- BMKG menegaskan temuan mikroplastik di air hujan Jakarta tidak selalu berasal dari sumber lokal, melainkan bisa terbawa angin dari daerah lain melalui proses transportasi polutan.
- Fenomena ini dipengaruhi arah angin, pembakaran sampah, dan emisi bahan bakar yang menghasilkan partikel halus di atmosfer.
- BRIN mencatat mikroplastik kini telah ditemukan di udara 18 kota di Indonesia, menjadi pengingat penting akan dampak penggunaan plastik yang berlebihan.
Suara.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menanggapi temuan mikroplastik pada air hujan di Jakarta.
Lembaga tersebut menjelaskan, keberadaan partikel kecil itu tidak selalu berarti berasal dari aktivitas di Ibu Kota, melainkan bisa terbawa dari wilayah lain melalui fenomena yang disebut pollutant transport atau perpindahan polutan oleh angin.
Fungsional Madya Meteorologi dan Geofisika BMKG, Dwi Atmoko, mengatakan arah angin memiliki peran penting dalam perpindahan polutan di atmosfer.
Dalam kondisi musim kemarau seperti sekarang, angin dominan bertiup dari timur hingga tenggara sehingga partikel dari wilayah di arah tersebut bisa terbawa menuju Jakarta.
"Perlu dipahami bahwa mikroplastik di suatu daerah tidak selalu berasal dari daerah itu sendiri. Fenomena ini disebut transportasi polutan (pollutant transport) di mana partikel-partikel polutan terbawa angin dari satu wilayah ke wilayah lain," kata Dwi dalam diskusi di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (24/10/2025).
Ia menjelaskan, secara geografis Indonesia yang berada di garis ekuator menerima paparan radiasi matahari cukup tinggi. Kondisi panas pada musim kemarau sering memicu pembakaran sampah terbuka, yang menghasilkan partikel halus di udara termasuk mikroplastik.
"Dari proses itulah, asap dan partikel mikroplastik hasil pembakaran naik ke atmosfer, lalu terbawa oleh angin ke wilayah lain," ujarnya.
"Artinya, mikroplastik yang ditemukan di Jakarta bisa saja berasal dari wilayah lain, atau sebaliknya, partikel dari Jakarta terbawa angin ke daerah lain," lanjut Dwi.
Lebih jauh, Dwi menyebut sektor transportasi masih menjadi penyumbang terbesar polutan di kawasan Jabodetabek. Partikel mikroplastik itu, katanya, tidak berhenti di udara.
Baca Juga: Hujan Mikroplastik, Bukti Krisis Lingkungan Kini Menyentuh Tubuh Kita
Karena Indonesia beriklim tropis dengan tingkat pembentukan awan yang tinggi, mikroplastik dapat kembali ke permukaan bumi melalui hujan maupun deposisi kering.
Menurut Dwi, setiap proses pembakaran bahan bakar fosil juga berpotensi menghasilkan aerosol atau partikel kecil yang bisa menjadi medium bagi mikroplastik.
"Kesimpulannya, mikroplastik dapat dianggap bagian dari aerosol, partikel kecil di atmosfer yang terus bergerak, berpindah, dan akhirnya turun ke bumi melalui hujan atau deposisi kering," jelasnya.
Sementara, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Reza Cordova mengatakan sejak 2022, mikroplastik telah ditemukan di berbagai ekosistem di Indonesia, mulai dari sungai, sedimen, hingga udara di kawasan permukiman.
"Sejak 2022, kami sudah melaporkan bahwa mikroplastik ditemukan di berbagai ekosistem mulai dari sungai, sedimen, hingga udara di sekitar pemukiman," urai Reza.
Penelitian BRIN kini telah diperluas ke 18 kota besar dan kecil dengan pengambilan sampel terakhir pada Juni–Juli 2025. Hasil sementara menunjukkan seluruh sampel udara yang diteliti mengandung mikroplastik dalam berbagai ukuran.
"Di Jakarta, tingkat kehadirannya masih dalam kisaran yang sama, yakni antara 3 hingga 40 partikel per meter persegi per hari," ujarnya.
Reza menilai fenomena ini menjadi sinyal penting bagi masyarakat untuk mulai memperhatikan dampak penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari.
"Udara yang kita hirup setiap hari kini tidak hanya mengandung debu atau polutan biasa, tetapi juga partikel mikroplastik yang bersumber dari aktivitas manusia," imbuhnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Anggaran Pakan Hewan di Kebun Binatang Surabaya Dikorupsi Rp10,2 M di, DPR Minta Semua Diperiksa!
-
Review A Toxic Love Story: Manipulasi Lebih Mematikan dari Kekerasan Fisik?
-
Gantikan Hotman, Mantan Jubir KPK Kini Pasang Badan Jadi Advokat Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah
-
KPK Bongkar Alasan Tahan Febrie, Ada 'Surat Sakti' yang Dikirim Sejak Jumat Pagi
-
Berapa Lama Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Bakal Mendekam di Rutan KPK?
-
Apa Kata KPK soal Klaim Kriminalisasi Febrie Adriansyah? Ini Penjelasan Lengkapnya
-
Tayang 2027, Drama Misteri-Kriminal 'Code' Rilis Jajaran Pemeran Utama
-
Karena Buru-buru Sudah Malam, Alasan Kejagung Tak Pakaikan Rompi Pink ke Febrie Adriansyah
-
Dua Kata Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Masuk ke Rutan KPK Tanpa Pakai Rompi Pink
-
Budget 4 Jutaan? 5 HP Gaming Ini Bisa Push Rank Tanpa Lag