- Rob semakin parah akibat perubahan iklim, membuat lingkungan anak di pesisir Semarang kian tidak layak.
- Tumbuh kembang anak usia dini terancam karena kesehatan dan aktivitas terganggu.
- Stimulasi dini memegang peranan penting untuk menyelamatkan masa depan anak.
Lebih spesifik lagi, kasus stunting tertinggi di Kecamatan Semarang Utara tersebut berada di Kelurahan Tanjungmas sebanyak 99 kasus dan Bandarharjo sebanyak 73 kasus stunting pada Oktober 2025. Kedua wilayah ini merupakan wilayah pesisir yang bersinggungan langsung dengan laut sehingga paling terdampak perubahan iklim.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Mochammad Abdul Hakam mengatakan perubahan iklim yang terjadi memberikan dampak secara langsung terhadap Kota Semarang dalam dua hal, yakni kesehatan ibu dan anak serta peningkatan kasus demam berdarah.
Merujuk pada data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang menduduki posisi pertama sebagai wilayah dengan kasus demam berdarah tertinggi di Jawa Tengah, tercatat ada sebanyak 3.981 kasus per Januari hingga Juni 2025.
Pihaknya telah melakukan pemetaan risiko wilayah sampai di tingkat RW untuk mendeteksi potensi risiko sejak dini dan menggerakkan lintas sektoral untuk mengintervensi secara cepat dan tepat. Program ini dinamakan LINCAH (Kolaborasi Lintas Sektoral Berbasis Peta Risiko Wilayah untuk Ketahanan Kesehatan Kota Semarang).
Melalui program tersebut, semua pihak, termasuk masyarakat, ikut dilibatkan untuk meminimalisir risiko masalah kesehatan yang terjadi. Monitoring dan evaluasi di tingkat wilayah dilakukan setiap bulan untuk memastikan intervensi yang dilakukan sudah tepat sasaran.
"Kita menyisir kelompok rentan terutama ibu hamil dan balita. Intervensinya bareng-bareng dengan seluruh komponen yang ada di wilayah tersebut termasuk masyarakat ikut serta," kata Hakam saat dihubungi Suara.com, Jumat (31/10/2025).
Sebagai salah satu contoh saat banjir rob datang, program LINCAH dijalankan dengan memetakan wilayah mana saja yang terdampak rob. Kemudian aparat tingkat desa/kelurahan dan kecamatan akan menyisir wilayah yang aman untuk dijadikan tempat evakuasi dan kegiatan-kegiatan rutin seperti penimbangan balita atau Posyandu agar tidak terganggu.
Kesadaran Orang Tua untuk Stimulasi Dini Menjadi Kunci
Selain menjalankan program berbasis peta risiko wilayah, pemerintah juga fokus membangun kesadaran orang tua terkait pola asuh keluarga. Pemerintah Kota Semarang menjalin kemitraan dengan filantropi Tanoto Foundation membangun Rumah Anak SIGAP atau Siapkan Generasi Anak Berprestasi, yakni pusat pelayanan pengasuhan dan pembelajaran untuk anak usia dini 0-3 tahun.
Rumah Anak SIGAP memiliki program kelas orang tua, yakni kelas sosialisasi dan pelatihan untuk para orang tua dari anak usia dini 0-3 tahun. Melalui kelas ini, Pemerintah Kota Semarang dan Tanoto Foundation membangun kesadaran orang tua untuk memaksimalkan tumbuh kembang anak mereka sehingga mampu meminimalisir dampak dari perubahan iklim yang terjadi.
“Dari 3 tahun yang sudah kita lakukan, hasilnya benar-benar signifikan. Nah ini bisa jadi contoh baik untuk daerah lain,” kata Hakam.
Head of Early Childhood Education and Development Tanoto Foundation, Michael Santoso mengatakan, kelas orang tua membantu para orang tua menyadari kebutuhan dasar setiap anak, yakni mendapatkan nutrisi yang baik, hidup sehat, bermain, belajar, dan berkembang. Semua hal tersebut sangat dibutuhkan untuk perkembangan otak anak usia dini sehingga mereka lebih siap di masa depan.
"Harapannya anak dapat berkembang secara penuh pada saat awal kehidupan, saat belajar ke depannya dia akan lebih maksimal, saat diajari hal kompleks seperti perubahan iklim akan lebih siap," ujar Michael dalam wawancara daring.
Saat ini, sebanyak 29 Rumah Anak SIGAP yang telah beroperasi, menjangkau 134.388 orang tua dan 75.238 anak usia dini di seluruh Indonesia. Sementara, di Rumah Anak SIGAP Bandarharjo tercatat ada 48 anak yang bergabung dalam Rumah Anak SIGAP. Mereka terbagi dalam empat kelompok umur, yakni kelompok 0–6 bulan, 6–12 bulan, 12–24 bulan, dan 24–36 bulan.
Setiap kelompok mendapatkan sesi stimulasi yang dilakukan setiap hari Senin sampai Jumat. Para fasilitator akan mengamati dengan teliti terkait respons anak, tinggi dan berat badan, kemampuan sensorik dan motoriknya. Jika setelah tiga kali intervensi tidak terlihat perubahan, maka anak akan dirujuk ke Puskesmas untuk pemeriksaan lebih lanjut.
"Di sini pencegahan, semua anak disaring. Nanti Puskesmas akan merujuk ke Rumah Pelita (Penanganan Stunting Lintas Sektor bagi Baduta)" kata Koordinator Rumah Anak SIGAP, Itis Arliani.
Berita Terkait
-
Di Papua, Perempuan Mengelola Laut Lewat Tradisi Sasi agar Tetap Lestari
-
Riset: Perempuan Jadi Garda Terdepan Jaga Hutan dan Ketahanan Iklim
-
TNI AL Latih UMKM Pesisir Olah Hasil Laut dan Kedelai, Dorong Kemandirian Ekonomi
-
Banjir Rob di Semarang Bikin Tekor Rp848 Miliar: Bagaimana Cara Mengatasinya?
-
Ancaman Baru dari Perubahan Iklim, Rantai Makanan Laut Ikut Terganggu
Terpopuler
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
'Pak Minta Nama!', Cerita Haru Nenek di Istana hingga Prabowo Usulkan Nama Adi Dharma
-
Puji Kontribusi Masif Warga Jateng, Pramono Anung: Pilar Penting Jakarta Menuju Kota Global!
-
Petaka Parkir di Bahu Jalan! Sigra 'Nangkring' di Pembatas Jalan Usai Dihantam Fortuner di Tangerang
-
Iran Berencana Kenakan Biaya untuk Kapal yang Melintas Selat Hormuz
-
Fasilitas Pipa Minyak Arab Saudi Pulih, Penyaluran Capai 7 Juta Barel Per Hari
-
Satpol PP Gandeng TNI-Polri Sikat Preman Tanah Abang, Pangkalan Bajaj Liar Ikut Ditertibkan
-
Vladimir Putin Siap Bersua Prabowo Subianto di Moskow, Isu Energi hingga Global Dibahas
-
Negosiasi dengan AS Gagal, Iran: Selat Hormuz Sepenuhnya di Tangan Kami!
-
Jelaskan Anggaran EO Capai Rp113,9 M, Kepala BGN: Mekanisme Sesuai Aturan dan Terbuka untuk Diawasi
-
Bukan Emas atau Berlian, Pemuda di Rembang Pinang Kekasih dengan Mahar Bibit Pohon Mangga!