-
- Pasar Eropa masih menampung kayu dari deforestasi di Indonesia, termasuk hasil pembabatan hutan habitat orangutan Kalimantan.
- Investigasi Auriga Nusantara dan Earthsight menemukan 65 industri kayu Indonesia menerima pasokan dari hutan alam yang dibabat dan menjualnya ke perusahaan Eropa.
- EUDR terancam ditunda, membuka celah bagi kayu hasil deforestasi terus masuk ke pasar global dan mempercepat krisis ekologis.
Suara.com - Pasar Eropa hingga kini masih menjadi tujuan utama ekspor produk kayu dari perusahaan yang terbukti menerima pasokan hasil deforestasi di Indonesia.
Investigasi terbaru bertajuk Risky Business (Tercemar Deforestasi) yang dirilis oleh Auriga Nusantara dan Earthsight mengungkap rantai pasok panjang yang menghubungkan pembabatan hutan habitat orangutan Kalimantan dengan toko-toko bangunan di Belanda dan Belgia.
Dalam laporannya, kedua lembaga ini menganalisis sekitar 10.000 dokumen Rencana Pemenuhan Bahan Baku Industri (RPBBI) milik industri kayu, menemukan 65 perusahaan pengolah yang menerima bahan baku dari hutan alam, terutama di Kalimantan, dan mengekspornya ke pasar Eropa.
Auriga Nusantara melakukan penelusuran langsung ke empat konsesi pembabat hutan di Kalimantan Tengah dan Barat yang memasok industri tersebut. Mereka mendokumentasikan ribuan hektare hutan alam yang dibabat di wilayah yang sebelumnya merupakan habitat utama orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus).
Penduduk lokal mengaku kehilangan sumber penghidupan akibat hilangnya hutan yang selama ini menjadi penopang ekonomi dan pangan mereka.
“Kami hanya menjadi penonton perusakan ini,” ujar seorang warga.
Sementara itu, Earthsight mengonfirmasi bahwa produk kayu dari pembabatan tersebut benar-benar masuk ke pasar Eropa. Salah satu perusahaan Belanda bahkan secara terbuka mengakui bahwa mereka akan terus berbisnis dengan pemasok yang “telah lama dikenal,” meskipun diketahui kayu berasal dari wilayah yang mengalami deforestasi.
Lima perusahaan eksportir terbesar dari Indonesia tercatat mengirim lebih dari 23 ribu meter kubik kayu lapis dan produk kayu lainnya ke Eropa sepanjang 2024—sebagian besar ke Belanda, Belgia, dan Jerman.
Menurut Aron White, Ketua Tim Earthsight untuk Asia Tenggara, “Terlihat jelas risiko dana Eropa turut menghancurkan sarang-sarang terakhir orangutan di Bumi. Kami mengidentifikasi perusahaan-perusahaan yang membeli ribuan meter kubik kayu deforestasi dari Indonesia sembari secara tidak tepat mengklaim semua pasokan mereka berkelanjutan. Kasus-kasus ini menunjukkan kenapa EUDR mesti diberlakukan segera, tanpa penundaan.”
Baca Juga: Jadwal Pertandingan Grup Neraka Zona Eropa Kualifikasi Piala Dunia 2026, Siapa Amankan Klasemen?
Dalam laporan yang sama, Hilman Afif dari Auriga Nusantara menegaskan, “Kehancuran hutan Kalimantan tidak hanya tragedi Indonesia, tetapi global. Orangutan terusir, masyarakat adat dan lokal kehilangan ruang hidupnya, hingga iklim yang semakin tak menentu mencerminkan rapuhnya tata kelola kehutanan Indonesia.”
Ia menambahkan bahwa sebagian besar deforestasi kini bahkan mencapai lahan gambut—penyimpan karbon raksasa yang seharusnya melindungi bumi dari krisis iklim.
Data menunjukkan, pada 2024 deforestasi di Kalimantan mencapai 129.000 hektare, setara dengan luas kota Roma. Hanya 36 persen hutan utuh yang tersisa di pulau itu pada 2019. Tanpa langkah tegas seperti penerapan EU Deforestation Regulation (EUDR) dan pembenahan tata kelola kehutanan di dalam negeri, Indonesia bukan hanya kehilangan paru-parunya, tetapi juga kepercayaan dunia terhadap komitmennya melawan perubahan iklim.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Viral Kabar Ajudan Febrie Adriansyah Ditembak Orang Misterius, Polisi: Hoaks
-
Jadwal Pasar Murah di Kampar dan 4 Kecamatan Wilayah Pekanbaru
-
Debut Gemilang Mitchell Baker, Cetak Hattrick untuk Timnas Indonesia di Piala AFF 2026
-
Agustiar Sabran Resmi Pimpin PB Percasi 2026-2030, Ini Targetnya
-
Usut Etik Kasat Narkoba Tangsel, Polda Metro Tegaskan AKP Pardiman Tak Terkait Kasus Etomidate
-
Bukan Sekadar Angkat Beban, Ini Wajah Baru Tren Gym Modern yang Wajib Kamu Tahu!
-
Komplotan Buzzer Diciduk Polda Metro Jaya, Rp220 Juta Hasil Pembayaran Disita
-
Hasil Babak Pertama: Mitchell Baker Gemilang, Timnas Indonesia Unggul 3-0
-
Kronologi CR-V Terguling di Depan Kejari Palembang, Tabrak Dua Mobil Parkir Usai Hindari Motor
-
Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI, Airlangga Tak Ambil Pusing: Yang Penting Institusi Berjalan