- Partai Demokrat, melalui Dede Yusuf, menyatakan mengikuti kebijakan Presiden Prabowo terkait isu Pilkada, setelah evaluasi dua dekade demokrasi.
- SBY telah menyerahkan keputusan strategis partai mengenai Pilkada kepada Ketua Umum AHY, fokus pada isu kemanusiaan mendesak.
- Demokrat memprioritaskan fokus pada percepatan rehabilitasi bencana Sumatera, menunda perdebatan teknis Pilkada hingga mendekati 2031.
Suara.com - Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Dede Yusuf, memberikan penjelasan mengenai perubahan sikap politik partainya terkait wacana Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tidak langsung atau melalui DPRD.
Ia menegaskan bahwa Partai Demokrat saat ini memilih untuk mengikuti arah kebijakan Presiden RI Prabowo Subianto.
Menurutnya, bahwa perubahan sikap ini didasari oleh evaluasi perjalanan demokrasi Indonesia selama dua dekade terakhir.
Ia menilai, setiap sistem pemilihan memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dikaji ulang secara berkala.
"Setiap periode, setiap konteks, kan kita sudah dua dekade melakukan itu (Pilkada langsung). Min plus-nya pasti ada. Undang-undang saja biasanya setelah 4-5 tahun itu pasti akan dievaluasi. Kami mencoba mengkaji, memanggil seluruh kepala daerah, termasuk menyerap masukan masyarakat," ujar Dede Yusuf di Komplek Parlemen, Senayan, Selasa (13/1/2026).
Terkait posisi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang sebelumnya dikenal konsisten mendukung Pilkada langsung, Dede mengungkapkan bahwa Presiden ke-6 RI tersebut kini telah menyerahkan sepenuhnya keputusan strategis partai kepada Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
"(Sikap SBY) sudah diserahkan kepada Ketua Umum kami, Mas AHY, untuk mengambil keputusan terkait dengan kebijakan-kebijakan Partai Demokrat. Termasuk (soal Pilkada)," tegasnya.
Dede menambahkan bahwa SBY juga memberikan arahan agar partai tidak terjebak dalam perdebatan politik yang waktunya masih cukup jauh.
Mengingat siklus Pilkada berikutnya baru akan terjadi pada 2031, SBY meminta Demokrat fokus pada urusan kemanusiaan yang lebih mendesak.
Baca Juga: Dede Yusuf Jelaskan Makna 'Matahari Satu' SBY: Demokrat Satu Komando di Bawah AHY
Saat ini, fokus utama Partai Demokrat dan pemerintah adalah percepatan rehabilitasi bencana di Sumatera, di mana Menteri Dalam Negeri telah ditunjuk sebagai Ketua Satgas. Dede menyebut penanganan bencana ini jauh lebih penting daripada meributkan mekanisme Pilkada saat ini.
"Proses ini masih panjang. Ada rehabilitasi bencana di Sumatera yang membutuhkan proses dan biaya besar. Pak SBY mengatakan kita fokus pembenahan ini dulu. Urusan pilihan masih 2031. Jadi, pada prinsipnya saat ini kita ikut dengan rencana Presiden (Prabowo)," imbuhnya.
Lebih lanjut, Dede menyampaikan bahwa urusan teknis mengenai sistem pemilihan nantinya akan dibahas secara mendalam melalui Panitia Kerja (Panja) UU Pemilu di DPR.
Namun untuk saat ini, Demokrat memilih untuk menjaga kondusivitas dengan mendukung kebijakan pemerintah.
"Kita akan melakukan pembahasan demi pembahasan ke depan. Sederhananya seperti itu karena kami tetap akan menerima masukan dari masyarakat," pungkasnya.
Tag
Berita Terkait
-
Dede Yusuf Jelaskan Makna 'Matahari Satu' SBY: Demokrat Satu Komando di Bawah AHY
-
SBY: Matahari di Partai Demokrat Hanya Satu, Mas AHY
-
Lobi Prabowo-SBY Bikin Demokrat Ubah Sikap Soal Pilkada? Ini Kata Gerindra
-
Sebut Politik Dinamis, Dede Yusuf Ungkap Alasan Demokrat 'Lirik' Pilkada Lewat DPRD
-
SBY dan Hoax Ijazah Jokowi, Manuver Demokrat di Pusaran Politik Digital
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
Pilihan
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
Terkini
-
Risiko Bencana Alam, Bupati dan Wali Kota Jabar Diminta Hentikan Pembangunan di Hutan & Perkebunan
-
Skandal Epstein Memanas! Pam Bondi Akui Ada Kesalahan, DPR AS Curiga Ada Fakta yang Ditutupi
-
Banten Media Hub 2026: Ikhtiar Strategi Komunitas Media Lokal Bertahan di Era Digital
-
Prabowo Akhiri Kunjungan Kenegaraan di Prancis, Bertolak Kembali ke Jakarta
-
Mangkir dari Pemeriksaan Gas 'Whip Pink', Influencer ZNM dan Dua Saksi Lain Dijemput Paksa Polisi
-
Dulu Diminta Balik ke Barak, Ray Rangkuti Kritik TNI Kini 'Kepung' Ranah Sipil
-
Modus Pungli dan Titipan dalam SPMB 2026, dari Uang Bangku hingga Rekayasa Domisili
-
Tragedi Jip Wisata Bromo: Rem Blong di Tikungan Letter S Wonokitri, Dua Orang Tewas
-
Bahaya Gas N2O Whip Pink: Konsumen Alami Lumpuh Temporer hingga Kerusakan Saraf Tepi
-
Polisi Ungkap Kronologi dan Penyebab Sementara Ledakan PT MCCI Cilegon