itu sudah terbukti di lapangan,” jelasnya.
SPI menutup konferensi pers dengan menyerukan aksi massa di Jakarta pada Kamis (16/10/2025) sebagai bentuk tekanan politik agar pemerintah segera menindaklanjuti tuntutan mereka.
“Kita akan aksi terus sampai tuntutan ini dipenuhi. Tanpa reforma agraria, penghapusan kemiskinan dan (atasi) kelaparan hanyalah mimpi,” tutup ketua umum SPI.
Reporter: Maylaffayza Adinda Hollaoena
Berita Terkait
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- 6 Sepatu Puma Wanita yang Lagi Diskon 55 Persen di Toko Resmi, Ada Model Lari hingga Sneaker
Pilihan
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
Terkini
-
Penghormatan Terakhir Jenderal Ryamizard Ryacudu: Disemayamkan di Kemhan, Dimakamkan di Kalibata
-
PSG Juara, Prancis Membara! 22.000 Polisi Tak Mampu Bendung Amuk Massa
-
Bom Sisa Perang Dunia II Meledak di Biak, 5 Tewas dan 3 Hilang
-
Update Rusuh di Paris Usai PSG Juara Liga Champions: 1 Orang Tewas 780 Ditangkap
-
Qodari: Prabowo Sosok Langka yang Dekat dengan Putin, Trump, dan Xi Jinping
-
Banjir Bandang Poso: Warga Terisolasi, BNPB Minta Bantuan Alat Berat
-
Ibu Muda Ditemukan Tewas Bersama Balitanya, Suami Diamankan Polisi
-
Waspada Fenomena Bulan Purnama, BMKG Prediksi Banjir Rob Kepung Pesisir NTT Hingga 2 Juni
-
Indonesia Berduka, TNI AD Kehilangan Putra Terbaik Jenderal Ryamizard Ryacudu
-
Toko Kosmetik di Sawah Besar Digerebek, Ternyata 'Gudang' Ribuan Butir Pil Tramadol dan Hexymer