- Penentuan suksesi Pemimpin Tertinggi Iran setelah Ayatollah Khamenei masih misterius dan sulit diprediksi publik.
- Tokoh senior memegang kekuasaan absolut penentuan suksesor, mirip proses pemilihan Paus di Vatikan.
- Pengganti Khamenei kemungkinan besar seorang ulama yang berasal dari pusat pendidikan teologis utama di Qom atau Mashhad.
Suara.com - Teka-teki mengenai siapa figur yang akan menduduki kursi Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan mendiang Ayatollah Ali Khamenei masih menjadi misteri besar.
Meski sejumlah nama mulai dibicarakan, proses penentuan posisi Pemimpin Tertinggi di Republik Islam Iran tersebut diprediksi akan penuh kejutan.
Mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran, Dian Wirengjurit, mengibaratkan dinamika pemilihan suksesi di Iran layaknya proses Konklaf atau pemilihan Paus di Vatikan.
Menurutnya, tidak ada satupun pihak yang bisa memastikan siapa yang akan terpilih hingga detik-detik terakhir pengumuman resmi.
"Seperti pemilihan Paus, sampai saat terakhir nggak ada yang bisa menerka. Bahkan tadi sudah sama-sama disinggung bahwa pada akhirnya, bisa saja keputusan itu keputusan yang dianggap oleh para atau masyarakat sebagai kontroversial,” ujarnya dalam salah satu stasiun televisi, pada Selasa (3/3/2026).
Lebih lanjut, Dian menjelaskan bahwa publik saat ini cenderung menerka-nerka kandidat berdasarkan faktor popularitas semata, termasuk santernya dukungan terhadap putra Khamenei (Mojtaba Khamenei).
Namun, ia mengingatkan bahwa di masa lalu, putra Ayatollah Ali Khamenei pun sempat digadang-gadang namun akhirnya tidak terpilih.
Kekuasaan absolut untuk menentukan Pemimpin Tertinggi Iran selanjutnya murni berada di tangan tokoh-tokoh senior.
Meski nama spesifik tidak bisa diprediksi, Dian memberikan satu indikator penting. Ia meyakini bahwa suksesor Khamenei kemungkinan besar merupakan ulama yang digembleng dari dua kota suci utama di Iran, yakni Kum atau Mashhad.
Baca Juga: Ribuan Warga Amerika Serikat Turun ke Jalan, Desak Trump Hentikan Serangan ke Iran
"Semua tempat di Iran itu memiliki Ayatollah-nya masing-masing. Hanya memang, dalam konteks negara Iran, orang memfokuskan pada dua kota, yang berasal dari Qom atau Mashhad," ujarnya.
"Karena itulah kota-kota suci di Iran dan tempat-tempat pendidikan penggemblengan seorang Ayatollah, yang mulai dari tahap bawah sampai tingkat Mullah, kemudian menjadi Ayatollah, dan menjadi Ayatollah senior,” tambahnya.
Analisis ini didukung penuh oleh Pengamat Timur Tengah, Pizaro Gozali. Menurut Pizaro, Iran adalah negara yang berdiri di atas basis teologis yang sangat kuat.
Memilih pemimpin dari Qom atau Mashhad adalah langkah strategis rezim untuk menjaga keberlangsungan ideologi negara.
"Pasti ada kemungkinan lebih besarnya pengganti Ali Khamenei itu akan berasal dari dua kota suci ini, karena ini juga untuk memastikan konsep Wilayat al-Faqih (kepemimpinan ulama atas negara) itu masih terus berjalan di Iran," tegasnya.
Pada akhirnya, bagi Dian Wirengjurit, perdebatan mengenai siapa nama pasti pengganti Khamenei bukanlah hal yang paling esensial.
Hal terpenting yang patut disoroti dunia adalah fakta bahwa siapapun yang terpilih nanti, sang suksesor dipastikan akan meneruskan doktrin politik dan perlawanan warisan pendahulunya. (Tsabita Aulia)
Berita Terkait
-
Ribuan Warga Amerika Serikat Turun ke Jalan, Desak Trump Hentikan Serangan ke Iran
-
AFC Tunda Jadwal Liga Champions Akibat Serangan AS dan Israel ke Iran Demi Lindungi Pemain
-
8 Masalah Paling Panas Piala Dunia 2026: Tiket dan Parkir Mahal hingga Perang AS-Iran
-
Masalah Baru Piala Dunia 2026: Hadiah dari FIFA Dianggap Tak Cukup Cuma Bikin Boncos
-
Bagaimana Iran Memilih Pemimpin Tertinggi? Ini Kandidat Pengganti Ali Khamenei
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Pelajar Palembang Viral Usai Pamer Revolver saat Konvoi, Ternyata Senpira Dibeli dari Facebook
-
Nama Bupati PALI Muncul di Kasus Suap Audit BPK, KPK Periksa Asgianto Sebagai Saksi
-
Kondisi Terbaru Gunung Semeru, Enam Kali Erupsi dalam Sehari dan Masih Berstatus Siaga
-
Detik-detik Narapidana Narkoba Diborgol Usai Bebas karena Remisi 17 Agustus, Ada Apa?
-
Dedi Mulyadi Sindir Birokrasi Minta Dihormati: Rapat Habis Puluhan Juta, Tapi Rakyat Tetap Menderita
-
Koreksi Data Pidato Presiden: 6 Fakta Realitas Hidup Susanah, Kuli Kain Majun Asal Cileungsi Bogor
-
Bantah Isu Pisah dari NKRI, Ini 6 Pesan Penting Sultan Banten ke-18 untuk Masyarakat
-
Penerbangan Langsung Palembang-Bandung Kembali Hadir, Ini Jadwal dan Harga Tiket Citilink
-
Oknum Petugas Bandara Terlibat Penyelundupan 22 Kg Emas Batangan
-
Mati Lampu hingga 4 Jam, Cek Daftar Wilayah di Palembang yang Terdampak Pemadaman PLN