- Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Yudha Permana, menemukan penyimpanan obat HIV dan vaksin yang tidak layak di Jakarta Barat.
- Temuan ini meliputi fasilitas penyimpanan yang memprihatinkan di Walikota Jakarta Barat dan Puskesmas Grogol Petamburan.
- Yudha mendesak Dinas Kesehatan segera merevitalisasi lokasi penyimpanan obat menggunakan anggaran Belanja Tidak Terduga.
Suara.com - Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Yudha Permana, menemukan fasilitas penyimpanan obat HIV dan vaksin yang dianggap sangat tidak layak di wilayah Jakarta Barat.
Temuan ini terungkap saat politisi Gerindra tersebut melakukan survei lapangan usai menerima keluhan dari masyarakat mengenai penurunan kualitas obat.
"Jadi beberapa bulan yang lalu ada laporan warga masuk ke kami, ada informasi perihal kualitas obat HIV. Yang menurut pasien ini kualitasnya kurang baik, dari baunya menyengat dan lain sebagainya," kata Yudha saat diwawancarai, Selasa (20/1/2026).
"Tapi kami sudah selidiki, apakah itu memang kualitas standarnya seperti itu atau tidak. Dan ada laporan juga bahwa tempat penyimpanan obat HIV itu kualitasnya kurang mumpuni," katanya menambahkan.
Yudha mengawali peninjauannya ke Kantor Wali Kota Jakarta Barat, dan mendapati tempat penyimpanan vaksin serta obat-obatan di lobi belakang yang kondisinya memprihatinkan.
"Nah, di situ memang saya lihat kualitas tempatnya menurut saya tidak memenuhi standar," jelasnya.
Kondisi gudang sementara itu dipicu oleh insiden kebakaran yang menghanguskan lokasi penyimpanan sebelumnya, namun sarana pendukung saat ini dianggap tidak memadai.
"Saya cek juga chiller untuk penyimpanan vaksinnya, ada dua unit yang rusak, hanya tinggal sekitar empat unit yang aktif. AC-nya juga menurut saya masih agak kurang dingin, karena tempatnya terlalu sempit, tempat chiller-nya itu terlalu berdekatan. Menurut saya kurang memenuhi standar," paparnya.
Tinjauan berlanjut ke Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan, di mana Yudha mendapati pemandangan yang lebih mengejutkan di sebuah ruangan bekas tempat olahraga.
"Di situ ada ruangan kecil. Nah, di situ tempat penyimpanan obat-obatan. Nah, saya sangat prihatin melihat lokasi di situ karena tempatnya tidak permanen, kemudian ruangannya banyak yang rusak dan bau apa, mohon maaf ya, seperti tidak bersih lah gitu, apek," ungkapnya.
Kondisi fisik ruangan pun digambarkan sangat buruk, dengan dinding triplek yang mulai mengelupas serta ventilasi yang hanya ditutupi kertas.
"Dan yang agak saya kaget, AC-nya hanya AC portabel. Kalau AC portabel kan kualitas kedinginannya tidak maksimal gitu. Minimal ya pasang lah dua tiga AC yang bener-bener 1 PK gitu, yang menjaga kualitas dinginnya itu mungkin di 18 derajat atau di 17 derajat sehingga kualitas obat-obatannya bisa terjaga," kata dia.
"Dan juga kelembabannya kan mesti dijaga juga, supaya tidak jamuran. Kemudian posisinya juga tidak boleh menyentuh tanah gitu. Nah, hal seperti ini menurut saya standarnya belum memenuhi," lanjutnya.
Atas temuan tersebut, Yudha mendesak Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta untuk segera mengambil langkah konkret berupa revitalisasi atau pemindahan lokasi penyimpanan ke tempat yang lebih layak.
Ia menyarankan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk menggunakan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) guna membangun fasilitas penyimpanan yang bersifat mandiri.
"Anggarannya menurut saya DKI Jakarta bisa lah, ini harus segera diintervensi gitu. Jangan sampai nanti obat-obatan yang harusnya prima, diberikan kualitas terbaik kepada pasien-pasien kita, karena sistem penyimpanannya tidak maksimal, akhirnya obat-obatannya tidak maksimal atau ada yang rusak dan lain sebagainya. Kan efeknya bisa ke pasien, apalagi buat vaksin," tegasnya.
Yudha menekankan bahwa pemerintah harus bergerak cepat melakukan intervensi karena saat ini sudah tersedia opsi pembangunan gedung modular yang cepat dan efisien.
"Sekarang kan sudah banyak alat-alat yang bisa digunakan. Rumah aja sekarang kan sudah modular yang nilai harganya tidak besar, dibangun dalam waktu 24 jam sudah jadi gitu. Maksud saya banyak opsi-opsi yang bisa segera diintervensi gitu lho," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Geger Penemuan 5 Jenazah Sekeluarga Terkubur dalam Satu Liang di Indramayu
-
Usai Timbulkan Bau Menyengat, Elnusa Petrofin Bersihkan Area Dekat Pemukiman Warga
-
Viral Bau Menyengat di Kawasan Pabrik Bikin Masyarakat Mual dan Muntah, Korban Terdampak Kini Dapatkan Perawatan
-
Pabrik yang Timbulkan Bau Menyengat di Cilegon Ternyata Milik Orang Terkaya RI
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
- 5 HP Android dengan Kualitas Setara iPhone 13 Pro dan iPhone 13 Pro Max
Pilihan
-
Derita Masyarakat RI Bertambah Kini Harga Pertamax Naik, Apa yang Harus Dilakukan?
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
Terkini
-
Cegah Perjudian! Kapolri Aktifkan Satgas Antimafia Bola Jelang Piala Dunia 2026
-
Hapus Jejak Palestina! Amnesty Ungkap Pembersihan Etnis Terstruktur oleh Militer Israel
-
Mahasiswa UI, IPB, hingga Pancasila Bersatu di Depok, Susun Tuntutan untuk Pemerintah
-
Tangkis Isu Anti-Asing, Prabowo: Investor Antre Masuk, Hanya yang 'Liar' Tak Suka Aturan!
-
Mimpi Jadi Nyata! UU Polri Baru Buka Pintu bagi Disabilitas Masuk Polisi
-
Bocah 6 Tahun Diduga Dibully hingga Kesetrum Tiang Listrik di Taman Kramat Pulo
-
Jangan Cuma Naikkan Harga! Publik Tagih Transparansi Komponen Pembentuk Harga Pertamax
-
MBG Watch 'Segel' Kantor Badan Gizi Nasional, Tuntut Moratorium dan Audit Total
-
Harga Pertamax Meroket, Media Asing: Tekanan Makin Berat Buat Rakyat Indonesia
-
Program Dokter Spesialis Keliling Kawal Sukses CKG di Jateng