- KTT Iklim PBB COP30 di Belem, Brasil, berfokus pada perlindungan hutan, namun diwarnai ironi kebijakan Brasil.
- Brasil memperkenalkan skema dana TFFF US$125 miliar sambil tetap memberikan izin konsesi minyak dan gas di Amazon.
- Masyarakat adat memprotes keras karena skema TFFF dianggap berpotensi menjadi kolonialisme hijau tanpa larangan eksplorasi fosil.
Suara.com - Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim PBB ke-30 atau COP30 di Belem, Brasil, tahun ini punya julukan yang keren banget: "Forest COP" alias "KTT Hutan". Sesuai namanya, fokus utamanya adalah soal menyelamatkan paru-paru dunia, terutama hutan Amazon.
Tapi, di balik semua janji manis dan slogan "hijau" itu, ada sebuah ironi yang saking gedenya, sampai bikin para aktivis dan masyarakat adat ngamuk. Gimana nggak? Di saat pemerintah Brasil lagi getol-getolnya minta duit bantuan internasional buat jaga hutan, di saat yang sama mereka justru terus mengobral izin konsesi minyak dan gas di kawasan Amazon!
'Tangan Kanan' Jaga Hutan, 'Tangan Kiri' Bor Minyak
Inilah kontradiksi paling gila yang terjadi di COP30. Di satu sisi, Brasil ikut memperkenalkan sebuah skema pendanaan internasional baru yang super ambisius, Tropical Forests Forever Facility (TFFF). Lewat skema yang dikelola Bank Dunia ini, mereka menargetkan bisa mengumpulkan US$125 miliar untuk "menggaji" negara-negara yang berhasil menjaga hutan tropisnya.
Tapi di sisi lain, kebijakan energi mereka justru bertolak belakang. Mereka terus mendorong ekspansi industri ekstraktif di wilayah yang seharusnya dilindungi. Sebuah sikap "standar ganda" yang sontak memicu kemarahan.
Masyarakat Adat Ngamuk: "Ini Bukan soal Duit, Ini soal Hidup!"
Tentu saja, yang paling pertama "meledak" adalah para penjaga hutan yang sesungguhnya: masyarakat adat. Pada 11 November, puluhan perwakilan mereka memaksa masuk ke area konferensi. Tuntutan mereka jelas: hentikan semua proyek industri di Amazon dan berikan mereka peran lebih besar dalam pengelolaan hutan.
Bagi mereka, skema pendanaan seperti TFFF ini cuma akal-akalan. Hutan mereka seolah mau "dijual" dan dijadikan aset finansial, tanpa ada jaminan perlindungan hak-hak mereka. Mereka khawatir, ini cuma akan melahirkan bentuk penjajahan baru yang disebut "kolonialisme hijau". Investor dapat untung, sementara mereka kehilangan akses ke ruang hidup mereka sendiri.
Jebakan di Dalam Skema Pendanaan
Baca Juga: Desak Transisi Bersih, Aktivis Greenpeace Bentangkan Spanduk di PLTGU Muara Karang
Kecurigaan masyarakat adat ini ternyata bukan tanpa dasar. Kalau dibedah lebih dalam, skema TFFF ini punya beberapa "jebakan batman" yang berbahaya.
Denda yang Salah Sasaran: Brasil mengusulkan, negara yang melakukan deforestasi akan didenda US$400 per hektar. Kelihatannya bagus, kan? Tapi para aktivis khawatir aturan ini justru akan dipakai untuk menindak praktik tradisional masyarakat adat, seperti membuka lahan skala kecil buat berkebun, yang akan dianggap sebagai "deforestasi ilegal".
Nggak Ada Larangan Tambang: Yang paling parah, di dalam skema ini tidak ada larangan sama sekali untuk eksploitasi minyak dan gas di bawah kawasan hutan yang "dilindungi". Ini sama saja bohong, kan?
