- Pengusiran Abu Janda dari acara TV memicu sorotan akademisi mengenai kegagalan etika demi sensasionalisme media.
- Televisi kerap memilih narasumber kontroversial untuk mendongkrak rating, mengabaikan solusi atau edukasi pemirsa.
- Penyelenggara siaran wajib memfilter narasumber dan mengendalikan host agar tidak memicu perbincangan publik kasar.
Suara.com - Insiden pengusiran pegiat media sosial Permadi Arya atau Abu Janda dari sebuah acara televisi nasional menuai sorotan tajam dari kalangan akademisi.
Pengamat media sekaligus dosen FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Lukas S. Ispandriarno, menilai peristiwa tersebut mencerminkan kegagalan televisi dalam menjaga etika publik demi mengejar sensasionalisme.
"Jadi saya kira televisi saat ini barangkali lebih terdorong untuk mengejar semacam sensasi ya. Sensasi yang menimbulkan kegaduhan, hal-hal yang kontroversial. Bahkan sampai pada aksi-aksi mengusir, kata-kata yang buruk, begitu kan," kata Lukas saat dihubungi Suara.com, Kamis (12/3/2026).
Lukas menengarai pemilihan narasumber yang kerap memicu perdebatan panas merupakan strategi media untuk mendongkrak rating.
Namun, ia menyayangkan jika nilai berita yang mengandung unsur konflik justru digunakan hanya untuk mempertajam perpecahan, tanpa memberikan solusi atau edukasi bagi pemirsa.
"Jadi memang kalau kita belajar dari nilai-nilai berita, konflik itu lalu menjadi utama. Tapi kemudian dilupakan apakah konflik itu membantu melahirkan solusi, mengarah kepada solusi, atau justru malah semakin menajamkan konflik," tuturnya.
Menurut Lukas, televisi seharusnya tidak perlu menunggu munculnya perilaku kasar atau ucapan buruk dari narasumber kontroversial untuk melakukan evaluasi.
Ia mengingatkan kembali insiden masa lalu ketika seorang narasumber menyiramkan teh saat siaran langsung. Peristiwa itu seharusnya menjadi pelajaran bagi pengelola stasiun TV dalam menentukan kelayakan seseorang untuk tampil.
"Apakah harus menunggu seperti itu? Kalau dalam kasus Abu Janda mengeluarkan kata-kata yang jelek lalu baru ditolak untuk tampil lagi, tapi kan tidak perlu menunggu sampai ke situ," ucapnya.
Baca Juga: Viral Lagi Foto Abu Janda Doa di Tembok Ratapan, Banjir Hujatan: Ngakunya Sangat Islam
Selain melakukan filter terhadap narasumber, peran pembawa acara atau host juga menjadi poin krusial. Lukas menilai banyak host saat ini justru diberikan keleluasaan untuk memancing suasana menjadi lebih panas demi menarik minat penonton.
Lukas pun mengkhawatirkan dampak jangka panjang jika gaya komunikasi konfrontatif tanpa basis data terus dipertontonkan.
Bagi masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah, tayangan semacam itu justru dapat menjauhkan mereka dari etika perbincangan publik yang sehat dan edukatif.
"Jadi harusnya penonton di wilayah-wilayah yang tingkat pendidikannya kurang itu dididik untuk bisa bersikap edukatif, menghargai etika dalam perbincangan publik, dalam media publik. Jadi tidak menampilkan suasana yang mungkin seperti di jalanan," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Pembiayaan UMKM, Dukung Target 100.000 Sultan Muda Sumsel
-
Intimidasi Satpam MRT Usai Terobos Lampu Merah, 3 Polisi Arogan Polda Jabar Di Patsus 21 Hari
-
Polres Tangsel Buka-bukaan Soal Kasat Narkoba dan 6 Anggotanya Diringkus Bareskrim Polri
-
Cegah Ledakan Sampah Saat Kemarau, DLH dan Damkar Tangsel Kolaborasi Semprot TPA Cipeucang
-
Hattrick Mewah Mitchell Baker Bawa Indonesia Bantai Kamboja 5-1 di Piala AFF 2026
-
Pendaki Gunung Dempo yang Bikin Geger karena Senapan Angin Berhasil Dievakuasi
-
Hasil Akhir: Awal Sempurna Piala AFF 2026, Timnas Indonesia Gasak Kamboja 5-1
-
Akademisi Binus: Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Bernilai Besar, Penanganannya Tak Boleh Istimewa
-
Tren Belanja Parfum Berubah, Pengalaman Mencoba Aroma Kini Jadi Daya Tarik
-
Bukan Sekadar Cantik, Makeup Kini Dituntut Praktis dan Nyaman Dipakai Seharian