- Ketua IDAI mendorong pemerintah menetapkan banjir di tiga provinsi Sumatera sebagai bencana nasional karena dampaknya nyata.
- Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan disabilitas sangat rentan terhadap trauma dan penyakit di lokasi pengungsian.
- Penting dilakukan imunisasi serta dukungan pemenuhan gizi dan akses ASI bagi anak di lokasi pengungsian bencana.
Suara.com - Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Piprim Nasarah Yanuarso ikut mendorong pemerintah menetapkan tragedi banjir besar di tiga provinsi Sumatera sebagai bencana nasional.
Ia menilai dampaknya sudah sangat luas dan nyata, tidak hanya ramai di media sosial tetapi juga dirasakan langsung oleh warga di lapangan.
"Kami yakin ini bukan hanya heboh di medsos, memang di alam nyata juga heboh. Mudah-mudahan pemerintah bisa juga memasukkan ini sebagai bencana nasional. Ini saya kira sudah cukup besar dampaknya," kata Piprim dalam konferensi pers virtual, Senin (1/12/2025).
Dia menegaskan bahwa anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan dalam situasi darurat seperti bencana banjir. Selain anak, lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas juga berada dalam kategori rentan yang membutuhkan perlindungan ekstra.
"Anak-anak bisa mengalami trauma, ketakutan, cemas, bahkan mimpi buruk, sehingga mungkin perlu upaya-upaya seperti mengajak mereka bermain," ucapnya.
Piprim juga menekankan pentingnya pemenuhan gizi dan kebutuhan dasar anak selama berada di pengungsian. Ia mengapresiasi ketersediaan air bersih di beberapa titik, seperti yang disiapkan tenaga medis di Sumatera Utara.
Situasi pengungsian, lanjutnya, juga kerap menjadi tempat berkembangnya penyakit menular. Salah satu yang paling diwaspadai ialah campak, yang mudah menyebar di lingkungan padat dan terbatas.
"Biasanya di pengungsian itu ada penyakit campak yang mudah sekali nanti bisa menyebar kemana-mana. Oleh karena itu, imunisasi pada anak-anak di tempat pengungsian ini juga menjadi salah satu hal yang mungkin perlu diupayakan," kata Piprim.
Selain itu, Piprim mengingatkan pentingnya dukungan terhadap ibu menyusui di daerah bencana. Ia meminta agar tidak ada hambatan bagi para ibu yang ingin tetap memberikan ASI kepada anaknya selama masa pengungsian.
Baca Juga: IDAI Ingatkan: Dalam Situasi Bencana, Kesehatan Fisik hingga Mental Anak Harus Jadi Prioritas
“Jangan sampai ibu-ibu yang ingin tetap memberikan ASI, ini tidak kita dukung,” pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
Terkini
-
Ritual Ganjil Suami di Kendari: Usai Injak Istri hingga Tewas, Jasad Korban Dimandikan dan Disisir
-
Gudang Limbah Membara di Cikarang, Api Sambar Pemukiman dan Truk
-
Presiden Prabowo: Cahaya Kebijaksanaan Waisak Jadi Fondasi Karakter dan Persatuan Bangsa
-
Cikeas Penuh Karangan Bunga, Para Tokoh Beri Penghormatan Terakhir untuk Ryamizard Ryacudu
-
12 Unit Damkar Berjibaku Jinakkan Kebakaran Gudang Limbah di Rawajulang
-
Remaja Pembunuh Gadis 12 Tahun di Makassar Dijerat Pasal Berlapis, Ibu Korban Desak Hukuman Mati
-
Uang Tunai Rp65 Juta Jadi Abu, Tabungan Lansia di Blora Ludes akibat Kebakaran Rumah
-
Presiden Prabowo Berduka atas Kepergian Jenderal Ryamizard Ryacudu
-
Remaja Putri Tewas Terjebak Saat Api Mengamuk di Bengkel Cikupa
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend