- Perang baru di Timur Tengah menyebabkan harga minyak mentah Brent melonjak 10% menjadi sekitar $80 per barel pada Minggu (1/3/2026).
- Ancaman utama kenaikan harga adalah ketidakpastian jalur distribusi vital Selat Hormuz yang melayani 20% lalu lintas minyak global.
- OPEC+ menyetujui peningkatan produksi kecil, namun negara pengimpor kini mengevaluasi cadangan dan mencari sumber pasokan alternatif seperti Rusia.
Suara.com - Dunia kini menghadapi ancaman krisis energi serius setelah pecahnya perang baru di Timur Tengah.
Kelompok pedagang minyak melaporkan bahwa harga minyak mentah jenis Brent melonjak tajam hingga 10% menjadi sekitar $80 per barel dalam perdagangan luar bursa (over-the-counter) pada Minggu (1/3/2026).
Lonjakan ini dipicu oleh serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang menjerumuskan kawasan tersebut ke dalam konflik bersenjata.
Sebelumnya, harga Brent telah bertengger di level $73 pada Jumat lalu—posisi tertinggi sejak Juli—karena pasar mulai mengantisipasi kemungkinan agresi militer tersebut.
Faktor utama yang menggerakkan kepanikan pasar bukanlah sekadar serangan militer, melainkan ancaman nyata terhadap jalur distribusi.
Selat Hormuz, yang melayani lebih dari 20% lalu lintas minyak global, kini berada dalam kondisi tidak pasti setelah Teheran memperingatkan kapal-kapal untuk tidak melintasi perairan tersebut.
"Serangan militer memang mendongkrak harga, namun faktor penentu utamanya adalah potensi penutupan Selat Hormuz," ujar Ajay Parmar, Direktur Energi di ICIS, seperti yang dikutip dari Reuters pada Minggu (1/3/2026) malam.
Ia memprediksi saat pasar reguler dibuka setelah akhir pekan, harga bisa langsung mendekati atau bahkan melampaui $100 per barel jika gangguan di selat tersebut berlangsung lama.
Sejumlah raksasa minyak dunia, pemilik kapal tanker, dan rumah dagang dilaporkan telah menangguhkan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, hingga gas alam cair (LNG) melalui jalur tersebut demi menghindari risiko serangan.
Baca Juga: Momen Haru Penyiar TV Iran Pecah Tangis Umumkan Kematian Ali Khamenei
Di tengah situasi darurat ini, aliansi OPEC+ pada hari Minggu setuju untuk meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari mulai April mendatang. Namun, analis menilai langkah ini sangat minim karena hanya mewakili kurang dari 0,2% dari total permintaan global.
Ekonom energi dari Rystad, Jorge Leon, memperingatkan bahwa jalur pipa alternatif milik Arab Saudi dan Uni Emirat Arab tidak akan mampu menutupi kerugian pasokan jika Selat Hormuz benar-benar lumpuh.
Penutupan total selat tersebut diprediksi akan menghilangkan pasokan sebesar 8 hingga 10 juta barel per hari dari pasar global.
Krisis ini memaksa pemerintah berbagai negara di Asia dan perusahaan penyulingan di Asia untuk segera mengevaluasi cadangan minyak nasional mereka.
Negara-negara pengimpor besar kini tengah mencari rute pengiriman dan sumber pasokan alternatif guna menjaga ketahanan energi domestik.
Analis dari Kpler menyebutkan bahwa negara seperti India kemungkinan besar akan meningkatkan ketergantungan pada minyak dari Rusia untuk menutupi potensi hilangnya pasokan dari Timur Tengah.
Sementara itu, para pemimpin di kawasan Teluk telah memperingatkan Washington bahwa konsekuensi dari perang ini bisa membawa stabilitas ekonomi dunia ke jurang resesi akibat harga energi yang tak terkendali.
Berita Terkait
-
Sejarah Bendera Merah di Masjid Jamkaran: Dari Balas Dendam Soleimani hingga Khamenei
-
Ayatollah Ali Khamenei Gugur, Ahlulbait Indonesia Gelar Doa 7 Hari: Perlawanan Tak Padam
-
Ali Khamenei Wafat, Kesederhanaan Sepatu dan Telapak Kakinya Dikenang Rakyat Iran
-
BREAKING: Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad Dilaporkan Tewas dalam Serangan Israel
-
Simbol Balas Dendam, Bendera Merah Berkibar di Masjid Jamkaran Usai Ali Khamenei Gugur
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
Terkini
-
Tak Cuma AS, Pemerintah RI Siapkan 'Karpet Merah' DHE SDA Eksportir Asing
-
Perkuat GCG dan Efisiensi, Pengamat Apresiasi Tata Kelola BUMN
-
Danantara Sumberdaya Indonesia Beroperasi, Pemerintah Masih "Buta" Soal Target Kinerja
-
DSI Resmi Kelola Ekspor Mulai 1 Juni, Ada Bocoran Peran Dirjen Bea Cukai
-
Belajar dari 'TikTok', Rugi di Pasar Modal: Bahaya Investasi Berbasis Tren Media Sosial
-
Bisnis Gerai Minuman di Tengah Tekanan Ekonomi, Ada yang Tutup dan Berkembang
-
IHSG Ambles Tapi Aset Emiten Melesat Rp94 Triliun, Ini Penyebabnya
-
Harga CPO Anjlok Pertengahan Tahun 2026, Kemendag Ungkap Penyebabnya
-
Rincian Aturan Baru Pajak UMKM: CV, Firma, dan PT Baru Kehilangan Fasilitas PPh
-
Harga Pangan Kian Meroket: Cabai Merah Besar Tembus Rp107 Ribu, Beras Ikut Naik