- Hakim PN Jakarta Selatan menolak seluruh permohonan praperadilan Delpedro Marhaen, sehingga statusnya sebagai tersangka kasus dugaan penghasutan tetap sah
- Penolakan didasarkan pada pertimbangan bahwa polisi telah memiliki minimal dua alat bukti yang sah, termasuk keterangan saksi dan tangkapan layar media sosial
- Hakim menilai seluruh proses hukum yang dilakukan Polda Metro Jaya, mulai dari gelar perkara, pemberitahuan penangkapan, hingga penggeledahan, telah sesuai prosedur hukum yang berlaku
Suara.com - Upaya Direktur Eksekutif Lokataru, Delpedro Marhaen Rismansyah, untuk lepas dari status tersangka kandas di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Hakim tunggal Sulistiyanto Rochmad Budiharto secara tegas menolak permohonan praperadilan yang diajukan Delpedro terkait kasus dugaan penghasutan dalam aksi demo 25-30 Agustus 2025.
Dalam putusannya, hakim membeberkan sejumlah pertimbangan krusial yang menjadi dasar penolakan. Pertimbangan utama adalah bahwa pihak kepolisian, dalam hal ini Polda Metro Jaya (Termohon), telah mengantongi bukti-bukti yang relevan dan sah sebelum menetapkan Delpedro sebagai tersangka.
"Menimbang bahwa Termohon melakukan pemeriksaan terhadap para saksi, menemukan barang bukti terkait, berupa tangkapan layar dari media sosial yang relevant dengan perkara a quo yang dilakukan Termohon sejak tanggal 25 Agustus sampai dengan 29 Agustus 2025," ujar hakim Sulistiyanto di ruang sidang, Senin (27/10/2025).
Hakim juga menegaskan bahwa seluruh rangkaian proses hukum yang dijalankan oleh penyidik telah sesuai dengan prosedur. Mulai dari gelar perkara pada 29 Agustus 2025 untuk menaikkan status dari penyelidikan ke penyidikan, hingga pemberitahuan penangkapan kepada pihak keluarga, semuanya dinilai telah memenuhi aturan yang berlaku.
Bahkan, tindakan penggeledahan yang dilakukan oleh polisi telah mendapat izin resmi dari pengadilan negeri, yang semakin memperkuat keabsahan prosedur penyidikan.
"Menimbang dari surat bukti T97 diketahui Termohon telah menyampaikan pemberitahuan penangkapan Pemohon kepada keluarganya. Menimbang bahwa barang bukti surat T98 sampai dengan 102 menunjukan bahwa Termohon telah melakukan penggeledahan yang dilakukan oleh izin dari pengadilan negeri," tutur hakim.
Puncak pertimbangan hakim adalah terpenuhinya minimal dua alat bukti yang sah sesuai Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Dengan bukti yang cukup di tangan penyidik, penetapan tersangka terhadap Delpedro dianggap sah secara hukum dan tidak dapat dibatalkan.
"Menimbang dalam perolehan alat bukti yang dilakukan oleh petugas yang berwenang dan dilakukan sebagaimana aturan yang mengaturnya, maka terhadap alat bukti yang diperoleh oleh Termohon tersebut di atas adalah alat bukti yang sah sebagaimana Pasal 185 KUHAP," tegasnya.
Oleh karena itu, hakim menyimpulkan bahwa permohonan praperadilan yang diajukan Delpedro tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk dikabulkan.
Baca Juga: Praperadilan Ditolak, Ibunda Aktivis Delpedro Marhaen Histeris di Pengadilan
"Menimbang bahwa dengan dipenuhinya dua alat bukti yang sah di atas, maka kerja persoalan dalam permohonan praperadilan a quo, yakni penetapan tersangka terhadap Pemohon telah sesuai dengan hukum, oleh karenanya cukup beralasan untuk menolak permohonan Pemohon dalam petitum angka dua," papar hakim.
Tag
Berita Terkait
-
Praperadilan Ditolak, Ibunda Aktivis Delpedro Marhaen Histeris di Pengadilan
-
Rebut Poster Pendukung Delpedro Cs, Kapolsek Pasar Minggu: Kami Jaga Muruah Persidangan!
-
Praperadilan Delpedro Ditolak, Pendukung Beri Kartu Merah ke Hakim: Bebaskan Kawan Kami!
-
Tangis Histeris Ibunda Pecah di Pengadilan Usai Praperadilan Delpedro Ditolak
-
Sidang Praperadilan Delpedro Marhaen: Hakim Tunda Putusan Hingga Pukul 2 Siang
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Jika Tim 9 Gagal, KPK Disebut Wajib Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah
-
Sungai Cileungsi Menghitam, DLH Bogor Gandeng Polda Jabar Bidik 5 Perusahaan
-
Diperiksa Kejagung Terkait Dugaan Kasus, Kekayaan Kasi Pidsus Bogor Capai Rp6,1 Miliar Tanpa Utang
-
Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Satpol PP Bandung Ratakan 36 Bangunan Liar di Jalan Rajiman
-
Sempat Sebut PDIP, Ustaz Das'ad Latif Edit Unggahan soal Putusan MK Larang Dana Pendidikan untuk MBG
-
Kejagung Bongkar Alasan Periksa Tan Kian dan Ferry Boboho di Kasus Febrie Adriansyah
-
Alasan Keselamatan, Kejagung Titipkan Ferry Boboho Saksi Kunci Kasus TPPU Febrie Adriansyah ke LPSK
-
Angela Tanoesoedibjo Apresiasi Legislator yang Dinilai Berdampak bagi Masyarakat
-
Arus Peti Kemas IPC TPK Panjang Melonjak 73,7 Persen
-
Gandeng TP PKK Hingga Tingkat RT, Bupati Bogor Rudy Susmanto Pacu Kesejahteraan Warga