- Enam pekerja bangunan asal Sukabumi dan Cianjur dilaporkan terlantar di Kendari, Sulawesi Tenggara.
- Korban diduga menjadi korban janji palsu mandor terkait pekerjaan di perusahaan tambang nikel.
- Para buruh kini bergantung pada bantuan warga setempat karena kehilangan kontak dengan penjamin kerja.
Sebanyak enam pekerja bangunan, yang terdiri dari lima warga Kabupaten Sukabumi dan satu warga Kabupaten Cianjur, dilaporkan terlantar di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, setelah diduga menjadi korban janji palsu seorang mandor. Keenam individu tersebut kini terpaksa bergantung pada bantuan warga setempat untuk bertahan hidup dan tidak memiliki biaya untuk kembali ke daerah asal mereka.
Salah satu buruh yang menjadi korban, Ajis Taufik (32 tahun), warga Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi, mengonfirmasi bahwa keberangkatan mereka ke Sulawesi Tenggara bertujuan untuk mencari pekerjaan di sebuah perusahaan pertambangan nikel. Kelompok ini terdiri dari empat orang dari Kecamatan Cidolog, satu orang dari Kecamatan Pabuaran (Kabupaten Sukabumi), dan satu orang dari Cianjur.
Menurut keterangan Ajis, sebelum memulai pekerjaan inti, mereka telah menjalani proses pemeriksaan kesehatan atau medical check-up (MCU) di Kendari selama kurang lebih satu minggu. Setelah MCU, mereka sempat bekerja di lokasi tambang tersebut selama sekitar 15 hari. Namun, para buruh tersebut memutuskan untuk mengundurkan diri karena kondisi kerja dinilai tidak sesuai dengan kesepakatan awal yang telah disepakati bersama.
Situasi menjadi rumit ketika seorang mandor di lokasi tambang menawarkan peluang kerja lain di wilayah Bone, yang juga masih berada di Sulawesi. Karena tawaran tersebut, keenam buruh tersebut memutuskan berhenti dari pekerjaan pertama mereka dan berencana pindah ke Bone. Mereka kembali ke Kota Kendari untuk mempersiapkan keberangkatan menuju lokasi kerja yang baru.
Masalah utama muncul ketika mandor yang menjanjikan pekerjaan baru tersebut tidak dapat dihubungi setibanya mereka kembali di Kendari. Nomor telepon mandor yang disebut Ajis berasal dari Yogyakarta itu kini dilaporkan tidak aktif. Akibat kegagalan komunikasi ini, keenam pekerja bangunan tersebut kehabisan bekal dan kini terlantar di ibu kota Sulawesi Tenggara tersebut.
Pas sampai Kendari, mandor yang menawarkan pekerjaan itu tidak bisa dihubungi. Sekarang kami sudah tidak punya bekal. Untuk makan dikasih oleh warga setempat, dan kami tidur di masjid. Sudah dua hari di masjid, ujar Ajis, mengungkapkan kondisi terkini mereka saat dihubungi pada Kamis (12/2/2026).
Secara keseluruhan, keenam buruh tersebut telah berada di Sulawesi selama kurang lebih satu bulan. Rincian waktu tersebut mencakup satu minggu untuk MCU di Kendari, diikuti 15 hari bekerja di tambang, dan sekitar satu minggu terakhir mereka berada kembali di Kendari tanpa ada kepastian pekerjaan maupun biaya hidup setelah kehilangan kontak dengan mandor.
Data identitas enam pekerja bangunan yang saat ini dilaporkan terlantar di Kendari adalah sebagai berikut: Ajis Taufik (warga Kampung Sindangraja, Desa Cidolog, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi); Yosa (warga Kampung Cibule, Desa Cidolog); Mardi (warga Kampung Pasir Sirah, Desa Cidolog); Iqbal Fiagi (warga Kampung Bojong, Desa Cidolog); Dede Eri Wahyudi (warga Kampung Caringin, Desa Cibadak, Kecamatan Pabuaran); serta Pandu (warga Kampung Sala Kawung, Desa Sarampat, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur).
Para pekerja tersebut menyatakan tidak dapat kembali ke perusahaan tambang sebelumnya karena status mereka sudah resmi mengundurkan diri. Oleh karena itu, harapan utama keenam warga Sukabumi dan Cianjur tersebut tertuju pada uluran tangan pemerintah daerah setempat. Ajis menyampaikan permohonan resmi agar Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi maupun Pemerintah Provinsi Jawa Barat dapat memberikan bantuan transportasi agar mereka dapat kembali ke Jawa Barat secepatnya.
Berita Terkait
-
Kerajaan-kerajaan yang Ada di Tatar Sunda
-
Polda Jabar Bongkar Kasus Penipuan Dapur MBG, Modus Catut Nama BGN dan Jual Koordinat SPPG
-
Renovasi Stadion Pakansari Dikebut Jelang Piala AFF 2026
-
Provinsi Jawa Barat Diisukan Mau Ganti Nama, Apa Arti Tatar Sunda?
-
Dedi Mulyadi Panen Kritik, Gelar Kirab Bak Raja di Tengah Ekonomi Tercekik
Terpopuler
- 3 Bedak yang Mengandung Niacinamide, Bantu Cerahkan Wajah dan Kontrol Sebum
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- Mitsubishi Destinator dan XForce Lagi Promo di Bulan Mei, Harga Jadi Segini
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- 8 Sepatu Adidas untuk Jalan Kaki yang Sedang Diskon di Toko Resmi, Harga Jadi Rp500 Ribuan
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Jakarta Barat Kini Berjuluk 'Gotham City', Hardiyanto Kenneth: Saya Jadi Batman!
-
Menteri PANRB Tekankan Transformasi Digital Harus Sesuai Realitas Masyarakat
-
Usman Hamid Semprot Pemerintah: Nobar Film Pesta Babi Dibungkam, Papua Jadi Tabu!
-
E-Katalog Cuma Formalitas? KPK Bongkar Siasat 'Deal' Haram Proyek Tulungagung di Luar Sistem
-
Orasi Lantang Wanda Hamidah di Kedubes AS, Tuding Indonesia Turut Mentoleransi Genosida Palestina
-
Siap-siap! BPKP dan Kejagung Bidik 10 Perusahaan Sawit Usai Purbaya Lapor ke Prabowo
-
3,4 Juta Situs Judol Diblokir Tapi Masih Menjamur, Pakar Hukum: Negara Belum Serius!
-
Prabowo Dorong Konversi Kendaraan Listrik, Mampukah Pangkas Impor Energi?
-
Polisi Cuma 'Wait and See', KontraS Cium Aroma Pelimpahan Berkas Terselubung ke Puspom TNI
-
Nanik S Deyang Jawab Surat Viral Waldan Minta MBG: Bismillah Kami Segera ke Sumbawa