- Analis politik Boni Hargens mengkritik Komite Reformasi Polri berpotensi mengalami paralisis analisis tanpa aksi konkret.
- Stagnasi komite ini mengancam hilangnya kepercayaan publik terhadap progres reformasi kepolisian yang berjalan.
- Kurangnya transparansi berisiko menyebabkan penyusupan kepentingan politik serta melemahkan independensi institusi Polri.
Suara.com - Analis politik senior Boni Hargens melayangkan kritik keras terhadap Komite Reformasi Polri yang dinilai berpotensi terjebak dalam paralysis of analysis atau paralisis analisis—yakni kondisi ketika proses kajian dan diskusi dilakukan secara berlarut-larut tanpa menghasilkan keputusan maupun aksi nyata.
Boni menegaskan bahwa gejala paralisis analisis dapat membawa dampak serius bagi agenda reformasi kepolisian yang saat ini telah berjalan progresif di bawah komando Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
“Komite Reformasi Polri menghadapi risiko serius terjebak dalam siklus analisis tidak berujung tanpa menghasilkan aksi konkret karena bekerja tidak cepat dan tidak transparan,” ujar Boni.
Menurut Boni, potensi stagnasi ini justru menghambat capaian-capaian reformasi yang telah dilakukan Polri.
Bila komite tidak bergerak cepat, publik akan kehilangan kepercayaan terhadap komitmen pemerintah dalam memperbaiki institusi kepolisian.
Lebih jauh, ia memperingatkan bahwa menurunnya kepercayaan masyarakat dapat menciptakan jurang semakin lebar antara publik dan institusi penegak hukum.
Padahal, kata dia, sinergi dan kepercayaan publik merupakan fondasi penting dalam menciptakan keamanan yang adil dan berkelanjutan.
“Masyarakat yang menanti perubahan nyata akan semakin kehilangan kepercayaan. Ini berbahaya karena kepercayaan publik adalah modal utama Polri dalam menjalankan fungsi penegakan hukum,” jelasnya.
Boni juga menyoroti ancaman masuknya kepentingan politik dalam proses reformasi jika komite bekerja tanpa transparansi. Minimnya keterbukaan membuat agenda tersembunyi pihak tertentu mudah menyusup.
Baca Juga: Jenazah Alvaro Kiano Nugroho Diserahkan Kembali ke Keluarga
Ia bahkan menilai ada risiko kelompok politik tertentu memanfaatkan situasi untuk memengaruhi arah reformasi, termasuk mendorong pergantian pimpinan Polri demi agenda kekuasaan.
“Jika proses reformasi tidak terbuka, kelompok-kelompok berkepentingan bisa menyusupkan agenda mereka. Ini sangat berbahaya, termasuk risiko mengganti pimpinan Polri untuk tujuan politik,” tegasnya.
Menurutnya, apabila Polri sampai kehilangan independensinya, institusi tersebut bisa berubah dari penegak hukum yang netral menjadi alat politik.
Boni mengingatkan bahwa paralisis analisis dapat melemahkan legitimasi Polri. Jika kepolisian dibajak oleh kepentingan politik, reformasi yang tengah berjalan akan rusak dari akar.
“Independensi Polri adalah jaminan demokrasi. Ini harus dijaga agar tidak dibajak kepentingan politik,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pergantian pimpinan Polri seharusnya berdasarkan merit dan kompetensi, bukan kalkulasi politik.
Berita Terkait
-
Jenazah Alvaro Kiano Nugroho Diserahkan Kembali ke Keluarga
-
Catut Nama Perusahaan Tambang, Anggota DPR Khilmi Terancam Dilaporkan ke MKD dan Mabes Polri
-
Tegaskan Polri Tetap di Bawah Presiden Prabowo, Habiburokhman: Saya Orangnya Pak Prabowo
-
Pakar Hukum Desak Reformasi Polri Secara Radikal: Komisi III Harus Berani Berbenah Total
-
Komisi III DPR: Reformasi Polri Harus Kultural, Bukan Struktural
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Jangan Anggap Sepele Nyeri Pinggang Mendadak, Bisa Jadi Tanda Batu Saluran Kemih
-
Motul Perluas Jangkauan di Jawa Barat, Dorong Pertumbuhan Ekosistem Otomotif Nasional
-
Igor Tolic Beberkan Faktor X yang Bikin Persib Hajar Arema di Piala Presiden 2026
-
Naik Kereta untuk Liburan? Jangan Lupa Siapkan Antisipasi Jika Jadwal Berubah
-
Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Koalisi Sipil Desak Pengusutan Tuntas Tanpa Intervensi
-
MAXI Yamaha Day Jabar 2026 Pikat Komunitas dengan Budaya dan Alam Kuningan
-
Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap
-
Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta
-
Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal
-
Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali: Abu Hitam Pekat Selimuti Langit Selat Sunda