- Inggris, Prancis, dan Jerman mendukung AS, siap mengambil tindakan militer terhadap sumber serangan Iran di Timur Tengah.
- Tindakan koalisi Barat memicu kekhawatiran global mengenai potensi perang yang lebih luas di kawasan Timur Tengah saat itu.
- Pakar menilai negara Barat akan ragu menyerang Iran kecuali jika Iran menunjukkan kelemahan signifikan dalam konfrontasi.
Suara.com - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kian memanas setelah Inggris, Prancis, dan Jerman dikabarkan mulai merapatkan barisan bersama Amerika Serikat.
Tiga kekuatan Eropa tersebut menyuarakan kesiapan untuk membantu AS, termasuk kemungkinan mengambil tindakan militer langsung ke sumber serangan Iran.
Sikap tegas ketiga negara Eropa itu merupakan respons atas gelombang serangan balasan yang diluncurkan oleh Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran ke sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah serta negara-negara Arab.
Langkah koalisi negara-negara Barat tersebut memicu kekhawatiran global akan terjadinya perang terbuka yang lebih luas di kawasan itu.
Menanggapi dinamika tersebut, dosen Hubungan Internasional FISIPOL Universitas Gadjah Mada, Muhadi Sugiono, memberikan pandangannya mengenai posisi geopolitik Iran yang dinilainya berbeda dibandingkan negara-negara di sekitarnya.
Menurutnya, identitas Iran di kawasan tersebut tidak bisa disamakan begitu saja dengan negara-negara tetangganya.
"Memang posisi Iran di negara Timur Tengah itu kan juga agak unik ya. Dia Timur Tengah, tapi bukan menjadi negara yang memiliki posisi sama dengan negara-negara Arab yang lain," kata Muhadi, Selasa (3/3/2026).
Lebih lanjut, Muhadi menyatakan keraguannya terhadap potensi terjadinya eskalasi besar-besaran yang melibatkan banyak negara untuk ‘mengeroyok’ Iran.
Ia menilai terdapat faktor kerentanan yang membuat negara-negara tersebut berpikir ulang untuk terlibat langsung dalam konflik fisik.
Baca Juga: Kedubes AS Diserang, Cristiano Ronaldo Tinggalkan Arab Saudi
"Cuma untuk mengeroyok Iran, kok saya tidak yakin ada eskalasi ke sana. Ada banyak hal, karena mereka sendiri juga sangat dalam posisi yang rentan," tuturnya.
"Jadi mereka juga sangat tergantung pada perkembangan yang ada sekarang ini gitu," lanjutnya.
Menurutnya, sikap negara-negara Eropa sangat bergantung pada hasil akhir konflik yang sedang berlangsung. Jika Iran terlihat lemah, negara-negara lain kemungkinan besar akan memilih tetap pasif dan tidak mengambil risiko politik maupun militer.
"Jadi kalau perkembangan yang sekarang ini kemudian Iran dengan mudah bisa ditaklukan, mereka tidak akan melakukan apa-apa gitu untuk bergabung dengan Amerika dan Israel," ucapnya.
Namun, situasi dapat berubah drastis apabila Iran mampu menunjukkan perlawanan yang signifikan. Dalam kondisi tersebut, potensi eskalasi yang lebih luas dinilai bisa benar-benar terjadi.
"Tetapi ketika Iran ternyata bisa bangkit dan kemudian melakukan retaliasi, ya itu mungkin eskalasi yang akan terjadi bisa berlangsung gitu," tambahnya.
Baginya, situasi saat ini masih sangat dinamis dan bergantung pada perkembangan di antara pihak-pihak yang bertikai.
"Tapi untuk sementara ini kita harus lihat perkembangan dari perang itu sendiri seperti apa," tandasnya.
Berita Terkait
-
Kedubes AS Diserang, Cristiano Ronaldo Tinggalkan Arab Saudi
-
Timur Tengah Membara, Bahlil Garansi Harga BBM Subsidi Gak Bakal Naik
-
OJK Keluarkan 3 Jurus Hadapi Ancaman Perang AS-Iran
-
Israel Gempur Teheran dan Beirut Secara Bersamaan, Hizbullah Balas Serang Pangkalan Militer
-
Di Balik Perang Melawan Israel dan AS, Iran Ternyata Punya 'Senjata' Otomotif Super Murah
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- PJJ Jakarta 18 Agustus 2026 Besok: Berlaku untuk Sekolah Negeri-Swasta, ASN Boleh WFH 50 Persen
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las
-
Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026
-
5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran
-
Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo
-
Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan
-
Perempuan Belanda Ini Kritik Pedas Pemain Keturunan Indonesia, Ada Apa?
-
Dari Paskibraka hingga Penerjun, Prabowo Jamu Petugas Upacara HUT RI di Hambalang
-
PHR Zona 4 Perkuat Budaya HSSE, Keselamatan Kerja Jadi Prioritas Operasi Hulu Migas
-
Bukan Klaim! KPK Punya Bukti Kerugian Negara Rp622 Miliar di Kasus Korupsi Kuota Haji
-
Tak Hanya Muara Enim! KPK Temukan Pola Lobi BPK Demi WTP di PALI dan Empat Lawang