- Kampoeng Ramadhan Jogokariyan tahun ini menyediakan 3.800 porsi takjil gratis yang disiapkan warga setempat untuk dibagikan.
- Tradisi tahunan ini menarik ribuan pengunjung yang datang untuk berburu takjil serta merasakan suasana kultural dan spiritual.
- Pasar sore diikuti sekitar 360 pedagang, dengan 60% di antaranya adalah warga asli sebagai bentuk dukungan ekonomi lokal.
Tak jauh dari posisi Agus, ada Nisa (20) yang berdiri bersama tiga orang teman kuliahnya di barisan perempuan.
Sebagai mahasiswi yang sudah beberapa tahun merantau di Jogja, Jogokariyan sudah seperti destinasi wajib tahunan.
Warga Palembang itu tampak santai menikmati suasana yang begitu padat. Ia sudah hafal betul bagaimana ritme di sini, mulai dari berburu jajanan di pasar sore hingga momen sakral duduk bersimpuh di dalam masjid.
"Aku sudah beberapa kali ke sini sejak tahun pertama kuliah. Tapi jujur, setiap tahun rasanya makin ramai saja," kata Nisa.
Baginya, Jogokariyan adalah potret nyata bagaimana sebuah masjid bisa menjadi pusat kehidupan bagi semua kalangan. Mulai dari mahasiswa berkantong tipis hingga wisatawan yang datang jauh-jauh dari luar kota.
"Keren sih konsistensinya. Kita yang mahasiswa ini terbantu banget, selain bisa hemat, rasa kebersamaannya itu seru," tuturnya.
Sediakan 3.800 Piring
Sebelumnya, Humas Kampung Ramadan Jogokariyan, Ahmeda Edo, menuturkan bahwa Kampoeng Ramadhan Jogokariyan (KRJ) kini memasuki tahun ke-22.
Pada Ramadhan 1447 H ini, panitia mencatat adanya peningkatan volume takjil yang disediakan, yakni mencapai 3.800 porsi per hari, naik dari tahun sebelumnya yang berjumlah 3.500 porsi.
Baca Juga: Ramadan 2026, Taman Softball GBK Jadi Spot Ngabuburit dengan Pilihan Kuliner Beragam
Edo memperkirakan jumlah jemaah yang hadir secara rill di lapangan bisa mencapai lebih dari 4.000 orang.
"Tahun ini kami ada peningkatan untuk buka puasanya, yang tahun lalu kami hanya menyiapkan sekitar 3.500, tahun ini kita menyiapkan 3.800. Ya nanti biasanya rill di lapangan itu bisa lebih dari 4.000," ujar Edo.
Menu yang akan dihadirkan pun beragam masakan nusantara. Mulai dari opor, tongseng hingga empal gentong. Menu buka puasa itu bisa dipantau melalui sosial media Masjid Jogokariyan.
"Ada macam-macam sih, ada opor, tongseng, kemudian ada bistik, ada bakmoy, brongkos, sup kembang waru, empal gentong, dan lain-lain. Macam-macam sih menunya, menu yang seger-seger," ungkapnya.
Pada tahun itu terdapat sekitar 360-an pedagang yang akan meramaikan pasar sore di sepanjang Jalan Jogokariyan. Jumlah ini cenderung stabil mengingat keterbatasan lahan dan panjang jalan yang tersedia.
"Untuk pasar sore sendiri itu tahun ini ada sekitar 360-an pedagang kalau peningkatan sih nggak ya karena panjang jalannya juga enggak peningkatan ya segitu-gitu aja kayak gitu," ucapnya.
Pasar sore KRJ memiliki akar sejarah yang kuat sebagai bentuk kepedulian masjid terhadap ekonomi warga. Terkhususnya mereka yang terbiasa berjualan makanan sarapan dan makan siang.
"Nah kemudian untuk memberikan mereka tetap apa berpenghasilan kemudian masjid membuat pasar sore agar mereka yang berjualan itu tetap mempunyai penghasilan. Kemudian terbentuklah pasar sore Kampung Ramadan Jogokariyan," ungkapnya.
Dalam pengelolaannya, pihak masjid memberikan prioritas penuh kepada warga sekitar. Setidaknya ada 60 persen dari total pedagang yang merupakan penduduk asli daerah Jogokariyan.
Berita Terkait
-
Ramadan 2026, Taman Softball GBK Jadi Spot Ngabuburit dengan Pilihan Kuliner Beragam
-
Andai Ini Ramadan Terakhirku
-
Hotman Paris Siap Bela ABK Terancam Hukuman Mati dalam Kasus Narkoba
-
Titip Bunda di Surga-Mu: Film yang Ajarkan Ikhlas, Kebersamaan dan Arti Pulang Sebenarnya
-
Promo Daging Sapi, Ayam, dan Seafood di Superindo untuk Stok Selama Ramadan
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Prajurit dan Persit Yonif 413/Bremoro Galang Bantuan untuk Korban Gempa NTT
-
Wajah Baru Bogor Barat, 6 Stasiun Kereta Siap Garap Jalur Parung Panjang - Jasinga
-
Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
-
Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?
-
Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha
-
Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?
-
Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari
-
Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan