Taman Nasional Tesso Nilo
Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Riau dahulu dikenal sebagai salah satu habitat paling penting bagi Gajah Sumatera.
Kawasan ini dulunya memiliki hutan dataran rendah yang sangat kaya, menyediakan makanan, mineral, hingga tanaman obat yang penting bagi kesehatan gajah. Pada awal 2000-an, populasi gajah di TNTN diperkirakan mencapai sekitar 200 ekor.
Namun kondisi itu berubah drastis. Kini populasi Gajah Sumatera di Tesso Nilo diperkirakan hanya sekitar 150 ekor. Penyusutannya tidak hanya disebabkan oleh kematian alami atau konflik, tetapi terutama akibat hilangnya kawasan hutan yang menjadi jalur jelajah mereka.
Sekitar 85% wilayah TNTN telah beralih fungsi, sebagian besar menjadi kebun sawit ilegal dan permukiman. Perubahan ini membuat jalur pergerakan gajah terputus, sehingga mereka kehilangan akses terhadap sumber makanan alami.
Pemerintah sebenarnya pernah melakukan operasi besar dengan membongkar sekitar 4.700 hektar kebun sawit ilegal di dalam kawasan taman nasional, namun kerusakan yang sudah terjadi tetap meninggalkan dampak panjang pada populasi gajah.
Ketika jalur-jalur jelajah menyempit, gajah terdorong keluar dari hutan untuk mencari pakan dan kerap masuk ke wilayah manusia. Konflik pun mudah terjadi, menyebabkan cedera hingga kematian, baik pada gajah maupun warga.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kematian gajah tercatat di sekitar Tesso Nilo, mulai dari kasus penyakit, kelaparan akibat hilangnya pakan alami, hingga dugaan keracunan.
Kerusakan besar-besaran pada TNTN membuat kawasan yang dulunya menjadi pusat konservasi kini berubah menjadi lokasi yang kritis bagi keberlangsungan populasi gajah Sumatera. Tanpa pemulihan habitat secara konsisten, populasi sekitar 150 individu tersebut berisiko terus menyusut dan kehilangan kemampuan berkembang biak secara optimal.
Baca Juga: Apakah Dinding Perlu Diganti Setelah Banjir? Ini Perawatan dan Tips Mengatasinya
Kontributor : Hillary Sekar Pawestri
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Biodata dan Agama DJ Patricia Schuldtz yang Resmi Jadi Menantu Tommy Soeharto
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- 5 Sepatu Jalan Lokal Terbaik Buat Si Kaki Lebar Usia 45 Tahun, Berjalan Nyaman Tanpa Nyeri
- DPUPKP Catat 47 Hektare Kawasan Kumuh di Kota Jogja, Mayoritas di Bantaran Sungai
Pilihan
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
-
Mengapa Purbaya Tidak Pernah Kritik Program MBG?
-
Kuburan atau Tambang Emas? Menyingkap Fenomena Saham Gocap di Bursa Indonesia
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
Terkini
-
Korban Bencana Boleh Manfaatkan Kayu Hanyut, Kemenhut Juga Stop Penebangan Hutan
-
Politisi PDIP Ingatkan Prabowo: Jangan Buru-buru Bangun IKN, Siapkan Dulu Ekosistemnya
-
Bukan Sekadar Banjir: Auriga Desak KLHK dan KPK Usut Dugaan Korupsi di Balik Perusakan Lahan PT TPL
-
BNI Bersihkan Masjid Darul Aman Pascabanjir di Agam
-
Kritik Tajam ke Prabowo Soal IKN: Politisi PDIP Minta Stop Pembangunan Baru, Fokus Ini!
-
Mahfud MD Sebut Jaksa Tidak Fair dalam Kasus Nadiem Makarim, Ini Alasannya
-
Ini 5 Fakta Kerusakan Hutan di Indonesia yang Jadi Sorotan Dunia
-
Komisi III DPR Perjuangkan Nasib Hakim Ad Hoc dengan Syarat Mutlak Jangan Mogok Sidang
-
KPK Ungkap Istilah Uang Hangus dalam Kasus Gratifikasi Eks Sekjen MPR
-
Sebut Pelaporan Pandji Salah Sasaran, Mahfud MD: Dia Menghibur, Bukan Menghasut!