- Duka atas hampir seribu korban bencana alam di Sumatera mendorong usulan pembentukan Kementerian Penanggulangan Bencana.
- Ketua Komisi I DPR RI, Utut Adianto, mengusulkan struktur kementerian baru dengan direktorat spesifik tangani ancaman bencana.
- Usulan ini muncul karena APBN dinilai tidak kuat menahan guncangan biaya tak terduga akibat skala bencana yang masif.
Suara.com - Duka mendalam akibat bencana alam dahsyat di Sumatera yang diperkirakan telah merenggut hampir seribu korban jiwa, memicu sebuah gagasan dari Parlemen.
Ketua Komisi I DPR RI, Utut Adianto, secara terbuka mengusulkan agar pemerintah membentuk sebuah kementerian khusus yang fokus menangani penanggulangan bencana.
Usulan ini dilontarkan bukan tanpa alasan. Menurut Utut, skala bencana yang terjadi belakangan ini sudah terlalu masif untuk ditangani dengan struktur yang ada saat ini.
Ia bahkan meminta Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) untuk menyampaikan langsung ide tersebut kepada Presiden.
Gagasan ini mengemuka dalam Rapat Kerja Komisi I DPR RI bersama Menkomdigi di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Senin (8/12/2025).
"Artinya memang ke depan ini, mungkin kalau Ibu bisa ngomong sama Pak Presiden, ada perlunya juga disampaikan mungkin sudah adanya Menteri Bencana, Penanggulangan Bencana," kata Utut dalam rapat tersebut.
Politisi senior PDI Perjuangan itu tak hanya melempar wacana. Ia bahkan sudah memiliki gambaran spesifik mengenai struktur kementerian baru tersebut, yang akan dibagi berdasarkan jenis ancaman bencana untuk memastikan penanganan yang lebih fokus dan ahli.
"Jadi ada Dirjen Longsor, Dirjen Banjir, Dirjen Angin Topan, dan Dirjen satu lagi apa gitu," katanya, memberikan contoh.
Namun, akar utama dari usulan ini adalah masalah finansial negara. Utut Adianto menyoroti postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini yang dinilainya tidak dirancang untuk menahan guncangan biaya bencana yang datang tiba-tiba dan dalam jumlah sangat besar.
Baca Juga: Banjir Sumatra Bukan Takdir, Ini Akar Masalah dan Solusi Agar Tak Terulang Lagi
"Karena kalau angkanya sekarang ini, APBN jelas gak kuat. Karena APBN itu konsepnya belanja, bukan menabung. Sementara ini kan (dana) hanya keluar, saat pada saat keluar," jelasnya secara gamblang.
Sebelum masuk ke usulan teknisnya, Utut terlebih dahulu menyampaikan belasungkawa mendalam atas situasi darurat nasional yang terjadi. Ia menyoroti angka korban jiwa yang terus bertambah dan potensi korban hilang yang masih sangat besar.
"Kita lupa tadi kita semua ikut berduka atas situasi nasional. Jadi sudah hampir 1.000 yang wafat, yang hilang mungkin potensi juga masih besar," ungkapnya.
Utut juga menegaskan bahwa bencana ini tidak hanya terjadi di Sumatera. Ia memberikan contoh kondisi parah yang juga terjadi di daerah pemilihannya (Dapil) di Jawa Tengah, yang mencakup Banjarnegara dan Cilacap.
"Di Jateng, di Dapil kami sesungguhnya sama, Bu. Di Banjarnegara, Dapil saya, yang wafat 17, yang belum ketemu 11. Tapi ini awalannya dari Majenang di Cilacap," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Belajar di Tengah Keterbatasan, Siswa Batang Anai Hadapi Ujian di Tenda Darurat
-
Banjir Lahar Hujan Semeru Kepung Permukiman, Ratusan Warga Terisolasi
-
Banjir Sumatra Bukan Takdir, Ini Akar Masalah dan Solusi Agar Tak Terulang Lagi
-
Kepala BNPB Sebut Pemulihan Pasca Bencana Sumatra Butuh Rp51,82 T
-
Gubsu Bobby Nasution Bilang Kerugian Akibat Banjir-Longsor di Sumut Rp 9,98 Triliun
Terpopuler
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Sepeda Polygon Paling Murah Tipe Apa? Ini 5 Pilihan Ternyaman dan Tahan Banting
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- Pakar UGM Bongkar 'Dosa' Satu Dasawarsa Jokowi: Aturan Dimanipulasi Demi Kepentingan Rente
Pilihan
-
Cek Fakta: Viral Pengajuan Pinjaman Koperasi Merah Putih Lewat WhatsApp, Benarkah Bisa Cair?
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
Terkini
-
Maling Motor di Tanjung Duren Diamuk Warga saat Kepergok Beraksi, Tangan Diikat Kepala Diinjak!
-
Belajar dari Kasus Daycare Little Aresha, KPAI: Ortu Wajib Cek Izin dan Latar Belakang Pengasuh!
-
BNI Pastikan Koperasi Swadharma Berdiri Sendiri di Luar Struktur Bank
-
BRIN dan Wanadri Siapkan Misi Selamatkan Terumbu Karang Pulau Buru yang Hancur Akibat Bom Ikan
-
Belajar dari Kasus Little Aresha, Ini 3 Cara Cek Legalitas Daycare dan PAUD Agar Anak Aman
-
Kebakaran Maut di Lubang Buaya: Wanita 53 Tahun Pengidap Stroke Tewas Terjebak Dalam Rumah
-
Gus Ipul: Persiapan Muktamar NU Terus Berjalan, Tim Panel Tuntaskan SK Sebelum Agustus
-
Niat Lindungi Anak dari Amukan Ibu, Anggota TNI Berpangkat Peltu Malah Dikeroyok di Stasiun Depok
-
Pelaku Penembakan Acara Trump Terungkap, Foto Kenakan Kaos IDF Israel Viral
-
Gubernur Pramono Bahas Rencana Konser BTS 2026 Saat Temui Wakil Wali Kota Seoul