- Rocky Gerung menilai demokrasi Indonesia terjebak kultus individu, ditandai dukungan 80% ke pemimpin versus 20% infrastruktur demokrasi.
- Pemerintah dinilai terlalu fokus pada pencitraan diri (Public Relations) daripada opini publik organik sebagaimana disorot Rocky.
- Rocky mengaitkan terpilihnya Gibran dengan sindrom pasca-kekuasaan Jokowi dan menyarankan pengunduran dirinya demi stabilitas bangsa.
Suara.com - Pengamat politik sekaligus akademisi, Rocky Gerung, kembali melontarkan kritik tajam terhadap kondisi demokrasi Indonesia saat ini. Dalam orasi ilmiahnya di forum Sangga Buana, Rocky menilai Indonesia tengah terjebak dalam “kultus individu” yang melumpuhkan nalar kritis serta infrastruktur demokrasi.
Rocky menyoroti data terbaru yang menunjukkan tingkat kesukaan (likeability) terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mencapai 80 persen. Namun, di sisi lain, dukungan terhadap infrastruktur demokrasi hanya berada di angka 20 persen. Menurutnya, kondisi tersebut bukan mencerminkan keberhasilan politik, melainkan sinyal bahaya bagi demokrasi.
“Presiden dapat legitimasi 80 persen, infrastruktur demokrasi cuma 20 persen. Apa tafsirnya? Kultus individu,” ujar Rocky, dikutip dari kanal Rocky Gerung Official, Jumat (30/1/2026).
Ia menambahkan, demokrasi yang sehat membutuhkan percakapan yang kritis, bukan sekadar pemujaan terhadap figur pemimpin.
Pencitraan vs Opini Publik
Lebih lanjut, Rocky mengkritik strategi pemerintah yang dinilainya terlalu berfokus pada Public Relations (PR). Ia menilai ruang publik saat ini lebih banyak dikendalikan oleh mesin pencitraan ketimbang opini publik yang tumbuh secara organik.
Menurutnya, pemerintah tidak lagi dipromosikan oleh publik, tetapi justru aktif mempromosikan dirinya sendiri.
“Tetapi yang ada hari-hari ini kita dikuasai oleh Public Relation, bukan Public Opinion. Apa bedanya? Public Opinion artinya saya dipromosikan oleh publik. Public Relation artinya saya mempromosikan diri saya sendiri. Pemerintah hari ini penuh dengan Public Relation, self-note,” ujarnya.
Ia juga mencontohkan istilah “Prabowonomics” yang dipasarkan di forum internasional seperti Davos, namun dinilai berbanding terbalik dengan kondisi pasar keuangan di dalam negeri.
Baca Juga: Jelang Diperiksa Polisi, Rocky Gerung akan Jelaskan Metodologi Penelitian Kasus Ijazah Palsu Jokowi
Rocky mengaitkan hal tersebut dengan anjloknya IHSG dan pelarian modal asing (capital outflow), yang ia sebut sebagai bentuk “hukuman” dari sistem internasional terhadap data ekonomi yang dianggap tidak akurat.
Sindrom Pasca-Kekuasaan dan Dinasti Politik
Bagian paling tajam dari orasinya muncul ketika Rocky mengaitkan kondisi psikologis Presiden Jokowi dengan masa depan putranya, Gibran Rakabuming Raka.
Ia menggunakan istilah Post Power Syndrome untuk menggambarkan pemimpin yang telah berkuasa selama sepuluh tahun namun dinilai sulit melepaskan pengaruhnya.
Rocky menilai keberadaan Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden merupakan upaya Jokowi untuk “menitipkan” kekuasaan demi melindungi masa lalunya.
Ia bahkan menyarankan agar Gibran mengundurkan diri demi memulihkan stabilitas psikologis bangsa serta kesehatan nalar demokrasi.
Sebagai penutup, Rocky menyampaikan analogi radikal agar Gibran mundur dari jabatannya demi kesehatan politik bangsa.
“‘Saya Gibran Wakil Presiden mengatakan demi kesehatan ayah saya dan kesehatan restorative justice, saya mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden’. Selesai problem,” pungkasnya.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
Terpopuler
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
- Link Resmi Pandang.istanapresiden.go.id buat Daftar Upacara Bendera HUT RI di Istana Negara
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
Pilihan Mobil Listrik Mungil di GIIAS 2026, Harga Mulai Rp 100 Jutaan
-
5 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 7 Agustus 2026: Sikap Tenang Buka Banyak Peluang
-
Api Kepung TPA Rasau Jaya, Pemadaman Diperkuat dari Udara
-
Bank Sumsel Babel Raih Apresiasi Hari Anak Nasional, Tegaskan Komitmen Bangun Generasi Emas
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Peran Dukung 100.000 Sultan Muda, Perluas Inklusi Keuangan Sumsel
-
El Nino 2026 Lampaui Level Kuat, Abdul Azis Desak Pemerintah Serius Atasi Kekeringan
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Kemitraan Strategis dengan Pemkab Lahat, Dukung Akselerasi Ekonomi Daerah
-
6 Fakta Pemecatan dan Sanksi Pungli 4 ASN di Pemprov Banten
-
Usut Mutilasi Depok, Polisi Temukan HP Pelaku Tergabung dalam Grup Komunitas Gay
-
Macet Jalur Bojonegara Bikin Sopir Angkot Merugi, Pemprov Banten Janjikan Keputusan Baru 4 Hari Lagi