News / Nasional
Kamis, 05 Maret 2026 | 19:27 WIB
Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Putri Zulkifli Hasan. (Suara.com/Bagaskara)
Baca 10 detik
  • Komisi XII DPR RI akan segera membahas ketahanan energi nasional dan cadangan BBM karena kondisi penyimpanan saat ini terbatas.
  • Kapasitas penyimpanan BBM Indonesia saat ini hanya mampu bertahan 21 hingga 25 hari, jauh dari standar internasional 60 hari.
  • Pembahasan ini respons terhadap ketidakpastian geopolitik global, terutama konflik yang mengancam jalur suplai minyak di Selat Hormuz.

Suara.com - Komisi XII DPR RI berencana segera menggelar rapat kerja guna membahas kondisi ketahanan energi nasional, khususnya terkait cadangan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang saat ini dinilai masih sangat terbatas.

Langkah ini diambil sebagai respons atas kondisi geopolitik global yang tidak menentu dan perlunya langkah antisipasi ketersediaan stok di dalam negeri. Terlebih adanya serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran.

Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Putri Zulkifli Hasan, mengungkapkan bahwa kekinian kapasitas penyimpanan (storage) BBM Indonesia hanya mampu bertahan kurang dari satu bulan.

"Iya, kemarin kita juga sudah menyaksikan ya, Pak Menteri juga sudah menyampaikan bahwa arahan langsung dari Bapak Presiden itu storage (penyimpanan) kita nanti akan diperbesar. Memang sekarang storage kita itu hanya cukup untuk 21 sampai dengan 25 hari," ujar Putri di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Putri menekankan pentingnya Indonesia mengejar standar internasional dalam hal cadangan energi. Menurutnya, kapasitas yang ada saat ini masih jauh dari kata ideal jika merujuk pada aturan dunia.

"Ya, kalau kita mengacu pada aturan internasional itu kan memang 60 hari. Nanti harapannya ke depan mudah-mudahan Indonesia bisa seperti itu," tegasnya.

Mengenai jadwal pembahasan di parlemen, Putri menjelaskan bahwa agenda rapat akan segera disusun begitu masa reses berakhir.

Komisi XII ingin memastikan rencana pembangunan infrastruktur penyimpanan energi, seperti yang sedang dijajaki di Provinsi Sumatera, dapat segera terealisasi demi swasembada energi.

"Kebetulan memang sekarang kan masa reses, sehingga para anggota masih di dapil (daerah pemilihan) masing-masing. Tapi nanti setelah dimulai masa persidangan, pasti akan segera diagendakan untuk membahas masalah ketahanan BBM ini," pungkasnya.

Baca Juga: Jalankan Instruksi Zulhas, Fraksi PAN DPR Gelar Aksi Sosial Selama Ramadan

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap alasan mengapa stok BBM nasional hanya berada di level 21 hari. Hal itu disebabkan kapasitas penyimpanan atau storage minyak nasional yang hanya mampu menampung cadangan untuk ketahanan maksimal selama 25 hari.

Hal ini diungkapkan di tengah kekhawatiran publik akan stok BBM nasional di tengah konflik di Teluk antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Akibat konflik itu pasokan minyak terhenti karena jalur utama perdagangan minyak di Selat Hormuz tak aman dilewati.

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang mengimpor minyak dari Teluk melalui Selat Hormuz. Bahlil mengatakan sekitar 19 persen kebutuhan minyak Indonesia atau sekitar 25,36 juta barel berasal dari Timur Tengah.

"Jangan salah persepsi. Memang sejak lama kemampuan storage kita tidak lebih dari 21-25 hari. Jadi standar nasionalnya minimal itu di 20-21 hari, maksimal 25 hari. Kami terakhir rapat sama Dewan Energi Nasional, dan Pertamina itu 22-23 hari," kata Bahlil kepada wartawan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Karena alasan tersebut, ketahanan minyak nasional tidak bisa berada di level lebih dari 25 hari.

Load More