- Pengurus PGM Indonesia bertemu pimpinan DPR pada Rabu (11/2/2026) menyampaikan diskriminasi dan nasib guru madrasah swasta.
- Guru madrasah swasta menyoroti aturan seleksi ASN/P3K yang hanya memprioritaskan honorer di sekolah negeri.
- Mereka mengeluhkan rendahnya kesejahteraan, gaji hanya Rp300–500 ribu, dan fasilitas madrasah yang tertinggal jauh.
Suara.com - Pengurus Pusat Perkumpulan Guru Madrasah (PGM) Indonesia mendatangi Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta untuk mengadukan nasib dan diskriminasi yang dialami guru madrasah swasta di seluruh Indonesia.
Kehadiran mereka diterima langsung oleh Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati bersama jajaran pimpinan komisi, Rabu (11/2/2026).
Ketua Umum PP PGM Indonesia, Yaya Ropandi, menyampaikan "jeritan hati" para guru madrasah dari 27 provinsi yang telah ia sambangi.
Salah satu poin utama yang disorot adalah tertutupnya akses bagi guru swasta untuk mengikuti seleksi Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K).
“Salah satu hal yang perlu mendapatkan atensi, yang pertama Ibu Pimpinan, kami guru swasta mau ikut seleksi ASN saja, mau ikut P3K saja tidak bisa Bapak, Ibu,” kata Yaya di hadapan Pimpinan DPR.
"Karena aturannya tidak ada. Yang boleh ikut seleksi P3K ASN itu yang honor di negeri surat keterangannya. Sementara kami yang di swasta ini tidak bisa ikut seleksi apalagi diterima," lanjutnya.
Yaya meminta agar pemerintah segera mengubah regulasi tersebut.
Menurutnya, mendapatkan kesempatan untuk ikut seleksi saja sudah menjadi harapan besar, meskipun belum tentu lulus.
“Tolong dibuka regulasi ini bahwa guru swasta yang mengajar di swasta juga boleh ikut P3 atau ASN, hal ini belum bisa. Mudah-mudahan dengan pertemuan hari ini, kami guru swasta yang notabene swasta murni dari yayasan bisa diikutsertakan,” kata dia.
Baca Juga: Guru di Bawah Bayang Laporan: Saat Nasihat Dianggap Serangan Personal
Dalam audiensi tersebut, Yaya juga mengingatkan peran historis lembaga pendidikan swasta, seperti Muhammadiyah, NU, dan Taman Siswa, yang telah ada bahkan sebelum Indonesia merdeka.
Ia merasa miris karena pengabdian puluhan tahun para guru madrasah seolah belum diakui sepenuhnya oleh negara.
“Ada yang mengatakan begini Ibu Pimpinan, tidak apa-apa saya diangkat P3K walaupun besok saya pensiun asal saya diakui oleh negara. Bayangkan Bapak Ibu, begitu mirisnya mendengar kata-kata itu supaya guru swasta juga mendapatkan atensi,” tuturnya.
Persoalan kesejahteraan juga menjadi sorotan tajam. Yaya membeberkan fakta bahwa masih banyak guru madrasah yang hanya menerima gaji Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per bulan.
Bahkan, untuk memperjuangkan nasib ke Jakarta, banyak guru yang harus merogoh kocek pribadi dengan cara yang memprihatinkan.
“Ada yang berangkat ke Jakarta ini membongkar celengan Bu, demi memperjuangkan nasib guru madrasah. Ada yang jual ayam dan lain-lain, inilah nyatanya. Dan alhamdulillah guru Madrasah tidak pernah berontak Bapak-Ibu,” paparnya.
Berita Terkait
-
Hadirkan 'Wajah Humanis', 1.060 Polisi Siaga Kawal Demo Guru Madrasah di Depan Gedung DPR
-
Geger SMA di Jaktim, Guru Diduga Lecehkan Banyak Siswi, Korban Lain Buka Suara
-
Bersenjata Celurit, Polisi Tangkap Wali Murid dan Keponakan Usai Aniaya Guru MI di Sampang
-
Guru di Bawah Bayang Laporan: Saat Nasihat Dianggap Serangan Personal
-
KPAI Ingatkan Bahaya Grooming Berkedok Konten, Desak RUU Pengasuhan Anak Segera Disahkan!
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
Terkini
-
Menolak Bungkam! Rakyat Kecil di Kota Bogor Tuntut Keadilan Hak Tanah yang Diduga Diserobot
-
Tukang Cukur dan Camat Sudah Minta Maaf, Netizen Masih Buru Pelaku Perekam Video Viral
-
Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan
-
Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan
-
Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan
-
BRI Perluas Akses Pembiayaan KUR Petani di Bengkayang Guna Swasembada Pangan
-
Retribusi Melempem, Benyamin Davnie Bentuk Perseroda 'Citra Anggrek Mandiri' Kelola Pasar Tangsel
-
Geledah Jateng-Jatim, KPK Cari Bukti untuk Tetapkan Tersangka Baru dalam Kasus Suap Pajak
-
Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen Polri, Bahas Persoalan Pupuk Subsidi
-
Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Pemkot Bandung Tertibkan Bangunan Liar di Jalan Rajawali