- Restorasi mangrove intensif Filipina gagal karena bibit ditanam di lokasi salah, mengabaikan kebutuhan biologis ekosistem.
- Hutan mangrove hasil penanaman sering memiliki struktur sederhana, gagal beregenerasi alami, dan minim fungsi ekologis penting.
- Pelajaran utama adalah memprioritaskan pemahaman sains zonasi, memulihkan hidrologi, dan kebijakan pendukung restorasi ekologis.
Samson dan Rollon menekankan bahwa pegiat restorasi memerlukan panduan yang lebih baik mengenai lokasi penanaman. Lokasi terbaik biasanya berada di lereng landai yang berada di atas rata-rata permukaan laut dan tergenang pasang kurang dari sepertiga waktu. Memahami zonasi alami mangrove adalah langkah pertama yang tidak bisa ditawar.
2. Fokus pada Pemulihan Alami
Daripada berfokus pada penanaman massal, pendekatan yang lebih efektif adalah membantu alam memulihkan dirinya sendiri. Ini bisa dilakukan dengan memperbaiki kondisi hidrologi (aliran air) di tambak-tambak terlantar. Ketika aliran pasang surut kembali normal, bibit mangrove alami sering kali dapat tumbuh dengan sendirinya tanpa perlu ditanam.
3. Kebijakan yang Mendukung Ekosistem
Pemerintah perlu mempermudah proses konversi tambak ikan yang terbengkalai kembali menjadi hutan mangrove. Meskipun ini adalah persoalan hukum dan politik yang rumit, kebijakan yang berpihak pada restorasi ekologis akan memberikan dampak jangka panjang yang lebih besar daripada proyek penanaman seremonial.
Di Indonesia, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) telah mulai menerapkan pendekatan yang lebih berbasis sains, dengan fokus pada rehabilitasi hidrologi dan pemberdayaan masyarakat.
Pada akhirnya, restorasi mangrove bukan sekadar menanam pohon di lumpur. Ini adalah upaya mengembalikan fungsi ekosistem yang kompleks. Dengan belajar dari kegagalan, kita dapat memastikan bahwa setiap upaya restorasi di masa depan tidak hanya hijau di atas kertas, tetapi benar-benar hidup dan berkelanjutan di pesisir.
Berita Terkait
-
Rezeki yang Hilang Ditelan Gelombang Laut dan Abrasi Pesisir Pantai Cilacap
-
Mengapa Restorasi Mangrove Kini Jadi Kunci Lindungi Pesisir Indonesia?
-
Dari Api-api hingga Nipah: Ini Dia Ragam Kekayaan Ekosistem Mangrove Indonesia
-
Pantai Jadi Destinasi: Siapa yang Mendapat Untung, Siapa yang Tersisih?
-
Stigma di Tengah Krisis Iklim: Potret Ketidakadilan di Pesisir Demak
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Sunscreen Menghilangkan Flek Hitam Usia 40 Tahun
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 5 Bedak Murah Mengandung SPF untuk Dipakai Sehari-hari, Mulai Rp19 Ribuan
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 50 Kode Redeem FF Terbaru 17 Januari 2026, Klaim Hadiah Gojo Gratis
Pilihan
-
Fadli Zon Kaget! Acara Serah Terima SK Keraton Solo Diserbu Protes, Mikrofon Direbut
-
Tim SAR Temukan Serpihan Pesawat ATR42-500 Berukuran Besar
-
KLH Gugat 6 Perusahaan Rp 4,8 Trliun, Termasuk Tambang Emas Astra dan Toba Pulp Lestari?
-
Bursa Transfer Liga Inggris: Manchester United Bidik Murillo sebagai Pengganti Harry Maguire
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
Terkini
-
Atasi Banjir Jakarta, Dinas SDA Kerahkan 612 Pompa Stasioner dan Ratusan Pompa Mobile
-
Cuaca Buruk dan Medan Terjal Hambat Pencarian Pesawat ATR Hilang di Maros
-
Hujan Semalaman, 29 Ruas Jalan di Jakarta Masih Terendam Banjir
-
Jaring Aspirasi Lewat Media Kreatif, Baharkam Polri Gelar Festival Komik Polisi Penolong
-
Hujan Deras Kepung Jakarta, 48 RT Masih Terendam Banjir Hingga Minggu Siang
-
KPK: Eks Sekjen Kemnaker Diduga Beli Innova Zenix Pakai Uang Hasil Pemerasan TKA
-
Konsisten Berdayakan Desa, BNI Raih Penghargaan Hari Desa Nasional 2026
-
Konsisten Berdayakan Desa, BNI Raih Penghargaan Hari Desa Nasional 2026
-
Konsisten Berdayakan Desa, BNI Raih Penghargaan Hari Desa Nasional 2026
-
Banjir Lumpuhkan Sejumlah Rute Transjakarta, Penumpang Diimbau Cek Aplikasi