- Anies Baswedan mendesak pemerintah menarik keikutsertaan Indonesia dari Board of Peace (BoP) pimpinan Donald Trump.
- Desakan muncul akibat agresi militer Trump dan Israel terhadap Iran, yang dinilai mencederai perdamaian dunia.
- Anies menekankan keikutsertaan di BoP bertentangan dengan amanat konstitusi dan prinsip diplomasi Bebas Aktif Indonesia.
Suara.com - Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, melontarkan kritik tajam terhadap langkah diplomasi Indonesia di panggung global.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya @aniesbaswedan, Anies mendesak agar pemerintah Indonesia segera menarik diri dari keikutsertaan dalam Board of Peace (BoP), sebuah dewan perdamaian yang dibentuk dan dipimpin oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Desakan ini disampaikan Anies menyusul serangan militer yang diperintahkan oleh Presiden Trump, bersama Israel, terhadap Iran baru-baru ini.
Menurut Anies, keikutsertaan Indonesia di dalam forum tersebut justru mempertanyakan komitmen bangsa terhadap perdamaian dunia yang adil.
"Apakah ini benar-benar jalan untuk perdamaian yang adil, atau kita sedang ikut melegitimasi ketidakadilan yang selama ini kita kecam?" ujar Anies dalam unggahan Instagramnya, dikutip Jumat (6/3/2026).
Anies menyoroti ironi dari BoP tersebut. Meski secara tertulis menjanjikan perdamaian, ketuanya sendiri justru melakukan agresi militer yang menelan korban jiwa hingga tingkat kepala negara.
Lebih fatal lagi, kata Anies, serangan tersebut dilakukan tanpa adanya mandat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tanpa ancaman nyata, dan di tengah proses negosiasi yang sedang menunjukkan kemajuan.
"Bagaimana mungkin dewan perdamaian itu bisa tetap berjalan seolah tak terjadi apa-apa, ketika pelopornya sendiri melanggar hukum internasional di depan mata dunia," tegasnya.
Dalam unggahannya, Anies juga mengingatkan kembali tentang konstitusi Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, di mana Indonesia berjanji untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Baca Juga: Prabowo Buka Bersama Ulama di Istana, Dapat Saran Keluar dari BoP
Ia menekankan bahwa Indonesia, sebagai pelopor Konferensi Asia Afrika (KAA) dan Gerakan Non-Blok, memiliki reputasi historis sebagai suara "Dunia Ketiga" yang selalu berani menuntut negara-negara besar untuk tunduk pada hukum internasional. Oleh karena itu, ia mengkritik keras pihak-pihak yang menyalah artikan prinsip politik luar negeri 'Bebas Aktif'.
"Bebas aktif bukan berarti asal ikut di semua meja. Bebas aktif adalah kewajiban memilih meja yang selaras dengan prinsip kita. Yaitu membela kedaulatan, menegakkan hukum internasional, dan membela korban penjajahan. Bukan malah memberi karpet merah pada pelakunya," ujarnya.
Anies menilai bahwa momentum agresi ke Iran ini harus digunakan oleh pemerintah Indonesia untuk mengambil sikap tegas dengan keluar dari BoP.
Ia menyebut bahwa mundur dari dewan tersebut bukanlah bentuk sikap anti-perdamaian, melainkan bentuk kesetiaan pada nurani bangsa dan penolakan terhadap forum yang menutup mata atas pelanggaran hukum internasional.
Sebagai penutup, Anies melemparkan pertanyaan retoris yang menggugah kesadaran publik terkait warisan diplomasi Indonesia di mata dunia.
"Apakah kita rela menukar warisan The Spirit of Bandung dengan simbol keikutsertaan di sebuah dewan perdamaian yang bahkan tak sanggup menyandang namanya sendiri? Kita perlu pikirkan secara serius," ungkapnya.
Berita Terkait
-
Momen Donald Trump Justru Puji Cristiano Ronaldo di Depan Lionel Messi Langsung
-
Di Tengah Panasnya Isu Perang, Lionel Messi Sambangi Donald Trump di Gedung Putih
-
Prabowo Buka Bersama Ulama di Istana, Dapat Saran Keluar dari BoP
-
Perang AS-Israel vs Iran Berpotensi Meluas, Pakar Sebut Piala Dunia 2026 Pasti Ditunda
-
Fatwa Ayatollah Ali Khamenei soal Senjata Nuklir: Haram!
Terpopuler
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Surabaya
- Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
- Profil dan Biodata Anis Syarifah Istri Bos HS Meninggal Karena Kecelakaan Moge
- PP THR dan Gaji 13 Tahun 2026 Diumumkan, Ini Jadwal Cair dan Rincian Lengkapnya
- Selat Hormuz Milik Siapa? Jalur Sempit Banyak Negara Tapi Iran Bisa Buka Tutup Aksesnya
Pilihan
-
Iran Tutup Pintu Negosiasi, Dubes: Kami Bereskan Musuh di Medan Perang
-
Fatwa Ayatollah Ali Khamenei soal Senjata Nuklir: Haram!
-
KPK Ungkap ART Fadia Arafiq Jadi Direktur PT RNB, Diduga Alat Korupsi Rp13,7 Miliar
-
Dua Hari Lalu Dinyatakan Gugur, Eks Presiden Iran Ahmadinejad Masih Hidup
-
Skandal Saham BEBS Dibongkar OJK: Rp14,5 Triliun Dibekukan, Kantor Mirae Asset Digeledah!
Terkini
-
Sisi Gelap Fast Fashion: Industri Fesyen Penyumbang 10 Persen Emisi Global, Apa yang Bisa Dilakukan?
-
Waspadai Sikap Ngawur Donald Trump, Pakar UGM Sarankan Diplomasi Halus Terkait Ide Keluar dari BoP
-
Ikut Terima Uang, Suami dan Anak Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Akan Dipanggil KPK
-
AHY Bicara ke Gen Z: Kota Boleh Global, Tapi Harus Tetap Berakar pada Identitas Lokal
-
Investasi Emas Digital Kian Diminati Generasi Muda, Pegadaian Perkuat Layanan Lewat Integrasi PRIMA
-
Gejolak Timur Tengah Jadi Sorotan! IKA-PMII Undang Wamenkeu Bahas Dampak Ekonomi Nasional
-
Gus Yahya Yakin Presiden Prabowo Punya Modal Kuat Jadi Mediator Konflik Timur Tengah
-
Nasib Warga Iran di Tengah Serangan AS-Israel
-
Lawan Judol & Hoaks, Indonesia Layangkan Peringatan Keras ke Meta
-
Kemensos dan PT Pos Targetkan Penyaluran Bansos Bencana Sumatra Tuntas Sebelum Lebaran