Bom Waktu Karbon di Bawah Kaki Kita
Para peneliti juga mengingatkan adanya "bom waktu" yang lebih besar. Menurut sebuah studi, sebagian besar negara yang memenuhi syarat untuk dapat dana TFFF ini ternyata punya cadangan bahan bakar fosil raksasa di bawah hutan mereka.
Potensi emisi dari cadangan ini saja sudah mencapai 317 miliar ton CO. Dan kalau semuanya digarap, angkanya bisa melonjak jadi 4,6 triliun ton! Sebagian besar "bom waktu" ini ada di Indonesia, Tiongkok, dan India.
Jadi, ironinya jelas banget. Dunia mau "membayar" untuk melindungi hutan, tapi di saat yang sama, "harta karun" karbon di bawahnya justru siap untuk dieksploitasi.
Kisah dari COP30 ini jadi pelajaran paling pahit. Niat baik dan uang triliunan dolar pun nggak akan ada artinya kalau tidak diimbangi dengan kebijakan yang konsisten dan keadilan bagi mereka yang hidupnya bergantung langsung pada alam.
(Muhamad Ryan Sabiti)
Berita Terkait
-
Lelah dan Sudah Tak Bergairah, Mantan Gelandang Manchester City Putuskan Pensiun
-
Butuh Waktu 8 Bulan, Bagaimana Proses Pengujian BBM Bobibos?
-
Tamparan Keras di KTT Iklim: Bos Besar Lingkungan Dunia Sindir Para Pemimpin Dunia!
-
Gen Z dan Masyarakat Adat Ngamuk, Kepung KTT Iklim COP30 di Brasil: Apa Alasannya?
-
Arsenal Terancam Kehilangan Gabriel Magalhaes Dalam Waktu Lama, Arteta Bakal Lakukan Apa?
Terpopuler
- 5 Sepatu Tanpa Tali 'Kembaran' Skechers Versi Murah, Praktis dan Empuk
- 6 Rekomendasi Sabun Mandi di Alfamart yang Wangi Semerbak dan Antibakteri
- Tembus Pelosok Bumi Tegar Beriman: Pemkab Bogor Tuntaskan Ratusan Kilometer Jalan dari Barat-Timur
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Ahmad Sahroni Resmi Kembali Jabat Pimpinan Komisi III DPR, Gantikan Rusdi Masse
Pilihan
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
-
Impor Mobil India Rp 24 Triliun Berpotensi Lumpuhkan Manufaktur Nasional
-
Jadwal Imsak Jakarta Hari Ini 20 Februari 2026, Lengkap Waktu Subuh dan Magrib
-
Tok! Eks Kapolres Bima AKBP Didik Resmi Dipecat Buntut Kasus Narkoba
Terkini
-
Gebrakan Anti-Rasuah Berbuah Manis, 4 PD Pemkot Surabaya Terima Predikat WBK
-
Survei Indekstat: Pengangguran Masih Jadi PR Utama Pemerintah Sejak Era Jokowi
-
Tembus 96 Persen! Wilayah Ini Jadi Pendukung Paling Loyal Prabowo-Gibran Menurut Survei Terbaru
-
Pengamat Ingatkan Menteri Jangan Jadikan Jabatan Batu Loncatan Politik
-
Gebrakan Prabowo di Washington, Bikin Investor Global Siap Guyur Modal ke RI?
-
Dari Parkiran Minimarket ke Rumah Kosong, Polda Metro Bongkar Peredaran 18 Kg Ganja di Jakbar!
-
Detik-detik Gerak Cepat Bareskrim Polri Sita Aset Kantor PT Dana Syariah Indonesia
-
Siap-siap! Todd Boehly Janji Boyong Chelsea dan LA Lakers ke Indonesia Usai Bertemu Prabowo
-
Lewat #TemanAdemRamadan, Aqua Kampanyekan Puasa Lebih Adem dan Sabar
-
Menlu Sugiono: Indonesia Siap Kirim 8.000 Personel Pasukan ISF, Fokus Lindungi Warga Sipil