- Wakil Ketua Umum PBNU, Amin Said Husni, menyerukan pengurus fokus pada tugas organisasi dan mengutamakan islah meredam konflik internal.
- Amin Said menegaskan mandat Ketua Umum dan Rais 'Aam PBNU hanya bisa dicabut melalui mekanisme Muktamar Luar Biasa (MLB).
- Penyelenggaraan MLB memerlukan kesepakatan bersama Ketua Umum dan Rais 'Aam sesuai AD/ART organisasi, bukan sepihak.
Suara.com - Suhu politik di internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kian memanas. Di tengah pusaran polemik dan tuduhan yang terus berkembang, Wakil Ketua Umum PBNU, Amin Said Husni, angkat bicara dan meminta seluruh jajaran pengurus untuk mendinginkan suasana serta kembali fokus pada penyelesaian tugas-tugas organisasi.
Amin Said menyerukan agar para pengurus tidak ikut terseret dalam arus konflik yang dapat merugikan jam'iyah. Ia menegaskan bahwa jalan islah atau rekonsiliasi adalah satu-satunya solusi untuk mengakhiri perseteruan yang terjadi, sesuai dengan nasihat para ulama sepuh.
Menurutnya, memelihara konflik hanya akan mendatangkan kerugian besar bagi Nahdlatul Ulama.
Secara konstitusional, Amin Said menjelaskan kedudukan Ketua Umum dan Rais ‘Aam PBNU sangat kokoh karena keduanya merupakan pemegang mandat langsung dari Muktamar, forum tertinggi di organisasi.
Oleh karena itu, ia menegaskan tidak ada forum lain yang memiliki kewenangan untuk mencabut mandat tersebut di tengah jalan, kecuali melalui mekanisme Muktamar Luar Biasa (MLB).
“Rapat atau permusyawaratan apa pun selain Muktamar tidak bisa memberhentikan Rais ‘Aam maupun Ketua Umum,” kata Amin Said, di Jakarta, Rabu (26/11/2025).
Penegasan ini menjadi jawaban atas dinamika yang terjadi, di mana muncul desakan dan manuver untuk melengserkan pimpinan PBNU saat ini. Amin Said meluruskan bahwa mekanisme untuk menggelar MLB pun tidak bisa dilakukan secara serampangan atau sepihak.
Ia menyebut, seorang Rais ‘Aam tidak dapat menyelenggarakan MLB secara sendirian. Proses tersebut harus digelar bersama dengan Ketua Umum PBNU dan harus memenuhi syarat serta ketentuan yang diatur secara sangat ketat dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Nahdlatul Ulama.
“Jadi tidak mudah. Ada mekanisme yang harus diikuti, dan semuanya jelas diatur dalam AD/ART,” jelas Amin.
Baca Juga: Surat Edaran Terbit, Sebut Gus Yahya Bukan Lagi Ketua Umum PBNU Mulai 26 November 2025
Mengingat masa khidmat kepengurusan PBNU periode ini akan segera berakhir pada Januari 2027, Amin menilai sisa waktu yang ada seharusnya dimanfaatkan secara produktif.
Dia bilang, energi besar organisasi lebih baik difokuskan untuk menuntaskan program-program kerja yang telah dirancang dan mempersiapkan penyelenggaraan Muktamar berikutnya dengan baik.
Menghabiskan energi untuk terus berkonflik, menurutnya, adalah tindakan yang sia-sia dan hanya akan membawa mudarat bagi NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia. Ia mengajak semua pihak untuk kembali ke khittah perjuangan para muassis NU.
“Untuk itu, jalan satu-satunya adalah islah sebagaimana nasihat ulama. Percuma memelihara perbedaan dan konflik. Malah hanya mendatangkan mudarat,” ungkapnya.
Dengan situasi yang kian memanas, Amin berharap semua pihak dapat menahan diri dan bersama-sama menciptakan kembali suasana yang teduh demi menjaga marwah dan kehormatan organisasi.
Hal ini penting agar seluruh program strategis NU yang sedang berjalan dapat terus berlanjut tanpa hambatan hingga akhir masa kepengurusan.
Berita Terkait
-
Gus Yahya Lulusan Pondok Mana? Rekam Jejak Pendidikannya Ternyata Alumni Kampus Mentereng
-
Surat Edaran Terbit, Sebut Gus Yahya Bukan Lagi Ketua Umum PBNU Mulai 26 November 2025
-
Gus Yahya Staquf Diberhentikan dari Ketua NU, Siapa Penggantinya?
-
Mahfud MD Soal Geger di Internal PBNU: Konflik Tambang di Balik Desakan Gus Yahya Mundur
-
Penasihat Khusus Gus Yahya Dicopot PBNU, Sosok Charles Holland Taylor Jadi Sorotan
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 5 Rekomendasi Sepeda Lipat di Bawah 5 Juta yang Ringan dan Stylish, Mobilitas Semakin Nyaman
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Wajah Baru Pasar Palmerah: Trotoar Akan Diperbaiki, Pedagang Tak Boleh Berjualan di Bahu Jalan
-
Singgung Tanggung Jawab Lembaga, Peneliti BRIN Minta Polri Setop Pakai Istilah Oknum
-
Aktivis Soroti Respons Istana ke Kritik BEM UGM: Harusnya Dialog, Bukan Serang Balik
-
Gugatan Larangan Anak Presiden Maju Pilpres Masuk MK, PDIP: Lemah, Tapi KKN Sekarang Memang Gila
-
Viral Trotoar Tebet Barat Berubah Jadi Pangkalan Truk Tinja, Terjadi Pembiaran Parkir Liar?
-
Momen Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan Menangis Jelang Vonis Perkara Tata Kelola Minyak
-
Tangis Ibunda Radit di DPR: Mahasiswa IPK 4,0 Jadi Terdakwa Pembunuhan di Pantai Nipah
-
Periksa Saksi dari Dinas PUPR, KPK Dalami Aliran Fee Proyek 4-10 Persen ke Wali Kota Madiun Maidi
-
Takut Bansos Dicabut, Warga Enggan Laporkan Kematian Keluarga
-
'Dia Pernah Jadi Klienku 25 Tahun', Hotman Paris Colek Prabowo Soal Nasib ABK Fandi Ramadhan