- Pengurus PGM Indonesia bertemu pimpinan DPR pada Rabu (11/2/2026) menyampaikan diskriminasi dan nasib guru madrasah swasta.
- Guru madrasah swasta menyoroti aturan seleksi ASN/P3K yang hanya memprioritaskan honorer di sekolah negeri.
- Mereka mengeluhkan rendahnya kesejahteraan, gaji hanya Rp300–500 ribu, dan fasilitas madrasah yang tertinggal jauh.
"Kami masih menyadari itu karena beliau-beliau itu walaupun gajinya masih ada yang 300 ribu, 500 ribu, tetapi karena keberkahan alhamdulillah mereka-mereka masih bisa dan komitmen untuk mencerdaskan anak bangsa," lanjutnya lagi.
Selain masalah kesejahteraan, PGM Indonesia juga mengeluhkan kesenjangan sarana dan prasarana antara madrasah dengan sekolah umum di bawah Dinas Pendidikan. Yaya menyebut terjadi diskriminasi fasilitas yang sangat mencolok.
“Bayangkan di sekolah yang di bawah Disdik (Dinas Pendidikan) Ibu, mereka belajarnya sudah pakai smart TV, kami dari Madrasah hanya melihat Ibu. Ini yang terjadi,” katanya.
Lebih lanjut, Yaya menegaskan bahwa madrasah adalah sekolah formal yang setara dengan jenjang pendidikan lainnya, bukan sekadar sekolah sore.
Ia berharap DPR RI dapat mendorong pemerintah pusat dan daerah agar lebih memberikan perhatian, termasuk alokasi 20 persen APBD yang juga mencakup kesejahteraan guru madrasah.
“Mohon kiranya kami bukan menuntut Ibu tetapi mohon dorongan dari Pimpinan Dewan untuk kesejahteraan guru Madrasah,” pungkasnya.
Sebelumnya, ratusan guru madrasah dari sekolah swasta di Indonesia menggelar aksi unjuk rasa atau demo di depan Gedung DPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Mereka membawa sejumlah tuntutan dengan menyampaikan aksinya menggunakan bendera, spanduk hingga poster bertuliskan nada protes. Para guru madrasah menuntut kesejahteraan.
Baca Juga: Guru di Bawah Bayang Laporan: Saat Nasihat Dianggap Serangan Personal
Berita Terkait
-
Hadirkan 'Wajah Humanis', 1.060 Polisi Siaga Kawal Demo Guru Madrasah di Depan Gedung DPR
-
Geger SMA di Jaktim, Guru Diduga Lecehkan Banyak Siswi, Korban Lain Buka Suara
-
Bersenjata Celurit, Polisi Tangkap Wali Murid dan Keponakan Usai Aniaya Guru MI di Sampang
-
Guru di Bawah Bayang Laporan: Saat Nasihat Dianggap Serangan Personal
-
KPAI Ingatkan Bahaya Grooming Berkedok Konten, Desak RUU Pengasuhan Anak Segera Disahkan!
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
Terkini
-
Pergi Jauh, Tanah Air Tetap Jadi Rumah: Kisah Diaspora Memaknai Indonesia
-
91% Orang Indonesia Anggap Kesehatan Holistik Penting, Ternyata Bukan Sekadar Bebas Penyakit
-
Produksi Melimpah Harga Jatuh, Wakil Ketua DPRD Jateng Soroti Nasib Petani Garam
-
BTN dan PPATK Renovasi 20 RTLH, Bantu Wujudkan Hunian Layak bagi Keluarga Prasejahtera
-
Cerdas! Begini Langkah Kang Edai Mengubah Desa Kemiren Jadi Naik Kelas
-
Arti Penting Berlian bagi Anggun C Sasmi: Bukan Sekadar Aksesori, tapi Self-Reward
-
5 Rekomendasi Sunscreen Ectoin untuk Memperbaiki Skin Barrier dan Anti Polusi
-
Sengketa 6,1 Hektare Kencana Bogor Memanas, AJB Dipersoalkan hingga Dugaan Rekayasa Hukum
-
5 Penyebab Bedak Cakey dan Crack di Garis Senyum, Ini Cara Mengakalinya
-
Bukan Asal Murah, Ini 5 Kriteria Tasya Kamila Saat Memilih Perabotan Rumah Tangga