News / Internasional
Sabtu, 28 Februari 2026 | 19:46 WIB
Ilustrasi perang - Perang Israel vs Iran. (Gemini)
Baca 10 detik
  • Israel dan AS menyerang Iran pada Februari 2026, menggunakan alasan menghentikan ambisi nuklir Teheran secara resmi.
  • China mengimpor 89% minyak Iran pada 2023 sebagai strategi geopolitik dan menantang dominasi energi Barat.
  • AS dan Israel konsisten menggunakan isu nuklir Iran, mengingatkan pada pola invasi mereka terhadap Irak tahun 2003.

Suara.com - Ketegangan di Timur Tengah kembali mencapai titik didih setelah dilaksanakannya serangan AS Israel ke Iran hari ini (28/2/2026).

Alasan resminya tetap sama selama puluhan tahun: menghentikan ambisi nuklir Teheran.

Namun, jika kita melihat lebih dalam ke peta ekonomi global, ada faktor besar bernama minyak dan pengaruh China yang membuat konflik ini jauh lebih kompleks daripada sekadar urusan hulu ledak nuklir.

Penyetok Minyak Krusial China

Salah satu alasan mengapa Iran begitu sulit ditundukkan adalah karena mereka memiliki pembeli setia yang sangat besar, yaitu China.

Data dari Voronoi menunjukkan bahwa pada tahun 2023 saja, sekitar 89% dari total ekspor minyak mentah Iran mengalir ke Negeri Tirai Bambu. Angka ini melonjak drastis dibandingkan tahun 2017 yang hanya sebesar 25%.

Ketergantungan China pada minyak Iran bukan hanya soal kebutuhan energi, tapi juga strategi geopolitik untuk menantang dominasi Barat.

Bagi AS, memutus rantai pasokan ini adalah cara efektif untuk melemahkan posisi tawar China di panggung dunia.

Sebelumnya, Nikolas Maduro Diculik

Baca Juga: AS dan Israel Bom Sekolah Khusus Putri di Iran, 36 Siswi Tewas

Menariknya, Iran tidak sendirian dalam radar pasokan energi China. Venezuela juga menjadi pemain kunci yang serupa dengan Iran.

Menurut Columbia Edu, kedua negara ini merupakan pemasok minyak utama bagi kilang-kilang independen di China karena mereka menawarkan harga yang jauh lebih miring akibat sanksi internasional.

Sebagai gambaran, minyak jenis Iranian Light dilaporkan dibanderol lebih murah sekitar Rp134.080 hingga Rp167.600 per barel dibandingkan minyak dari Oman.

Praktik ini membuat China mampu membangun cadangan minyak raksasa yang bisa bertahan hingga 104 hari jika sewaktu-waktu terjadi gangguan pasokan.

Amerika Serikat dan Israel ke Iran, Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat, membombardir Iran. Serangan itu turut menyasar satu sekolah khusus perempuan di Minab, Provinsi Hormozgan, yang menewaskan 40 orang, dan 36 di antaranya adalah siswi.

Israel Paksa AS Ikut Campur

Di sisi lain, isu kepemilikan senjata nuklir tetap menjadi jualan utama AS dan Israel untuk melegitimasi serangan militer. Menurut Al Jazeera, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara konsisten selama tiga dekade terakhir memperingatkan bahwa Iran hampir memiliki senjata nuklir.

Presiden Donald Trump bahkan bersumpah untuk menghancurkan seluruh infrastruktur nuklir dan angkatan laut Iran jika mereka tidak segera menghentikan programnya, menurut Russia Today.

Meskipun Iran berkali-kali menegaskan bahwa program nuklir mereka murni untuk tujuan damai dan sipil, AS tetap memberikan tenggat waktu yang sangat singkat untuk mencapai kesepakatan baru yang lebih permanen.

Alasannya Mirip Invasi ke Iraq 2003 Silam

Namun, bagi banyak pengamat internasional, narasi yang dibangun AS terhadap Iran saat ini terasa sangat akrab. Banyak yang menilai dalih serangan ke Iran sangat mirip dengan apa yang terjadi saat AS menginvasi Irak pada tahun 2003.

Dikutip dari Al Jazeera, kala itu, dunia diyakinkan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal (WMD), namun setelah invasi dilakukan dan negara tersebut hancur, bukti keberadaan senjata tersebut tidak pernah ditemukan.

Retorika tentang pembebasan rakyat dari rezim agresif dan serangan presisi untuk melindungi warga sipil yang digunakan sekarang hampir identik dengan kata-kata George W. Bush dua dekade lalu.

Pola sejarah ini menimbulkan kecurigaan besar bahwa isu nuklir hanyalah pintu masuk untuk agenda yang lebih luas di kawasan tersebut.

Load More