News / Metropolitan
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:46 WIB
Sejumlah pengendara melintas di tupukan sampah yang ada di bahu Jalan Otista Raya, Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten. (ANTARA/Azmi Samsul M)
Baca 10 detik
  • Tumpukan sampah setinggi dua meter meluber di Jalan Otista Raya, Ciputat, Tangsel, menyebabkan kemacetan parah sejak awal 2026.
  • Pengiriman sampah dari Tangsel ke TPSA Cilowong dihentikan sementara karena penolakan warga Kota Serang per 6 Januari 2026.
  • Pemkot Tangsel fokus pada penataan TPA Cipeucang dan proyek Pembangkit Listrik Sampah sebagai solusi darurat.

Warga setempat secara tegas menyuarakan penolakan terhadap aktivitas pengiriman sampah yang berasal dari wilayah Tangerang Selatan menuju Tempat Pengolahan Sampah Akhir (TPSA) Cilowong.

Akibat tekanan massa tersebut, DLH Kota Serang secara resmi menutup pintu bagi truk-truk pengangkut sampah asal Tangsel per 6 Januari 2026 sore hari, yang seketika memutus rantai pembuangan akhir limbah warga Tangsel.

Aksi protes yang digelar warga di Kantor Kecamatan Taktakan pada Selasa (6/1/2026) mempertegas adanya kebuntuan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

Dengan membentangkan spanduk penolakan, warga mengirimkan sinyal keras bahwa mereka merasa tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan strategis yang berdampak langsung pada lingkungan mereka.

4. Titik Pasar Cimanggis Menyerupai Atap Bangunan

Kondisi di sekitar Pasar Cimanggis, Ciputat, saat ini terpantau sangat buruk dengan akumulasi sampah yang menggunung hingga ketinggiannya hampir menyamai atap bangunan pasar.

Timbunan limbah ini tak lagi hanya memenuhi tempat penampungan, tetapi sudah meluber jauh ke badan jalan, sehingga merampas hak pengguna jalan dan menghambat arus lalu lintas kendaraan.

Akibatnya, para pengendara yang melintas harus ekstra waspada dan melaju perlahan demi menghindari gundukan sampah tersebut. Tak sedikit juga warga yang tergesa-gesa sambil menutup hidung rapat-rapat, karena tak kuat menahan aroma busuk yang sangat menyengat dan menusuk hidung.

Diketahui gunungan limbah tersebut didominasi oleh tumpukan sampah domestik atau sisa kegiatan rumah tangga yang dikemas secara praktis menggunakan kantong-kantong plastik kresek dalam berbagai ukuran dan warna.

Baca Juga: IBL 2026: Misi Tangerang Hawks Melangkah Lebih Jauh

5. Keluhan Warga dan Pengendara

Dampak buruk dari krisis sampah ini mulai memukul sektor ekonomi lokal, di mana warga dan para pedagang yang berjualan di sekitar titik penumpukan mengeluhkan penurunan jumlah pembeli.

Penurunan omset ini terjadi lantaran aroma busuk yang sangat menyengat dan menusuk hidung membuat pelanggan merasa enggan serta tidak nyaman untuk sekedar singgah atau berbelanja di kawasan tersebut.

Selain itu, melubernya gunungan sampah ke tengah jalan telah memicu penyempitan lajur kendaraan yang signifikan, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas terutama bagi pengendara roda dua.

6. Solusi Penanganan dari Pemerintah Setempat

Dalam upaya menangani persoalan tumpukan sampah yang mulai mengepung kota, Pemkot Tangsel kini tengah mempercepat proses penataan dan revitalisasi di TPA Cipeucang, Serpong.

Load More