- Iran membentuk pemerintahan transisi setelah kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu kemarin.
- Ayatollah Alireza Arafi ditunjuk dewan kepemimpinan interim pada Minggu (1/3/2026) bersama dua pejabat negara lainnya.
- Arafi memiliki latar belakang pendidikan luas dan telah menduduki berbagai posisi strategis Iran sejak tahun 2008.
Suara.com - Pasca-insiden serangan militer yang merenggut nyawa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu kemarin, Republik Islam Iran bergerak cepat menyusun struktur pemerintahan transisi.
Pada Minggu (1/3/2026), Dewan Penentu Kebijakan Tertinggi resmi menunjuk Ayatollah Alireza Arafi sebagai salah satu anggota dewan kepemimpinan interim.
Bersama Presiden Masoud Pezeshkian dan Ketua Hakim Gholam-Hossein Mohseni-Eje'i, Arafi memegang mandat untuk menjalankan roda pemerintahan hingga Majelis Ahli menetapkan pemimpin tertinggi yang baru.
Penunjukan ini menempatkan Arafi sebagai sosok sentral dalam menjaga stabilitas ideologi dan politik Iran di tengah krisis.
Profil Alireza Arafi
Alireza Arafi lahir di kota Maybod, Provinsi Yazd pada tahun 1959, Alireza Arafi tumbuh dalam lingkungan religius yang kental. Ayahnya, Mohammad Ibrahim al-Arafi, dikenal sebagai sahabat karib pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini. Latar belakang keluarga ini memberikan pengaruh kuat pada posisi politiknya yang setia pada garis revolusi.
Arafi memulai karier formalnya di hierarki kekuasaan Iran melalui jalur-jalur strategis:
- Dewan Wali: Menjabat sebagai anggota sejak 2019.
- Majelis Ahli: Menjadi anggota sejak 2022 melalui persetujuan diskresi pemimpin tertinggi.
- Kepala Seminari Iran: Memimpin seluruh jaringan seminari nasional sejak 2016.
- Imam Shalat Jumat Qom: Menjabat sejak 2015 di salah satu kota tersuci bagi penganut Syiah.
Arafi dikenal sebagai ulama dengan spektrum pengetahuan yang luas. Setelah menuntaskan pendidikan dasar di Qom, ia mendalami kursus seminari tingkat lanjut.
Tak hanya ahli dalam ilmu agama dan bahasa Arab, ia juga menguasai bahasa Inggris serta memiliki ketertarikan akademis pada bidang matematika dan filsafat.
Baca Juga: Menhub Minta Maskapai Rute Timur Tengah Tingkatkan Kewaspadaan Imbas Konflik AS-Israel dan Iran
Intelektualitasnya ditempa oleh deretan guru besar terkemuka Iran, di antaranya adalah Morteza Motahhari, Mohammad-Taqi Mesbah-Yazdi, dan Abdollah Javadi-Amoli.
Kombinasi guru dari faksi filosofis dan yuridis ini membentuk karakter Arafi sebagai ulama yang mampu menjembatani pemikiran teologis dengan kebijakan praktis kenegaraan.
Salah satu jejak karier Arafi yang paling menonjol adalah kepemimpinannya sebagai Presiden Universitas Internasional Al-Mustafa (2008–2018).
Lembaga ini merupakan pusat pendidikan agama yang bertujuan menyebarkan ideologi Republik Islam dan ajaran Syiah ke tingkat global.
Di bawah kepemimpinannya, Arafi pernah mengeluarkan klaim ambisius bahwa institusi tersebut telah mengonversi 50 juta orang ke ajaran Syiah dalam kurun waktu delapan tahun—sebuah pernyataan yang memicu perdebatan di kalangan pengamat internasional karena skalanya yang dianggap sangat masif.
Sepanjang kariernya, Arafi dipercaya memegang berbagai posisi kunci yang memperkuat pengaruhnya di dalam sistem Velayat-e Faqih:
Berita Terkait
-
Ali Khamenei Apakah Syiah? Pemimpin Tertinggi Iran Dikenal Sederhana dan Tidak Boleh Kaya
-
Terungkap! Begini Cara CIA Melacak dan Mengetahui Posisi Ayatollah Ali Khamenei
-
Iran Klaim Hantam Kapal Induk USS Abraham Lincoln Pakai 4 Rudal, 3 Tentara AS Tewas
-
Perusahaan Maritim dan Kapal Tanker Dunia Umumkan Stop Operasi di Selat Hormuz
-
Harga Minyak Brent Melonjak 10 Persen, Menuju USD100 Akibat Perang Iran
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- Misteri Lenyapnya Bocah 4 Tahun di Tulung Madiun: Hanya Sekedip Mata Saat Ibu Mencuci
Pilihan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
Terkini
-
Misteri Kerangka Manusia Nyangkut di Sampah Citarum, Ciri Kawat Jadi Kunci
-
Sapu Jalan Berujung Maut: Petugas PPSU Tewas Ditabrak Mobil Oleng di Pejaten
-
Petani Tembakau Madura Desak Pemerintah Ubah Kebijakan Rokok Ilegal
-
DKI Jakarta Berangkatkan 7.819 Jemaah Haji, Pemprov Siapkan 117 PPIH
-
Tangisan Anak di Serpong Utara Ungkap Penemuan Jasad Wanita Dalam Rumah
-
Aksi Kamisan ke-904 Soroti Militerisasi Sipil: Impunitas Masih Berulang
-
Tim Advokasi Minta MK Batalkan Pasal Kontroversial UU TNI, Soroti Ruang Sipil dan Impunitas
-
Cueki Permintaan Trump, Presiden Lebanon Ogah Bicara dengan Benjamin Netanyahu
-
Gelar KWP Awards 2026, Ariawan: Pers dan Parlemen Wajib Kolaborasi untuk Negara
-
Mengenal Piramida Budaya Perkosaan: Dari Obrolan Digital hingga Kekerasan Nyata