- Dosen UGM, Zainal Arifin Mochtar, menyatakan pejabat publik harus terbiasa menerima kritik, termasuk melalui format roasting.
- Roasting berfungsi sebagai penanda penting dalam membedakan ekspresi kritik dari potensi penghinaan oleh negara.
- Uceng menegaskan bahwa kritik adalah fundamental demokrasi dan negara tidak boleh memiliki sensitivitas berlebihan terhadap suara publik.
Uceng menilai forum tersebut sebagai ruang silaturahmi yang tidak biasa sekaligus sehat dalam demokrasi.
"Saya senang sih, maksud saya satu, jelas menggeser bahwa kritik, menyampaikan sesuatu itu kan tidak harus dengan cara-cara serius banget ya. Ada banyak banget cara dan saya kira model-model begini ini menarik bagi saya," ucapnya.
Menurutnya, kedewasaan demokrasi dapat diukur dari kemampuan seseorang atau institusi dalam menerima kritik. Termasuk kritik yang dibungkus humor.
"Kan gini, tingkat pertemanan seseorang itu bisa dinilai ketika dia bisa mengkritik dan menerima kritikan dan saya kira positif sekali," tandasnya.
Di luar suasana bercanda, Uceng menyinggung isu serius yang akan ia angkat dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar besok. Ia menyoroti menguatnya konservatisme otoritarian yang dinilai menggerus independensi lembaga negara.
"Saya bicara besok itu saya bicara soal menguatnya konservatisme otoritarianisme itu membunuh lembaga negara. Lembaga negara banyak yang mati itu independensinya, kayak KPK dan bukan khas Indonesia karena di berbagai negara juga mengalami hal yang sama," terangnya.
Ia memperingatkan bahwa arus balik demokratisasi global menuju konservatisme dapat membawa dampak berbahaya jika tidak direspons secara serius.
"Jadi saya mau bilang gelombang demokratisasi ketiga itu seakan-akan sudah mulai arus balik sekarang ke arah konservatif. Dan ini akan berbahaya. Konservatisme menguat itu akan berbahaya karena kemudian membuat gelombang demokrasi akan berhenti," kata dia.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Berikut Harga Kurs Dolar AS di Mandiri, BNI, BRI dan BCA
Berita Terkait
-
Terapkan KUHP Baru, Kejagung Akan Minimalisir Hukuman Penjara untuk Kejahatan Ringan
-
Setelah Resmikan Proyek Besar di Balikpapan, Apa Agenda Rahasia Prabowo di IKN?
-
Rupiah Melemah, Berikut Harga Kurs Dolar AS di Mandiri, BNI, BRI dan BCA
-
Romantisasi UMKM: Negara yang Absen, Warga yang Dipaksa Adaptif
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- 6 Sepatu Puma Wanita yang Lagi Diskon 55 Persen di Toko Resmi, Ada Model Lari hingga Sneaker
Pilihan
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
Terkini
-
Remaja Putri Tewas Terjebak Saat Api Mengamuk di Bengkel Cikupa
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Penghormatan Terakhir Jenderal Ryamizard Ryacudu: Disemayamkan di Kemhan, Dimakamkan di Kalibata
-
PSG Juara, Prancis Membara! 22.000 Polisi Tak Mampu Bendung Amuk Massa
-
Bom Sisa Perang Dunia II Meledak di Biak, 5 Tewas dan 3 Hilang
-
Update Rusuh di Paris Usai PSG Juara Liga Champions: 1 Orang Tewas 780 Ditangkap
-
Qodari: Prabowo Sosok Langka yang Dekat dengan Putin, Trump, dan Xi Jinping
-
Banjir Bandang Poso: Warga Terisolasi, BNPB Minta Bantuan Alat Berat
-
Ibu Muda Ditemukan Tewas Bersama Balitanya, Suami Diamankan Polisi
-
Waspada Fenomena Bulan Purnama, BMKG Prediksi Banjir Rob Kepung Pesisir NTT Hingga 2 Juni