News / Nasional
Kamis, 26 Februari 2026 | 12:12 WIB
Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) asal Depok, Jawa Barat, Khairul Umam, mendadak menjadi sasaran teror usai membuat sebuah konten video edukasi mengenai cara penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang baik dan benar. (tangkap layar/ ist)
Baca 10 detik
  • Petugas Damkar Depok, Khairul Umam, diteror via WhatsApp setelah mengedukasi fungsi helm di Instagram pada Minggu (22/2/2026).
  • Teror tersebut mencakup ancaman nyawa, permintaan "sowan," serta penyebaran data pribadi dua alamat rumah dan nama orang tua korban.
  • Khairul merespons teror dengan tenang, mempublikasikan bukti ancaman untuk antisipasi keamanan, dan menegaskan kontennya murni edukasi.

Suara.com - Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) asal Depok, Jawa Barat, Khairul Umam, mendadak menjadi sasaran teror usai membuat sebuah konten video edukasi mengenai cara penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang baik dan benar.

Melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadinya @xkhairulumam pada Minggu (22/2/2026), ia menyoroti fungsi utama helm.

"Gua mau kasih tahu lu, ini namanya helm, gunanya itu buat melindungi kepala, bukan buat ngancurin kepala," ujar Khairul dalam unggahan Instagram pribadinya yang dikutip pada, Kamis (26/2/2026).

Rangkaian peristiwa ini bergulir dalam waktu yang terbilang sangat singkat. Hanya berselang tiga hari pasca-unggahan tersebut tayang, Khairul mulai menerima pesan ancaman beruntun melalui nomor WhatsApp pribadinya.

Untuk mengetahui kronologi hingga bentuk teror yang didapatkannya, berikut adalah 6 fakta di balik kasus teror yang menimpa Khairul Umam.

1. Awal Mula dan Latar Belakang Kejadian

Kejadian ini bermula ketika Khairul Umam, seorang anggota Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Depok, mengunggah sebuah konten video edukasi melalui akun Instagram pribadinya @xkhairulumam pada Minggu (22/2/2026).

Dalam video bertajuk "Day 1 ngenalin fungsi APD" tersebut, Khairul memberikan penjelasan bahwa fungsi utama helm adalah untuk melindungi kepala, bukan untuk melukai atau menghancurkan kepala.

Konten tersebut kemudian menjadi viral karena oleh sebagian publik dan warganet dikaitkan dengan kasus tewasnya seorang pelajar SMP/MTs di Tual, Maluku, yang diduga dianiaya menggunakan helm oleh oknum aparat kepolisian.

Baca Juga: Ngeri! Relawan Kemanusiaan Asal Jogja di Aceh Kena Teror, Dikirimi Bangkai Anjing Tanpa Kepala

2. Bentuk Teror dan Ancaman

Buntut dari ramainya penafsiran atas video tersebut, Khairul menerima teror melalui pesan pribadi WhatsApp dari nomor tak dikenal sebanyak secara berturut-turut pada Selasa malam (24/2/2026) dan Rabu pagi (25/2/2026).

Modus pelaku diawali dengan berpura-pura menjadi penggemar, sebelum akhirnya percakapan berubah menjadi ancaman halus terkait keselamatan fisik. Pelaku melontarkan peringatan seperti "tunggu saya, ada kejutan buat kamu", hingga ancaman nyawa berupa kalimat yang menyebut korban mungkin tidak akan selamat sampai perayaan Lebaran.

Selain ancaman fisik, pelaku juga melakukan doxing penyebaran data pribadi dengan mengirimkan detail dua alamat rumah lengkap, yakni rumah Khairul dan rumah istrinya serta menyebutkan nama asli kedua orang tua sang petugas Damkar secara akurat.

3. Tuntutan Psikologis untuk "Sowan" kepada Orang Tua

Dalam melancarkan terornya, pelaku tidak hanya memberikan ancaman keselamatan fisik atau memamerkan dua alamat rumah Khairul, tetapi juga memberikan tekanan psikologis.

Pada pesan WhatsApp yang dikirimkan, pelaku secara spesifik menyuruh Khairul untuk meminta maaf atau "sowan" kepada orang tuanya.

Intimidasi ini sengaja diperkuat oleh pelaku dengan menunjukkan bahwa ia mengetahui secara pasti nama asli kedua orang tua Khairul, meskipun Khairul bersyukur pelaku belum mengetahui letak pasti alamat rumah orang tuanya.

4. Kronologi Waktu Kejadian yang Singkat

Rangkaian peristiwa ini terjadi dalam waktu yang sangat berdekatan. Khairul Umam pertama kali memublikasikan konten "fungsi helm" tersebut di akun Instagram-nya pada hari Minggu (22/2/2026).

Tiga hari berselang, tepatnya pada Selasa malam (24/2/2026) hingga Rabu pagi (25/2/2026), ancaman beruntun mulai masuk ke nomor WhatsApp pribadinya.

Merasa harus mengambil tindakan atas ancaman yang menyebutkan data keluarganya, Khairul kemudian membeberkan bukti-bukti pesan teror tersebut ke publik melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada Rabu sore (25/2/2026).

5. Klarifikasi dari Khairul Umam

Menanggapi polemik yang terjadi, Khairul memberikan klarifikasi tegas bahwa konten yang ia unggah murni bertujuan untuk edukasi terkait Alat Pelindung Diri (APD) dan sebagai hiburan semata.

Ia menekankan bahwa sama sekali tidak ada narasi, ucapan, maupun keterangan tertulis dalam videonya yang secara spesifik menyebut, menyinggung, apalagi menyudutkan institusi manapun.

Sebagai seorang pembuat konten, Khairul menyadari bahwa ia hanya bisa mengendalikan karya yang ia buat, namun berada di luar kendalinya untuk mengontrol bagaimana publik menafsirkan atau merespons pesannya.

6. Respons dan Langkah Antisipasi Korban

Meskipun menghadapi intimidasi dan pelanggaran data pribadi yang cukup meresahkan, Khairul Umam merespons teror tersebut dengan tenang dan santai.

Ia membalas pesan ancaman dengan ucapan terima kasih serta mendoakan keselamatan bagi pelaku, dan bahkan membuat konten satir berupa video dirinya sedang mandi sambil tetap mengenakan helm dinas Damkar berwarna merah—sebagai balasan atas sindiran pelaku yang memintanya terus memakai helm.

Sebagai langkah mitigasi dan antisipasi keamanan, Khairul sengaja mempublikasikan tangkapan layar ancaman tersebut di media sosialnya agar publik dan pengikutnya tahu jika terjadi hal buruk menimpanya di kemudian hari.

“Jadi setelah konten gua yang “day1 ngenalin fungsi apd” ituh banyak banget teror bahkan Udh sampe wa nih ges. Dan gua juga belom tau siapa ini ini orang. Yang jelas ada yang Sampe ngirimin 2 alamat rumah gua dan nyebut nama umi dan bapak gua. Canggih. Sengaja gua post begini. Seenggaknya kalian tau kalo gua kenapa kenapa. Wkwk” tulis keterangan dalam postingan tersebut.

Reporter: Tsabita Aulia

Load More