News / Internasional
Senin, 02 Maret 2026 | 14:11 WIB
Ilustrasi tentara yang mengoperasikan interceptor rudal di perang Iran vs Israel dan AS. (Gemini AI)
Baca 10 detik
  • Ketegangan Timur Tengah meningkat setelah serangan balasan Iran menyasar aset maritim vital di Selat Hormuz.
  • Stok rudal pencegat Amerika Serikat menipis drastis akibat fokus militer terbagi di berbagai konflik global.
  • IRGC Iran mengklaim telah menyerang tiga kapal tanker di Teluk Persia setelah kerusakan radar mahal AS di Bahrain.

"Dilihat dari gambar satelit, satu hal yang pasti: beberapa serangan rudal Iran menghantam target mereka, termasuk pangkalan Armada ke-5 AS," ucap Dandykin.

Keunggulan Iran terletak pada kesiapan mereka untuk perang jangka panjang, sementara sistem pertahanan AS dan Israel sudah sangat terkuras karena rata-rata harus menggunakan dua hingga tiga rudal pencegat hanya untuk menjatuhkan satu rudal Iran.

Kekacauan di Selat Hormuz ini jelas menjadi mimpi buruk bagi ekonomi dunia. Rusia memperingatkan bahwa gangguan pada lalu lintas maritim di jalur tersebut akan memicu ketidakseimbangan besar pada pasar energi global.

Moskow juga menuding bahwa selama ini AS hanya menggunakan jalur diplomasi nuklir sebagai kedok untuk menutupi persiapan operasi militer mereka.

Jika eskalasi ini terus berlanjut tanpa adanya deeskalasi yang nyata, bukan tidak mungkin wilayah perairan ini akan berubah menjadi kuburan bagi kapal-kapal tanker dan kapal perang yang terjebak dalam pusaran konflik.

Load More