- Perubahan rezim di Iran sulit tercapai tanpa intervensi darat masif, menguatkan posisi kekuasaan mereka saat ini.
- Terdapat keretakan strategi antara AS dan Israel, fokus Washington pada ekonomi versus fokus Tel Aviv pada militer.
- Eskalasi konflik memicu kenaikan harga bensin di AS sebesar 60 sen, memaksa pelepasan cadangan minyak strategis.
Suara.com - Eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini memasuki fase yang semakin rumit dan mengkhawatirkan bagi stabilitas ekonomi dunia.
Di tengah dentuman rudal dan serangan udara, realitas pahit mulai muncul ke permukaan: harapan untuk melihat perubahan rezim di Teheran dalam waktu dekat hanyalah angan-angan kosong.
Analisis intelijen dan laporan terbaru menunjukkan bahwa tanpa intervensi militer darat yang masif, kekuasaan di Iran tetap kokoh.
Bahkan, mengutip Middle East Monitor, Presiden AS Donald Trump sudah memberikan waktu satu pekan ke depan agar partnernya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, untuk menyelesaikan perang.
Sebab, mengutip sumber yang sangat memahami dinamika Timur Tengah menyebutkan, perubahan rezim di Teheran tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat.
Hal ini dikarenakan skenario tersebut "akan memerlukan agresi militer darat atau terdapat protes sipil berskala besar. Tapi keduanya tak mungkin terjadi saat ini."
Ketangguhan struktur kekuasaan di Iran ini menjadi hambatan besar bagi agenda koalisi AS-Israel yang awalnya memprediksi keruntuhan cepat pemerintahan Teheran.
Perpecahan Visi Washington dan Tel Aviv
Di balik persatuan militer di lapangan, keretakan strategis mulai terlihat antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Baca Juga: Krisis Landa Banyak Negara, Prabowo: Rakyat Harus Tenang, Kita Masih Punya Kekuatan dan Kemampuan
Keduanya memiliki prioritas yang sangat berbeda dalam memandang konflik ini.
Washington saat ini berada dalam tekanan domestik yang luar biasa karena dampak ekonomi, sementara Israel tetap fokus pada penghancuran infrastruktur militer lawan.
Sumber internal menyatakan, pemerintahan AS terutama khawatir tentang dampak konflik terhadap harga minyak dan ekonomi global.
Sebaliknya, Israel mengklaim operasi militernya telah mencapai keuntungan yang signifikan secara taktis di lapangan.
Perbedaan cara pandang ini membuat strategi jangka panjang koalisi menjadi bias dan tidak sinkron, terutama dalam menghadapi ketahanan ekonomi yang mulai rapuh.
Laporan dari Politico semakin memperkeruh suasana, dengan mengungkapkan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump belum melakukan penilaian menyeluruh tentang konsekuensi konflik dengan Iran ketika pertama kali melancarkan konfrontasi tersebut.
Berita Terkait
-
Krisis Landa Banyak Negara, Prabowo: Rakyat Harus Tenang, Kita Masih Punya Kekuatan dan Kemampuan
-
Ancaman Trump ke Iran di Piala Dunia 2026 Disorot, Jurnalis Uruguay Ungkit Kasus Indonesia
-
Joget Gemoy Trump Disamakan dengan Kaisar Nero, Netizen: Di Sini Pemimpinnya Juga Suka Joget
-
Mengenal 'Pasukan Siluman' Unit NOPO, Sang Penjaga Nyawa Mojtaba Khamenei
-
Rp320 Juta vs Rp3 M! Drone Iran Bikin Pusing AS, Robot Anjing Polri Buat Netizen Geleng-geleng
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
-
Sempat Hilang Kontak, Ain Karyawan Kompas TV Meninggal dalam Kecelakaan KRL di Bekasi
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
-
Korban Kecelakaan KRL Vs KA Argo Bromo Bertambah, AHY: 15 Jiwa Meninggal dan 88 Orang Luka-Luka
-
'Kakak Saya Belum Bisa Dihubungi', Pilu Keluarga Cari Korban Kecelakaan KRL di Bekasi Lewat Medsos
Terkini
-
Terungkap! Ini Isi Proposal Damai Iran yang Bikin Donald Trump Meradang
-
KPK Dalami Uang USD 1 Juta di Kasus Dugaan Suap Pansus Haji DPR RI
-
Bima Arya Tekankan Efisiensi dan Sinergi sebagai Motor Penggerak Ekonomi Daerah
-
Gus Ipul Usul Perluasan Bansos untuk Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi
-
Ketum TP PKK Tekankan Peran Strategis PKK dan Posyandu di Papua Selatan
-
KAI Refund 4.878 Tiket Imbas Kecelakaan di Bekasi, Jamin Ganti Rugi 100 Persen
-
Forum PWNU Desak PBNU Gelar Muktamar Paling Lambat Agustus 2026, Ini Alasannya
-
Pusdokkes Polri Ungkap Kondisi Korban Kecelakaan Kereta Bekasi, Alami Multipel Trauma Parah
-
Buku Kriminalisasi Kebijakan Ungkap Bahaya Pasal Karet UU Tipikor: Bisa Picu Krisis Kepemimpinan
-
Penanganan Sampah jadi Prioritas Nasional, Prabowo Optimis Banyumas Capai Target Zero Waste to Money