- Menteri LH menyoroti penyusutan hutan lindung Jawa Barat menjadi 400 ribu hektare dari seharusnya 1,6 juta hektare.
- Penyusutan drastis kawasan lindung di Jawa Barat meningkatkan kerentanan wilayah terhadap bencana hidrometeorologi, seperti siklon.
- Kementerian LH meminta dukungan DPR agar pemerintah daerah patuh pada tata ruang berbasis lingkungan untuk mitigasi bencana.
Suara.com - Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq, menyoroti kondisi kritis kawasan hutan lindung di Jawa Barat dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI.
Menurutnya, bahwa kawasan hutan lindung di provinsi tersebut telah menyusut secara drastis hingga 1,2 juta hektare, yang berdampak pada meningkatnya kerentanan wilayah tersebut terhadap bencana hidrometeorologi.
Dalam rapat yang digelar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/12/2025), Hanif awalnya memaparkan potensi ancaman bencana akibat siklon di Pulau Jawa.
Ia mengajak semua pihak belajar dari bencana di Sumatera yang dipicu oleh faktor alam dan curah hujan tinggi.
"Kemudian untuk siklon di utara dari Sumatera ini, jumlah volume hujannya dua kali dari kejadian yang ada di Ciliwung, sehingga dengan demikian kita juga patut memproyeksikan seandainya siklon ini berada di Jawa, maka potensi bencananya akan sangat besar. Untuk itu tentu keberadaan pimpinan rapat ini harus kita inisiasi untuk melakukan langkah-langkah adaptasi terkait dengan konteks ini," katanya.
Pemerintah dinilai perlu mengambil langkah strategis guna memitigasi risiko tersebut.
Hanif secara khusus menyoroti Jawa Barat sebagai contoh wilayah yang mengalami degradasi kawasan lindung secara masif.
"Baru-baru ini dengan Sumatera Utara, maka kemudian ini harus membangkitkan kita semua mengambil ahli, pemerintah harus hadir untuk bersama merumuskan langkah-langkah operasional, semisal kalau kita bicara Jawa Barat, maka Jawa Barat telah kehilangan kawasan lindungnya sejumlah 1,2 juta hektare," ungkap Hanif.
Penurunan luas hutan ini dinilai sangat mengkhawatirkan. Dari total 1,6 juta hektare yang seharusnya ada, kini tersisa sangat sedikit untuk menopang ekosistem.
Baca Juga: Aceh Tamiang Masih Tenggelam dalam Genangan Pasca banjir
Sehingga hari ini Jawa Barat hanya dilindungi 400 ribu hektare untuk kawasan lindung yang melindungi ekosistem di bawahnya, sehingga sangat rentan bencana," ujar Hanif.
Ia menegaskan, bahwa penyusutan ini bertentangan dengan rekomendasi kajian lingkungan.
Alih-alih ditambah untuk memperkuat daya dukung lingkungan, luas kawasan lindung justru terpangkas signifikan dalam peraturan daerah terbaru.
"Berdasarkan kajian lingkungan hidup yang strategis yang ditandatangani Menteri, seharusnya area lindung yang sejumlah 1,6 juta itu ditingkatkan bukan dihilangkan. Namun, dalam peraturan daerah tahun 2022 tentang data ruang Provinsi Jawa Barat, kawasan lindung itu tinggal 400 ribu," tegasnya.
Untuk itu Kementerian LH meminta dukungan politik dari parlemen untuk mendorong pemerintah daerah agar lebih patuh terhadap perencanaan tata ruang yang berbasis lingkungan demi mencegah bencana di masa depan.
"Kami telah menyurati banyak pihak, sepertinya perlu dukungan politik dari Komisi 12 untuk kemudian mengingatkan kita semua agar mentaati daya dukung, daya tampung dalam perencanaan kabupaten, provinsinya masing-masing untuk melakukan langkah-langkah mitigasi terkait dengan potensi bencana ini," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Pramono Anung: Dampak Bencana di Sumatera Jauh Lebih Besar dari Prediksi Awal
-
Jembatan Juli Ambruk, Warga Bertaruh Nyawa Lintasi Sungai dengan Kabel Baja
-
Krisis BBM Meluas di Tapanuli Akibat Bencana Banjir Sumatera
-
Aceh Tamiang Masih Tenggelam dalam Genangan Pasca banjir
-
Azizah Salsha Sumbang Sejumlah Uang ke Korban Banjir Sumatera, Aksinya Disorot
Terpopuler
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- 4 HP dengan Baterai 8000 mAh Plus Tahan Hingga 2 Hari, RAM 8 GB Cocok Buat Ojol
- 11 Pilihan HP Murah Bujet Rp1-2 Juta, Spek dan Performa Terbaik untuk Multitasking
- 6 Cara Membedakan Jam Tangan Seiko Asli atau Palsu, Biar Tidak Tertipu saat Beli
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Kronologi Menantu Bakar Rumah Mertua di Lubuklinggau, 11 Rumah Hangus
-
Shakira hingga BTS Tampil di Final Piala Dunia 2026, Ini Fakta Halftime Show Bersejarah
-
Final Piala Dunia 2026: Spanyol Taktis vs Argentina Adaptif, Siapa Unggul?
-
Suami Istri Kompak Jadi Spesialis Curanmor dan Bobol Rumah di Palembang, Polisi Ungkap Modusnya
-
Argentina Road to Final Piala Dunia 2026: Dua Kali Lolos dari Lubang Jarum
-
Spanyol Road to Final Piala Dunia 2026: Ditahan Tim Debutan Kini Tantang Juara Bertahan
-
LRT Sumsel Kampanyekan Transportasi Publik, Penumpang Stasiun Cinde Tembus 110 Ribu
-
Tagih Utang Berujung Maut, Pria di Palembang Tewas dengan Luka Bacok di Punggung
-
Echa Waode Tuntut Natalius Pigai Jamin Hak LGBT: Negara Jangan Diam Lihat Rakyat Dipersekusi!
-
Sikat 1,5 Ton Bahan Narkoba, Pemasok Laboratorium 'Pil Jin' Semarang Diringkus di Cakung!