- Diplomat Senior Ple Priatna mengungkap skenario penggulingan Maduro melibatkan kekuatan asing dan pembelotan internal.
- Wakil Presiden Delcy Rodriguez diduga menjadi kolaborator utama dalam transisi kekuasaan yang direncanakan.
- Penggulingan Maduro direncanakan melalui instrumen finansial dan upaya suap, bukan invasi militer terbuka.
Suara.com - Teka-teki di balik krisis kepemimpinan di Venezuela dan jatuhnya Presiden Nicolas Maduro kini jadi sorotan. Diplomat Senior Ple Priatna mengungkap adanya skenario matang yang melibatkan kekuatan asing serta pembelotan di lingkaran inti kekuasaan Maduro.
Priatna menyoroti sosok Wakil Presiden Delcy Rodriguez sebagai figur sentral dalam transisi kekuasaan ini.
Menurutnya, posisi Rodriguez sebagai wakil presiden bukan sekadar kebetulan politik. Berbeda dengan Maduro yang dikenal sebagai tokoh sayap kiri radikal, Rodriguez dipandang sebagai sosok yang lebih moderat dan tidak konfrontatif terhadap masyarakat.
"Delcy Rodriguez ini muncul sebagai orang yang dikatakan tidak begitu radikal, tidak begitu keras, jadi bisa diterima. Namun, dari awal ia sudah diintip oleh kekuatan luar untuk digarap menjadi kolaborator," ungkap Priatna dalam kanal YouTube Bambang Widjojanto, Rabu (7/1/2026).
Hal yang mengejutkan adalah informasi mengenai adanya pertemuan rahasia di Doha, Qatar, yang terjadi setahun sebelum kejatuhan Maduro.
Priatna meyakini bahwa pertemuan tersebut ditengahi oleh Qatar dan Uni Emirat Arab dengan tujuan utama mendongkel kekuasaan Maduro.
"Sudah setahun lalu direncanakan untuk digulingkan dan diasingkan ke Qatar atau Turki, niat jahatnya sudah ada sejak lama, dan mereka menggunakan Delcy sebagai kolaborator di dalam," tambahnya.
Skenario penggulingan ini, menurut Priatna, tidak dilakukan melalui invasi militer terbuka, melainkan melalui pelemahan dari dalam menggunakan instrumen finansial.
Ia menyebut adanya upaya sistematis dari pihak asing, diduga melibatkan jaringan intelijen seperti CIA.
Baca Juga: Donald Trump Culik Nicolas Maduro, Apakah Amerika Berhak Menangkap Presiden Negara Lain?
Priyatna mencontohkan salah satu kegagalan suap yang sempat terjadi pada Juli 2025.
Saat itu, seorang pilot kepercayaan Maduro dikabarkan ditawari uang sebesar 50 juta dolar AS untuk berkhianat, meski upaya tersebut gagal karena sang pilot menolak.
"Ini adalah kombinasi antara ketidaksukaan internal dan pengaruh luar yang sangat besar. Dolar jutaan ditebar untuk menjadikan mereka kolaborator Amerika," jelasnya.
Menjawab pertanyaan mengenai mengapa sistem keamanan dan teknologi militer Venezuela yang canggih gagal mendeteksi pergerakan ini, Priyatna menyebut adanya faktor kelengahan atau sabotase internal di menit-menit terakhir.
Ia menilai, meski Maduro sudah menyadari permusuhan dengan Amerika sejak 2015, ia tidak menyangka bahwa pengkhianatan akan datang dari orang-orang paling dekat yang ia percayai.
Akibatnya, kekuatan militer dan radar yang dimiliki Venezuela seolah lumpuh menghadapi skenario pembelotan yang sangat rahasia tersebut.
"Maduro tidak tahu siapa orang dekat yang sebenarnya mendukungnya. Di situlah bahayanya. Mengapa negara sebesar itu bisa meleng di menit terakhir? Itu karena serangan datang dari dalam melalui instrumen suap, bukan sekadar kecanggihan teknologi militer," tutup Priatna.
Krisis di Venezuela ini menjadi pelajaran penting bagi peta geopolitik dunia mengenai bagaimana kekuatan intelijen dan instrumen ekonomi dapat mengubah peta kekuasaan sebuah negara tanpa melalui peperangan konvensional. (Tsabita Aulia)
Berita Terkait
-
Harga Minyak Anjlok! Pernyataan Trump Soal Minyak Venezuela Picu Kekhawatiran Surplus Global
-
Greenland Punya Tambang Melimpah, Trump Ngotot Mau Caplok Usai Serang Venezuela
-
Gedung Kedubes AS Diguncang Protes, Massa Buruh: Jangan Sampai Indonesia Jadi Sasaran Berikutnya
-
Aksi Solidaritas untuk Venezuela di Kedubes Amerika
-
Donald Trump Culik Nicolas Maduro, Apakah Amerika Berhak Menangkap Presiden Negara Lain?
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Sadis! Pria di Bantul Tewas Ditebas Parang di Depan Anak Istri Saat Tertidur
-
Minta Restu Jokowi, Mantan Bupati Indramayu Nina Agustina Bachtiar Gabung PSI
-
Sumsel Berduka, Mantan Gubernur Alex Noerdin Meninggal Dunia
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
Terkini
-
Harga Pangan Jakarta Mulai Merangkak Naik di Awal Ramadan
-
KPK Periksa Mantan Wakil Bupati Pati hingga Sejumlah Kepala Desa Terkait Dugaan Pemeresan Sudewo Cs
-
Suami Dwi Sasetyaningtyas Kena Sanksi LPDP, Mahfud MD Bongkar Alasan Ngeri WNI Benci RI
-
Kemenkes Reformasi Skema PPDS, Utamakan Putra Daerah untuk Atasi Krisis Dokter Spesialis
-
Kasus Korupsi Eks Dirjen Kominfo Semuel Abrijani: Apa Alasan Jaksa Menunda Pembacaan Tuntutan?
-
Sadis! Pria di Bantul Tewas Ditebas Parang di Depan Anak Istri Saat Tertidur
-
Mahfud MD Geram Pernyataan Dwi Sasetyaningtyas Soal Anak WNA, Setuju Sanksi Cabut Beasiswa
-
Jaksa Tetap Tuntut Marcella Santoso 17 Tahun Penjara Terkait Kasus Suap Minyak Goreng
-
Menkes Akui Pendidikan Dokter Spesialis di Indonesia Super Mahal, Sebut di Luar Negeri Justru Digaji
-
Kerusuhan Meksiko Disorot, Pemerintah Diminta Lindungi WNI dan Waspadai Ancaman Narkoba ke Indonesia