- Profesor Ikrar Nusa Bakti mengkritik keras menteri Kabinet Prabowo awal 2026 karena tidak kompeten dan fokus pencitraan.
- Ikrar mendesak Presiden Prabowo segera melakukan perombakan kabinet besar-besaran karena kinerja menteri dianggap gagal.
- Kritik khusus ditujukan pada Zulhas terkait pencitraan dan Bahlil atas janji pemulihan listrik pascabencana yang tak terealisasi.
"Ya, kalau buat saya gini, kenapa enggak diganti secepatnya saja sih? Cari orang yang lebih pandai daripada Bahlil," tambahnya.
Menurut Ikrar, situasi tersebut terjadi karena Prabowo bukan sosok yang memahami ketatanegaraan Republik Indonesia secara mendalam.
Ia juga menilai Prabowo hanya menerima informasi dari para menteri atau orang-orang di lingkaran dalam yang justru menutup akses Presiden untuk mengetahui kondisi lapangan yang sebenarnya.
Ikrar menilai ketidakmampuan menteri-menteri tersebut semakin diperparah dengan posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dianggap tidak mampu mengambil peran signifikan seperti Jusuf Kalla di masa lalu.
Hal ini membuat Prabowo seolah bekerja sendirian dalam menangani persoalan kedaulatan, bencana di Sumatera, hingga kondisi ekonomi yang merosot.
"Ini kan kelihatannya Pak Prabowo kasihan juga ya karena dia kayaknya sendiri karena wakil presidennya tidak bisa m-backup penuh," pungkas Ikrar.
"Wakil presidennya ini kan kelihatannya enggak punya kemampuan, enggak punya konsep bagaimana menangani bencana. Ini beda dengan waktu zaman SBY, Pak JK itu. Hopeless," lanjutnya.
Profesor Ikrar menyarankan agar Prabowo segera melakukan pergantian menteri dan wakil menteri yang tidak berfungsi maksimal, terutama menteri kehutanan yang dinilai terlalu lambat karena selalu menunggu persetujuan Presiden.
Reporter: Dinda Pramesti K
Baca Juga: Pemerintah Pusat Puji Gerak Cepat Gubernur Bobby Nasution Bangun Huntap Korban Bencana
Berita Terkait
-
Pemerintah Pusat Puji Gerak Cepat Gubernur Bobby Nasution Bangun Huntap Korban Bencana
-
Prabowo Setujui Satgas Kuala! Anggarkan Rp60 Triliun untuk Keruk Sungai dari Laut
-
Tinjau Bencana Sumatra, Prabowo Rayakan Tahun Baru Bersama Pengungsi
-
Presiden Prabowo: Bantuan Bencana Wajib Transparan, Tak Ada Ujung-ujungnya Nagih
-
Prabowo: Bantuan Bencana Dibuka Seluas-luasnya, Tapi Harus Transparan dan Tanpa Kepentingan
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
Pilihan
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
Terkini
-
Biang Kerok Blackout! Polri Bongkar Korupsi Batu Bara PLTU yang Bikin Listrik Padam Massal
-
WNI Tewas Mengenaskan di Jepang, Terduga Pelaku Diduga Tabrakkan Diri ke Kereta
-
Mahfud MD Heran Fenomena UU 'Simsalabim': Tiba-tiba Jadi, Kapan Dibahasnya?
-
Bulog Respon Cepat Masukan Masyarakat, Direktur Operasi Tinjau Penanganan Gudang Karawang
-
Dewan Pers Kabulkan Pokok Aduan Gus Ipul atas Artikel Opini yang Dinilai Menyudutkan
-
Rumor 'Orang Dalam' Bocorkan OTT Kuansing Mencuat, KPK: Itu Cuma Spekulasi!
-
Soroti Fenomena 'Rule by Law', Eks Ketua KY Sebut Hukum Dibajak Oligarki Demi Proyek Elite
-
Kemendagri Koordinasikan Usulan BSPS dari Daerah untuk Perkuat Program Perumahan
-
Bukan Cuma Jakarta, PM Narendra Modi ke Yogyakarta Demi Restorasi Candi Prambanan
-
Online Scam hingga Ancaman Privasi: Era AI Butuh Tata Kelola Ruang Digital Berbasis HAM