Suara.com - Belakangan ini, masyarakat Jawa Tengah, khususnya di wilayah Kabupaten Tegal, dikejutkan oleh bencana tanah bergerak yang cukup masif.
Di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, fenomena ini bukan sekadar retakan kecil di dinding rumah, melainkan pergeseran lahan yang memaksa ribuan warga meninggalkan tempat tinggal mereka.
Berdasarkan data terbaru per Februari 2026, lebih dari 2.400 jiwa harus mengungsi. Lantas, apa sebenarnya yang menyebabkan tanah di wilayah tersebut seolah "hidup" dan terus bergeser?
Fenomena Creeping atau Rayapan Tanah
Menurut hasil investigasi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, penyebab utama bencana di Tegal adalah creeping atau rayapan tanah. Berbeda dengan longsor yang terjadi secara mendadak dan cepat, creeping bergerak secara perlahan namun pasti.
Pemicu utamanya adalah kombinasi antara jenis tanah dan topografi wilayah:
- Tanah Lempung (Clay): Wilayah Padasari didominasi oleh lapisan tanah lempung. Sifat dasar lempung adalah sangat elastis, ia akan mengembang saat terkena air hujan dan menjadi licin.
- Kemiringan Lahan: Rayapan tanah selalu membutuhkan kemiringan. Beban air hujan yang meresap ke dalam tanah lempung membuatnya berat dan kehilangan daya ikat, sehingga gravitasi menarik lapisan tanah tersebut bergeser perlahan ke arah bawah.
- Intensitas Hujan: Air bertindak sebagai pelumas. Ketika curah hujan tinggi, air meresap hingga ke lapisan kedap air, menciptakan bidang gelincir yang memicu pergerakan.
Perbedaan dengan Likuifaksi
Banyak masyarakat yang khawatir ini adalah fenomena likuifaksi seperti yang pernah terjadi di Palu. Namun, ahli geologi menegaskan bahwa keduanya berbeda.
Likuifaksi adalah pencairan tanah akibat guncangan gempa pada lahan datar dengan kadar air tinggi. Sementara itu, fenomena di Tegal murni karena faktor kemiringan dan sifat mekanis tanah lempung yang jenuh air.
Baca Juga: Kemensos Gelontorkan Rp13,7 Miliar Tangani Puluhan Bencana di Awal Tahun 2026
Dampak dan Langkah Penanganan
Dampak dari rayapan tanah ini sangat merusak infrastruktur secara permanen. Rumah-rumah tidak hanya retak, tapi fondasinya bisa bergeser hingga beberapa meter, membuat bangunan tidak lagi aman dihuni.
Saat ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tengah fokus pada dua hal utama:
- Relokasi Warga: Mencari lahan baru yang stabil, termasuk menjajaki lahan milik Perhutani, untuk membangun hunian tetap.
- Kajian Geologi Mendalam: Sebelum relokasi dilakukan, tim ahli melakukan studi teknis agar lokasi baru benar-benar aman dari potensi bencana serupa di masa depan.
Tips Menghadapi Tanah Bergerak
Bagi warga yang tinggal di daerah perbukitan dengan struktur tanah lempung, penting untuk memperhatikan tanda-tanda awal:
- Munculnya retakan pada tanah atau dinding rumah secara tiba-tiba.
- Pohon atau tiang listrik yang mulai miring.
- Pintu atau jendela yang tiba-tiba sulit dibuka/ditutup karena kusen yang bergeser.
Kontributor : Rizqi Amalia
Berita Terkait
-
Tangani Bencana Sumatra, DPR ke Bos Pertamina: Di-WA Tengah Malam Langsung Balas!
-
Santunan Korban Bencana Sumatra Disalurkan, Mensos Sebut Hampir Seribu Ahli Waris Terbantu
-
7 Pilihan Dry Bag Waterproof 40 Liter Terbaik untuk Tas Siaga Bencana, Harga Mulai Rp200 Ribuan
-
Kemensos Mulai Salurkan Santunan Korban Banjir Sumatra ke Ahli Waris, Segini Nominalnya
-
Silaturahmi dengan Ulama Aceh, Kasatgas Tito: Pentingnya Dukungan Spiritual bagi Korban Bencana
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
Terkini
-
Prabowo: Kampus Itu Arena Adu Gagasan, Bukan Tempat Pertentangan
-
Daftar 5 Calon Manajer Kopdes Meninggal Dunia Saat Latsarmil: Gejala, Penyebab dan Kronologi
-
Diduga Intimidasi Dokter hingga Meninggal, Legislator PKB Terancam Sanksi Berat
-
Fakta-fakta Kematian 5 SPPI Calon Manajer Koperasi saat Jalani Latihan Militer
-
Awas Kena Derek! Dishub DKI Mulai Rutin Razia Parkir Liar di Senopati dan Gunawarman Tiap Weekend
-
Aktivasi di CFD FX Sudirman, Mozy Ajak Masyarakat Kenali Layanan Perjalanan Digital
-
Ironi Ganja Medis, Saat KUHP Baru 'Keok' Lawan UU Narkotika yang Usang
-
HBL Mantiri Ajak Purnawirawan TNI AD Terus Kompak Jaga Soliditas dan Perkuat Persatuan
-
Ketua BPP PPAD HBL Mantiri: Purnawirawan Harus Jadi Perekat Persatuan Bangsa
-
Kado HUT Bhayangkara ke-80, Polda Riau Rampungkan 110 Jembatan Merah Putih Presisi