-
Perang nuklir 2026 mengancam tewasnya miliaran manusia akibat ledakan dan kelaparan global.
-
Musim dingin nuklir akan menutupi matahari dan menghancurkan ketahanan pangan di dunia.
-
Sebagian besar populasi di Amerika Serikat dan Eropa terancam hilang akibat kiamat nuklir.
Suara.com - Ketegangan yang melibatkan kekuatan militer besar Iran, Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah kini memicu kekhawatiran global yang mendalam, salah satunya perang nuklir.
Potensi terjadinya konfrontasi senjata pemusnah massal pada tahun 2026 diprediksi semakin nyata bagi banyak pihak.
Situasi memanas ini merupakan buntut dari operasi udara gabungan antara Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Tehran.
Insiden yang terjadi pada akhir Februari tersebut dilaporkan telah merenggut nyawa pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Langkah militer drastis ini diambil karena Washington merasa sangat terancam dengan perkembangan teknologi nuklir milik Iran.
Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth, memberikan penjelasan resmi mengenai alasan di balik serangan udara tersebut.
Ia menyampaikan pandangan pemerintahannya melalui wawancara eksklusif dengan CBS News pada akhir pekan yang lalu.
Pete Hegseth mengungkap kepada CBS News akhir pekan kemarin bahwa Presiden Trump melihat program nuklir Iran sebagai ancaman jangka panjang yang akan terus berkembang jika tidak dihentikan.
Pernyataan ini menegaskan bahwa langkah preventif diambil guna memutus rantai pengembangan senjata yang dianggap membahayakan tersebut.
Baca Juga: Iran Serukan Perlawanan Total: Blokir Selat Hormuz, Siap Harga Minyak Tembus USD 200
Namun, dampak dari eskalasi ini diperkirakan akan membawa konsekuensi yang jauh lebih mengerikan bagi peradaban.
Penelitian terbaru yang dirilis dalam jurnal ilmiah Nature mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai skala kehancuran perang nuklir.
Bahkan konflik berskala kecil sekalipun memiliki kemampuan untuk merenggut nyawa miliaran penduduk di seluruh penjuru bumi.
Ledakan dahsyat yang dihasilkan akan melepaskan jelaga dalam jumlah masif ke lapisan atmosfer paling tinggi.
Partikel hitam ini kemudian akan menghalangi sinar matahari masuk ke permukaan bumi dalam waktu yang lama.
Kondisi inilah yang dikenal oleh para ilmuwan sebagai fenomena musim dingin nuklir yang sangat mematikan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Pembiayaan UMKM, Dukung Target 100.000 Sultan Muda Sumsel
-
Intimidasi Satpam MRT Usai Terobos Lampu Merah, 3 Polisi Arogan Polda Jabar Di Patsus 21 Hari
-
Polres Tangsel Buka-bukaan Soal Kasat Narkoba dan 6 Anggotanya Diringkus Bareskrim Polri
-
Cegah Ledakan Sampah Saat Kemarau, DLH dan Damkar Tangsel Kolaborasi Semprot TPA Cipeucang
-
Hattrick Mewah Mitchell Baker Bawa Indonesia Bantai Kamboja 5-1 di Piala AFF 2026
-
Pendaki Gunung Dempo yang Bikin Geger karena Senapan Angin Berhasil Dievakuasi
-
Hasil Akhir: Awal Sempurna Piala AFF 2026, Timnas Indonesia Gasak Kamboja 5-1
-
Akademisi Binus: Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Bernilai Besar, Penanganannya Tak Boleh Istimewa
-
Tren Belanja Parfum Berubah, Pengalaman Mencoba Aroma Kini Jadi Daya Tarik
-
Bukan Sekadar Cantik, Makeup Kini Dituntut Praktis dan Nyaman Dipakai Seharian