News / Nasional
Rabu, 28 Januari 2026 | 14:15 WIB
Ilustrasi Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak. (Freepik)
Baca 10 detik
  • Rumah merupakan lokasi utama kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jakarta Selatan dengan mencatat 253 korban.
  • PPAPP DKI Jakarta menyediakan berbagai pos pengaduan di seluruh kecamatan Jakarta Selatan untuk memudahkan pelaporan kasus kekerasan.
  • Jakarta Selatan berada di peringkat kedua kasus kekerasan PPA terbanyak dengan total 460 kasus sepanjang tahun 2025.

Suara.com - Ruang yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru tercatat sebagai lokasi terbanyak terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jakarta Selatan. Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta mengungkapkan bahwa rumah menjadi titik rawan utama dalam sebaran kasus kekerasan di wilayah tersebut.

Tenaga Ahli Pemenuhan Hak Korban Kekerasan Perempuan dan Anak UPT PPPA Provinsi DKI Jakarta, Chairul Luthfi, menyebutkan bahwa sebagian besar korban mengalami kekerasan di lingkungan tempat tinggalnya sendiri.

"Rumah menjadi lokasi tempat kejadian perkara (TKP) terbanyak di Jakarta Selatan, dengan jumlah korban kekerasan sebanyak 253 orang," kata Chairul saat ditemui di Jakarta Selatan, seperti dikutip dari Antara, Rabu.

Selain rumah, kekerasan juga terjadi di sejumlah lokasi lain, meski dengan jumlah lebih kecil. Chairul memaparkan, sekolah mencatat 41 korban, kos-kosan 31 korban, jalan 27 korban, serta sejumlah lokasi lain dengan angka yang bervariasi.

Melihat tingginya angka tersebut, PPAPP DKI Jakarta mendorong korban maupun masyarakat sekitar untuk tidak ragu melaporkan dugaan kekerasan. Chairul menegaskan, pos pengaduan telah tersedia dan tersebar di seluruh kecamatan di Jakarta Selatan.

"Pos pengaduan tersebar di Pos Kemuning (Pasar Minggu), Pos Tiga Durian (Pancoran), Pos Anggrek (Cilandak), Pos Bhineka (Pesanggrahan), Pos Ramli (Mampang Prapatan), Pos Taman Sawo (Kebayoran Baru), Pos Ciganjur Berseri (Jagakarsa), Pos Flamboyan (Tebet), Pos Delman Asri (Kebayoran Lama), dan Pos Taman Batu (Setiabudi)," ucap Chairul.

Sementara itu, Kepala Suku Dinas PPAPP Jakarta Selatan, Rizky Hamid, menekankan bahwa pencegahan kekerasan tidak bisa hanya mengandalkan aparat, tetapi memerlukan keterlibatan aktif masyarakat di tingkat paling bawah.

"Untuk yang di rumah, tak henti-henti juga kita sosialisasikan melalui komunitas-komunitas di lingkungan setempat, seperti RT, RW, Dasawisma, PKK, dan posyandu," ungkap Rizky.

Ia berharap kewaspadaan kolektif antarwarga dapat menjadi sistem perlindungan awal, sekaligus jalur efektif dalam menyebarkan informasi pencegahan dan penanganan kekerasan.

Baca Juga: Remaja Jakarta Rentan Jadi Sasaran Utama Child Grooming di Ruang Digital

Secara keseluruhan, Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak (PPPA) DKI Jakarta mencatat telah menangani 2.269 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sepanjang Januari hingga Desember 2025. Dari jumlah tersebut, Jakarta Selatan menangani 460 kasus dan menempati peringkat kedua sebagai wilayah dengan kasus kekerasan perempuan dan anak terbanyak di Ibu Kota.

Load More