- Menurut Rocky Gerung, Jokowi telah kehilangan "pulung" atau anugerah ilahi dan legitimasi moral sebagai pemimpin
- Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung menjadi simbol keangkuhan, kesalahan kalkulasi, jebakan utang Tiongkok
- Kebijakan era Jokowi, khususnya utang proyek kereta cepat, dinilai menjadi beban berat yang dapat menghambat pemerintahan Prabowo dalam merealisasikan janji-janji kampanyenya
Suara.com - Setahun lebih berlalu sejak tak lagi menjabat, nama Joko Widodo (Jokowi) kembali menjadi pusat perbincangan nasional. Bukan karena prestasi, melainkan karena warisan kebijakannya yang kini dinilai telah kehilangan arah. Pengamat politik Rocky Gerung bahkan menggunakan istilah filsafat Jawa kuno untuk menggambarkan kondisi mantan presiden itu telah kehilangan "pulung".
"Pulung" adalah anugerah ilahi yang memungkinkan seorang pemimpin membaca tanda-tanda zaman dan memiliki legitimasi moral. Kehilangan pulung, menurut Rocky, berarti seorang penguasa tak lagi mampu menangkap irama dunia yang berubah, sebuah kekosongan batin yang fatal.
“Jokowi sudah kehilangan pulung,” ujar Rocky dengan nada tajam melalui kanal YouTube-nya, dikutip Kamis (23/10/2025).
Panggung utama dari drama kehilangan arah ini adalah proyek monumental kereta cepat Jakarta-Bandung. Di permukaan, proyek ini adalah simbol kemajuan, namun di baliknya tersimpan cerita tentang kalkulasi yang meleset, utang yang membengkak, dan kepercayaan buta pada Tiongkok.
“Ini bukan sekadar proyek gagal,” kata Rocky.
“Ini simbol dari keangkuhan seorang pemimpin yang memaksakan kehendak tanpa mendengar rakyatnya," tambahnya.
Menurutnya, aroma masalah mulai tercium ketika Jepang mundur dari negosiasi dan Tiongkok mengambil alih. Biaya proyek membengkak, kelayakan ekonomi dipertanyakan, dan Indonesia kini perlahan merasakan jebakan yang sama seperti Sri Lanka dan Angola: debt trap diplomacy atau diplomasi jebakan utang.
Lebih jauh, Rocky menuding ada niat tersembunyi di balik keputusan tersebut.
“Ada mens rea di sana,” ucapnya, menggunakan istilah hukum Latin untuk ‘niat jahat’. Ia mengisyaratkan bahwa keputusan memindahkan proyek ke Tiongkok bukan murni karena alasan ekonomi.
“Motif untuk mark up, motif untuk kepentingan kelompok,” tambahnya.
Baca Juga: Danantara Bersiap Terbang ke China Nego Utang Whoosh, Bunga dan Tenor Jadi Taruhan
Isu kereta cepat ini, seolah membuka kotak pandora, membangkitkan kembali polemik lama yang tak pernah tuntas, mulai dari isu ijazah, relasi keluarga, hingga tudingan membangun dinasti politik. Jokowi, dalam narasi ini, digambarkan sebagai tokoh yang dikejar oleh keputusan-keputusannya sendiri di masa lalu.
Pertemuan diam-diam antara Jokowi dan Prabowo pada 4 Oktober lalu pun tak luput dari analisis Rocky, yang menambah lapisan misteri baru dalam dinamika politik nasional.
“Banyak yang menduga Jokowi sedang mencari proteksi,” kata Rocky.
Dalam tafsirnya, posisi Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden adalah jaminan hidup politik bagi Jokowi, semacam polis asuransi terhadap potensi badai hukum di masa depan.
Namun, Rocky meragukan proteksi itu bisa menahan gelombang kekecewaan publik yang terus membesar. Ia kemudian melontarkan sarkasme pedas yang mengaitkan nasib sang mantan presiden dengan proyek andalannya.
“Kereta yang akan mempercepat perjalanan Jokowi ke Cipinang,” sindirnya.
Metafora ironis ini menggambarkan bahwa setiap proyek yang dibangun di atas kebohongan pada akhirnya akan runtuh oleh bebannya sendiri.
Kini, beban masa lalu itu mulai terasa di pundak pemerintahan Prabowo. Janji-janji kampanye seperti makan siang bergizi, sekolah gratis, dan ketahanan pangan terancam terhambat oleh sisa-sisa kebijakan era sebelumnya.
“Kalau Prabowo ingin memulihkan kepercayaan rakyat, ia harus berani membongkar apa yang salah di masa lalu,” kata Rocky.
Tag
Berita Terkait
-
Danantara Bersiap Terbang ke China Nego Utang Whoosh, Bunga dan Tenor Jadi Taruhan
-
Getol Bongkar Borok Proyek Whoosh, Siapa Agus Pambagio? Ini Profil dan Pendidikannya
-
Dugaan Skandal Kereta Cepat Whoosh, Jepang Sengaja Dilibatkan untuk 'Goreng' Harga?
-
Said Didu Bongkar 'Kebohongan' Jokowi Soal Freeport-Blok Rokan: Tak Pernah Negara Ambil Freeport!
-
Akademisi Bongkar Dugaan Skandal Whoosh Era Jokowi: Proyek Molor, Anggaran Bengkak
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Suami Guru di Tanjungbalai Jadi Tersangka Kasus Pencabulan, Terancam 9 Tahun Penjara
-
Wakil Jaksa Agung Bantah Rotasi Pejabat Kejagung Buntut Kasus Febrie Adriansyah, Tapi Penyegaran
-
Desain KDMP Dinilai Melenceng, Berisiko Jadi Proyek Politik Pemerintah
-
Prancis Bak Neraka Bocor, 20 Ribu Warlok dan Turis Dievakuasi Akibat Kebakaran Hutan Ekstrem
-
Here We Go! Daftar Resmi Pemain Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2026: Bertabur Bintang
-
Pembangunan Daerah Terus Berjalan, Dasco - Cucun Terima Dialog APKASI
-
KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Kasus Bupati Kuansing
-
Bukan Cedera, Ini Alasan Debut Mariano Peralta Bersama Persib Tertunda
-
Teknologi Logistik AI Ubah Masa Depan E-Commerce Indonesia
-
Rakyat Tidak Keberatan Membayar Pajak, Asal Negara Tahu Cara Mengelolanya