News / Nasional
Sabtu, 24 Januari 2026 | 14:32 WIB
Tim SAR mencari korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. (Tim Media Presiden)
Baca 10 detik
  • Operasi SAR kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Pangkep tuntas setelah korban terakhir ditemukan pada Jumat (23/1).
  • Seluruh sepuluh penumpang dan awak pesawat dinyatakan telah ditemukan setelah pencarian tujuh hari di medan ekstrem.
  • Penemuan korban terakhir dilakukan Tim Elang 5 Kodam XIV/Hasanuddin di tebing curam Pegunungan Bulusaraung.

Suara.com - Operasi pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, akhirnya resmi dituntaskan. Tim SAR gabungan berhasil menemukan korban terakhir pada Jumat (23/1/2026) pagi, menandai berakhirnya operasi penyelamatan yang berlangsung selama tujuh hari di medan ekstrem.

Berdasarkan keterangan Tim Media Presiden yang diterima di Jakarta, Sabtu (24/1/2026), dengan ditemukannya korban terakhir tersebut, seluruh penumpang dan awak pesawat yang berjumlah 10 orang dinyatakan telah ditemukan. Proses pencarian yang panjang dan menguras tenaga ini sejak awal dihadapkan pada tantangan alam yang berat.

Korban terakhir ditemukan sekitar pukul 09.16 Wita oleh Tim Elang 5 dari Yonif 700 Raider Kodam XIV/Hasanuddin yang tergabung dalam operasi SAR. Lokasi penemuan berada di tebing curam yang berbatasan langsung dengan aliran air pegunungan, salah satu titik paling sulit dijangkau di kawasan Bulusaraung.

Pegunungan Bulusaraung dikenal memiliki karakter medan yang ekstrem. Lereng terjal, jurang dalam, serta hamparan bebatuan besar membuat pencarian tidak bisa dilakukan melalui jalur darat biasa. Tim SAR harus menerapkan teknik khusus, termasuk penurunan personel dari udara menggunakan helikopter dan tali pengaman.

Dalam beberapa fase krusial, petugas terlihat harus bergelantungan di sisi helikopter sebelum menuruni tebing secara perlahan. Proses ini dilakukan dengan tingkat kehati-hatian tinggi karena satu kesalahan kecil berpotensi membahayakan keselamatan petugas.

Evakuasi korban dan serpihan pesawat dilakukan secara bertahap dengan metode penarikan tali sebelum diangkat ke helikopter. Medan sempit, licin, dan rawan longsor memaksa tim bekerja dengan tempo lambat namun presisi, demi memastikan keamanan seluruh personel di lapangan.

Selain medan berat, cuaca pegunungan yang cepat berubah menjadi tantangan tersendiri. Kabut tebal kerap menutup pandangan, sementara hujan membuat permukaan tebing semakin licin dan berisiko. Kondisi ini menguji ketahanan fisik dan mental seluruh unsur SAR gabungan.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan dan risiko tinggi, operasi pencarian tetap berjalan hingga tuntas. Keberhasilan menemukan seluruh korban dan properti penting pesawat ATR 42-500 menjadi cerminan kerja sama lintas instansi, profesionalisme, serta dedikasi kemanusiaan di tengah kerasnya alam Pegunungan Bulusaraung.

Baca Juga: Sambil Menangis, Kepala Basarnas Umumkan Semua Korban Meninggal Pesawat ATR 42-500 Telah Ditemukan

Load More