- Partai Gerindra menegaskan tidak mempengaruhi perubahan sikap Partai Demokrat mendukung Pilkada melalui DPRD.
- Perubahan sikap Demokrat merupakan urusan internal dan hasil kajian atas evaluasi Pilkada langsung selama satu dekade.
- Demokrat berpendapat biaya politik tinggi pada Pilkada langsung memicu korupsi dan PSU masif di 2024.
Suara.com - Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Prasetyo Hadi menegaskan tidak ada campur tangan Gerindra untuk membujuk Partai Demokrat hingg membuat sikap mereka soal Pilkada bergeser, dari mendukung Pilkada langsung berbelok jadi ikut mendorong sistem pemilihan via DPRD.
Menurut Pras, keputusan Partai Demokrat tersebut menjadi urusan internal masing-masing partai.
"Itu sikap masing-masing partai," ucap Pras di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Pras menegaskan sekaligus perubahan sikap Partai Demokrat tersebut tidak ada hubungannya dengan pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto (Ketua Umum Partai Gerindra) dengan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY, yang juga Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat.
"Nggak, nggak ada," kata Pras menanggapi pertanyaan ihwal pertemuan Prabowo dan SBY pada akhir tahun.
Sementara, bagaimana sikap Gerindra perihal keputusan Partai Demokrat, Pras menegaskan tidak ada masalah. Menurutnya perubahan haluan Demokrat itu atas kajian yang sudah dilakukan internal.
"Ya kalau kita pasti menghormati ya pandangan setiap partai masing-masing kan. Pasti tidak mungkin juga memutuskan tanpa melakukan perhitungan atau melakukan kajian-kajian," katanya.
Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Dede Yusuf menegaskan bahwa perubahan sikap ini bukan berarti Demokrat berbalik arah tanpa alasan, melainkan bentuk respons terhadap dinamika politik dan evaluasi atas pelaksanaan Pilkada selama satu dekade terakhir.
"Tidak bisa dibilang berbalik pikiran ya, tetapi politik itu dinamis, tiap periode punya masanya, dan 10 tahun ini ketika kita sudah melaksanakan Pilkada terbuka, pada kenyataannya ini juga berdasarkan data yang ada bahwa tidak berarti kepala daerah-kepala daerah hasil pilihan terbuka itu ternyata mampu meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan di masyarakatnya dengan baik,” ujar Dede kepada wartawan, Kamis (8/1/2026).
Baca Juga: Pilkada Lewat DPRD Bukan Cuma Hemat Biaya, Populi Center: Ini 4 Syarat Beratnya
Menurutnya, mahalnya biaya politik dalam Pilkada langsung menjadi pemicu utama munculnya berbagai masalah, termasuk maraknya kasus korupsi yang menjerat kepala daerah.
“Mengapa? Karena memang biaya politik makin mahal, cost untuk Pilkada makin tinggi sekali, dan terjadi politik uang yang sangat-sangat masif yang menyebabkan banyaknya kepala daerah kemudian berurusan dengan penegak hukum karena tadi bermain-main dengan anggaran,” jelasnya.
Ia juga menyoroti banyaknya Pemungutan Suara Ulang (PSU) pada Pilkada 2024 sebagai bukti nyata dampak negatif dari politik uang yang masif di lapangan.
Dede berpendapat bahwa pemilihan melalui DPRD tetap konstitusional dan demokratis. Menurutnya, undang-undang memberikan ruang bahwa Pilkada bisa dilakukan secara langsung maupun melalui perwakilan.
“Penyelenggaraan Pilkada secara undang-undang itu harus dilakukan secara demokratis. Demokratis itu bisa terbuka secara langsung, bisa juga tertutup. Tertutup artinya apa? Dipilih oleh DPRD karena itu bagian dari perwakilan. Oleh karena itu tidak melanggar undang-undang, dan kita bisa mencoba dengan tujuan melakukan efisiensi penghematan terhadap alokasi anggaran,” tuturnya.
Berita Terkait
-
Pilkada Lewat DPRD Bukan Cuma Hemat Biaya, Populi Center: Ini 4 Syarat Beratnya
-
Rakyat Tolak Pilkada via DPRD, Deddy Sitorus: Mereka Tak Mau Haknya Dibajak Oligarki
-
Tanggapi Survei LSI Denny JA, PKB Sebut Pilkada Lewat DPRD Bagian dari Demokrasi
-
Mayoritas Publik Tolak Pilkada Lewat DPRD, Golkar: Mungkin Yang Dibayangkan Pilkada Model Orba
-
Sebut Politik Dinamis, Dede Yusuf Ungkap Alasan Demokrat 'Lirik' Pilkada Lewat DPRD
Terpopuler
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- 6 HP Snapdragon Paling Murah RAM 8 GB untuk Investasi Gadget Jangka Panjang
- Sabun Cuci Muka Apa yang Bagus untuk Atasi Kulit Kusam? Ini 5 Pilihan agar Wajah Cerah
- 5 HP Infinix Termurah dengan Fitur NFC yang Canggih, Mulai Rp1 Jutaan
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Proyek Dikebut! Stasiun JIS Siap Beroperasi Juni 2026, Warga Bisa Naik KRL Langsung ke Stadion
-
Terungkap! OTT KPK di Tulungagung Diduga Terkait Skema Pemerasan
-
OTT KPK Tulungagung: 13 Orang Dibawa ke Jakarta, Bupati Ikut Diperiksa
-
Bupati Tulungagung Kena OTT KPK, Uang Ratusan Juta Ikut Disita
-
Kasus Pegawai KPK Gadungan Peras Sahroni, Ketua KPK Minta Tunggu Hasil Pemeriksaan Polisi
-
Jakarta Jadi Kota Paling Aman ke-2 di ASEAN, Tapi Pramono Akui Masih Ada Premanisme
-
Pramono Anung Larang Ondel-Ondel Ngamen di Jalan Jakarta, Ini Alasannya
-
DPRD DKI Bentuk Pansus, Target Jakarta Bebas Sampah 2030
-
Sampah Setinggi 6 Meter di Pasar Induk Kramat Jati Berhasil Dibersihkan
-
Tepis Isu Menyerah, Kaposwil Safrizal Jelaskan Lagi Progres Pembersihan Pasca-Banjir Aceh